Posts

Showing posts with the label opini

Negeri Penitip Doa-Doa

            Saya masih ingat bagaimana saya melakukan do’a yang sangat penting dalam hidup saya. Saya masih ingat peristiwa itu terjadi ketika saya kelas lima Sekolah Dasar, dimana kami satu kelas mengadakan wisata ke Candi Borubudur di Magelang. Bagi saya, momentum kepergian saya ke tempat wisata adalah hal yang sakral, mengingat itu adalah pertama kalinya saya harus pergi keluar kota, jauh pula. Bisa dibayangkan, saya yang kecil, yang menempati bus sangat besar serta duduk di sebelah jendela, dimana saya bisa melihat bus besar lainnya lewat di dekat saya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat ngeri bagi saya yang merupakan anak kecil pada waktu itu. Saat itulah saya mengucapkan do’a yang sederhana, agar saya selamat sampai ke obyek wisata hingga saya kembali ke rumah. Saya selalu ingat wejangan Ibu saya, agar berdoa sendiri, tidak perlu dititipkan, katanya, “Berdoa sendiri lebih mudah, dan langsung mengena, tidak usah dititip...

APA KABAR SWASEMBADA?

" Ada dua bahaya rohani ketika manusia tidak memiliki sebuah lahan pe rtanian . Salah satunya adalah bahaya mengandaikan bahwa sarapan berasal dari bahan makanan , dan lainnya panas yang berasal dari tungku . " ( Aldo Leopold ). Kisah sukses pembangunan seakan berakhir pada momen swasembada. Setelah swasembada, sektor pertanian banyak bermasalah dan mengalami keterbelakangan struktural karena kesalahan kebijakan yang berpihak pada industri dan jasa. Selama melewati beberapa generasi , pertanian di negeri ini menetap ke dalam pola dan siklus kerja yang sama. Sektor pertanian butuh rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Membangun sektor pertanian tidak dapat dilakukan secara sambilan, tapi perlu serentak, melibatkan beberapa pendukung penting seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan, dan   pengembangan sumberdaya manusia. Yang sering dilupakan oleh pemerintah adalah penguatan ...

Memaknai Kesehatan Diri

Setiap berbicara mengenai hari kesehatan nasional, saya selalu teringat dengan sinetron Sayekti dan Hanafi. Di sinetron itu tergambarkan sebuah sketsa betapa tak bermoralnya rumah sakit kita. Seorang Sayekti yang bekerja sebagai buruh gendong dihadapkan pada permasalahan yaitu ia harus membayar biaya anaknya yang tak terjangkau. Sang bayi terpaksa ditahan di rumah sakit sebelum biaya pengobatannya lunas. Kisah yang dibesut pleh sutradara Irwinsyah dan di remark oleh Hanung Baramantyo itu merupakan kisah fiktif, namun relitas yang diangkat adalah sesuatu yang faktual. Jika diadakan riset, barangkali nama-nama Hanafi lainnya akan bermunculan. Kisah pilu dunia kesehatan di negeri ini tak hanya terlihat dalam dunia Sayekti. Warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supiono misalnya, harus membopong mayat Nur Khaerunnisa anak kandungnya sendiri dari rumah sakit lantaran tak mampu membayar sewa ambulance .             Pertanyaan mendasa...

Masyarakat Dalam Masa Peralihan

Memang lumrah kalau masyarakat dalam proses peralihan dan pembaharuan itu mengejawantahkan kejutan-kejutan mental, sebab tidak senantiasa proses termaksud berlangsung luwes dan tenang; dalam proses peralihan dan pembaharuan itu tidak mustahil pula berubahnya pantangan dan larangang menjadi anjuran dan teladan.             Norma-norma social cenderung untuk kehilangan keseragaman; sebaaliknya, warna-warna termaksud menampilkan keanekaragaman. Masyarakart cenderung untuk melibatkan dalam suatu keadaan heteronomy. Dinamika masyarakat sendiri ingin menoklak statisme yang menghambat inovasi dan kreasi   walaupun yang bersifat eksperimen yang mengandung rresiko.             Dalam tahun-tahun mendatang, mungkin dalam beberapa dasawarsa lagi, masalah-masalah yang akan mendesak dalam tata hidup masyarakat Indonesia adalaha apa yang yang timbul sebagai akibat dan konsekuensi...