Terimakasih Kepada Pengendara Tak Bernama
Terimakasih
kepada pengendara tak bernama. Meski bunyi bel kendaraan disana sini menggema,
terimakasih sebab engkau dahulukan pejalan kaki yang membawa anak dalam
gendongnya. Malam yang kelam, kau rem motormu di jalan Padjadjaran,
mempersilakan pejalan kaki yang kebingungan menyeberang sebab zebra cross berfungsi hanya sebagai pajangan.
Meski mobil di belakangmu tak sabar dan mengklaksonmu berkali kali, terimakasih
karena engkau tak gagap dan mempersilakan yang jalan kaki untuk melangkah
dengan berani. Kulihat pakaianmu lusuh dengan sepeda motor tahun lama, tapi
nyatanya hatimu adalah kesediaan mengalah, dan itu melebihi segalanya.
Terimakasih
kepada pengendara tak bernama, yang melihat zebra
cross bukan hanya pajangan semata, yang minggir teratur untuk menjauhi
marka, yang tak egois untuk berusaha menjadi utama dalam posisi yang bukan
haknya. Terimakasih sudah tahu sebab hak di jalan bukan hanya hak yang punya
kendaraan, karena berkatmu yang tahu aturan, ibu-ibu yang membawa sayuran bisa
lewat tanpa melompati roda kendaraan. Berkatmu yang taat aturan, anak-anak
sekolah pun bisa meneladani lewat perbuatan yang engkau lakukan. Berkatmu yang
taat aturan, semua pengendara mendapatkan tempatnya untuk lewat di jalan. Berkatmu,
kami tahu bahwa jalan mencerminkan sila Keadilan.
Terimakasih
kepada mobil box tua yang setia menunggu kala menyeberang di jalan Cisitu. Betapa
payah mengendarai mobil di jalan Cisitu, namun kau dengan sabar mengantri untuk
menyeberang, tidak menyerobot ke jalanan. Terimakasih karena tanpa kesabaran untuk
mengantri, apa jadinya Indonesia nanti. Semakin riuh saja kendaraan yang lalu
lalang memadati jalan, hingga kemacetan terjadi disana-sini. Terimakasih karena
berkat kesabaranmu aku jadi tahu, ada orang baik yang tersebar di berbagai
penjuru, sebab di jalan, teman bisa saja saingan, kawan menjadi kesetanan
akibat kemacetan.
Terimakasih
kepada pengendara tak bernama, orang-orang sekitar yang peduli jika ada
marabahaya kecelakaan. Tak pernah kubayangkan di negara India, Kanhaiya Lal
meminta bantuan atas istri dan anak perempuan yang masih bayi, tergelepar di
jalan tanpa mendapat pertolongan. Apakah hati manusia semakin apatis melihat
gadgetnya? Ataukah memang budaya membantu sesama telah berubah menjadi
keegoisan semata. Tak kubayangkan berita itu sampai di telinga kita, dari
negara bagian India Utara, apakah kata “membantu” begitu tabu?
Terimakasih
untuk truk sampah yang mengingatkan kami, yang lewat di jalan ramai, membawa
bau semerbak aroma kebusukan. Ironis memang, tapi nyatanya, kita lupa bahwa
kita menjauhi sampah, tapi tak pernah melulu mengurusinya dengan serius. Ironis
ketika truk sampah yang apa adanya membawa banyak muatan dengan bak terbuka,
hingga tercecer di jalanan menuju lokasi pembuangannya. Sampah adalah wajah
kita ke depan, generasi selanjutnya akankah mewarisi sampah kita? Atau kita
akan mewariskan peradaban kepada anak cucu kita?
