Iman ataukah sekedar romantisme?
Darimana
iman turun ke duania? Dari mata turun ke hati? Dari cinta tumbuh menjadi benci?
Atau dari lali merambat ke matahari. Dan kembali pada sunyi. Tak ada jawaban.
Begitupun romantisme yang profane, yang terjadi pada fanatisme empit ang mengisi ruang dan waktu pada
kesementaraan. Iman tidak pernah malu bersuara dalam kelas-kelas teologi. Baik
itu masa dewasa atau ketika kelas itu hadir lebih dini saat bermain hompimpa.
Seperti yang ditunjukkan oleh Ibu melalui tutur yang berulangkali. Iman belum
tamat jadi semacam lingkaran yang melingkupi memoir di waktu kecil. Smakin
merapat, mengikat tubuh menjadi semacam tali. Kemdian sedikit mengekang meski
ia bukan undang-undang pasti. Dan menjadi label ketika manusia mengeluarkaan
pemikirdekan. Meski pada mulanya, tak henti bersuara dalam diamnya bahwa ia
teriliki oleh keuniversalitas nya semata, pada kata –percaya-.
![]() |
| ilustrasi Iman ataukah sekedar romantisme oleh Niken Bayu Argaheni |
Adakah iman
itu pernah sesekali mati dan hidup kembali? Saya pernah bertanya pada teman
terdekat. Pertanyaan sederhana, “Iman itu apa?” ia hanya diam dan memandang
pada saya, “kenapa pertanyaannya seperti itu?” agak ragu-ragu kemudian
memutuskan untuk tidak menjawab. Kebanyakan orang, seperti teman saya itu,
menanggapi dengan serius pertanyaan dari saya, -secara kasat mata- dan secarra indra, akan dihubungkan dengan
yang tidak bisa dihubungkan dengan perkara terlihat, mudah ditebak, dan bukan
rahasia. Iman dalam definisi awam, adalah seakralitas yang masing-masing
individu yang tak terdeteksi dan individu tersebut perlu untuk mempertanyakan
lebih jauh pada hati. Tak lupa juga perlu menggali lebih dalam. Pada kata
–seberapa jauh ia meyakini, individu ini, yang secara kasat mata adalah teman
saya sendiri pun memilih untuk undur diri dan memilih pergi. Kalau
begitu, apa bedanya imanyang tersirat dan yang tersurat?

Comments
Post a Comment