Terimakasih
untuk kendaraan yang tahu artinya dilarang parkir dan dilarang berhenti, begitu
mahalkah uang yang dibayarkan untuk parkir dalam sehari? Hingga sepanjang
Eyckman selalu ada kejadian ban mobil yang digembok dinas perhubungan dan
polisi. Apakah kita lupa budaya jalan kaki, atau kita mulai tak bisa
meninggalkan kendaraan saban hari. Apa yang kita wariskan nanti: Budaya
mengendarai tanpa tahu aturan di sekitar atau kita mau mewariskan peradaban
yang elegan; sebagai pengendara yang taat aturan. Silakan pilih sendiri.
Terimakasih
untuk pemimpin yang menyuruh kami menaiki angkot, tapi beliau kemana mana
selalu memakai mobil dinas dengan klakson yang membuat telinga sekarat. Kami
rakyat hanya menanyakan, dan mengkonfirmasi, bagaimana perasaan orang-orang
yang terpinggirkan, mengendarai angkot dengan kaki tertekuk selama berjam-jam
dalam kemacetan, dengan ongkos yang melambung tinggi tak karuan. Apakah kami
tak berhak mendapatkan fasilitas yang gratisan? Atau memang kami tak diijinkan
mendapat fasilitas, setelah berlembar biaya pajak telah kami bayarkan?
Terimakasih
kepada para pejabat yang tak melulu memakai sirine di tengah kemacetan. Kami
yang selalu kau lewati tanpa kau pandang sedikitpun, akan secara legowo memberi jalan. Bukan tentang
pengamanan maupun hak eksklusif di jalanan, namun rasanya tak adil jika ada
Ambulance yang lewat jalan Cirangrang tak diberi jalan, sedangkan posisinya
lebih membutuhkan pertolongan. Apakah artinya klakson-klakson itu? Lengkingannya
semakin membuat haru, sedangkan pejabat dan pemimpin selalu ada di kaca mobil
gelap, tanpa tahu beban apa yang menghimpit rakyat dari segenap penjuru.
Terimakasih
kepada petugas lalu lintas yang menilang kami dengan sungguh-sungguh, yang tak
pandang bulu kami berpangkat apa, kami anggota apa dan kami anak siapa.
Terimakasih, sebab darimu kami tahu masih ada petugas jujur yang tak bisa
seenaknya diatur. Kalaupun hukum kata orang berpihak keatas, kami jadi lega
karena kami ditilang bukan karena kami bukan siapa-siapa, tapi karena kami
memang melanggar di jalanan Soekarno Hatta. Karena hukum hanyalah alat,
siapapun bisa menegakkannya dengan cermat, atau malah menggunakannya untuk
kepentingan pribadi secara sesaat.
Terimakasih
telah membangun jembatan penyeberangan seadil-adilnya, secermat-cermatnya tanpa
ada penyelewengan dana, tanpa ada tambalan proposal disini maupun disana.
Terimakasih para konstruktor dan para kontraktor karena tidak menghamba pada
harta. Denganmu kami tahu, sebuah bangunan yang rubuh adalah kegagalan suatu
sistem yang utuh. Lalu siapa yang jadi korban selain kami, para buruh?
Terimakasih sebab darimu kami tahu, arti pertanggungjawaban itu.
Terimakasih
untuk jalan yang dibangun atas dasar cinta, yang tak melulu dibangun di
kota-kota. Terimakasih telah merencanakan untuk membangun jalan sampai ke
pelosok desa, agar rasa sayang dan cinta itu semakin tersebar merata, bahwa
kami rakyat merasa diperhatikan oleh pemimpinnya dari Sabang sampai ke
Merauke. Terimakasih buat semua
pengendara yang baik hatinya, yang mematuhi aturan sebaik baiknya, terimakasih
buat semua orang yang tak bisa disebutkan namanya, akan selalu ada hikmah dan
pembelajaran bagi kita semua. Karena jalan adalah simbol pembangunan, simbol
budaya dan simbol peradaban yang akan kita wariskan kepada generasi
selanjutnya. #LombaEsaiKemanusiaan
Suasana di dalam Damri Bandung, 4 Januari
2016
Kemacetan di
jalan raya Kopo Sayati 9 januari 2016
Comments
Post a Comment