Negeri Penitip Doa-Doa
Saya masih ingat bagaimana saya
melakukan do’a yang sangat penting dalam hidup saya. Saya masih ingat peristiwa
itu terjadi ketika saya kelas lima Sekolah Dasar, dimana kami satu kelas
mengadakan wisata ke Candi Borubudur di Magelang. Bagi saya, momentum kepergian
saya ke tempat wisata adalah hal yang sakral, mengingat itu adalah pertama
kalinya saya harus pergi keluar kota, jauh pula. Bisa dibayangkan, saya yang
kecil, yang menempati bus sangat besar serta duduk di sebelah jendela, dimana
saya bisa melihat bus besar lainnya lewat di dekat saya. Sungguh suatu
pengalaman yang sangat ngeri bagi
saya yang merupakan anak kecil pada waktu itu. Saat itulah saya mengucapkan
do’a yang sederhana, agar saya selamat sampai ke obyek wisata hingga saya
kembali ke rumah. Saya selalu ingat wejangan Ibu saya, agar berdoa sendiri,
tidak perlu dititipkan, katanya, “Berdoa sendiri lebih mudah, dan langsung
mengena, tidak usah dititipkan ke orang lain, bisa salah alamat!”
Lain halnya pengalaman saya, lain
halnya fenomena akhir-akhir ini dimana do’a begitu mudah dititipkan pada
seseorang. Saya masih ingat setelah membaca sebuah buku yang melukiskan suasana
saat seseorang memanjatkan do’a di Mekkah, “Saat
khotbah wukuf dan doa dibacakan, seluruh tubuhku bergetar. Setelah bersimbah
air mata semalam, masih ditambah lagi dengan banjir air mata hari ini. Diri ini
menjadi begitu kerdil dengan segala kelemahan dan kehinaan diri.”
(Dian Nafi, Miss Backpacker Naik Haji). Kira-kira seperti itulah penggambaran doa yang dipanjatkan di Mekkah. Tak terbayangkan bagaimana kesibukan orang-orang dalam menunaikan ibadah haji –mempersiapkan tabungan, menyiapkan dokumen penting untuk keberangkatan, manasik haji terlebih dahulu, memeriksakan kesehatan, tasyakuran, menerima tamu yang menitipkan doa, sampai pelepasan dari rumah, kabupaten dan di embarkasi oleh saudara-saudara dan teman dekat-. Kesibukan tersebut meninggalkan kekhusyukan yang tak terkira.
(Dian Nafi, Miss Backpacker Naik Haji). Kira-kira seperti itulah penggambaran doa yang dipanjatkan di Mekkah. Tak terbayangkan bagaimana kesibukan orang-orang dalam menunaikan ibadah haji –mempersiapkan tabungan, menyiapkan dokumen penting untuk keberangkatan, manasik haji terlebih dahulu, memeriksakan kesehatan, tasyakuran, menerima tamu yang menitipkan doa, sampai pelepasan dari rumah, kabupaten dan di embarkasi oleh saudara-saudara dan teman dekat-. Kesibukan tersebut meninggalkan kekhusyukan yang tak terkira.
Ketika kita
berdoa sendiri, ada hal-hal yang tak bisa kita wakilkan oleh orang lain: air
mata. Kita tak dapat menitipkan air mata pada orang lain yang menjadi
perwakilan dimana kita memberikannya sedekah sebesar seratus ribu rupiah.
Menangis adalah cara alami manusia untuk mendekatkan kebenaran. Menangis
berarti mengenal kebenaran mengenai diri kita, masa lalu dan kesalahan yang ada
pada diri kita, meskipun kebenaran itu seringkali tidak menyenangkan bagi kita.
Sebuah tangisan ada kalanya membuktikan sesuatu, bahwa kita menemui kebenaran
dan menemui diri kita sendiri tanpa perlu bersembunyi. Ketika menangis, kita
melihat dengan jelas kemelaratan kita, alasan kita dan maksud kita yang kurang
murni. Ketika kita menangis, kita kita kehabisan kata, dan tak dapat lagi
menerangkan apa yang salah dengan diri kita, apa yang tidak bisa kita raih, apa
yang kita sesali sebelumnya.
Saya selalu mengingat dengan jelas pesan
dari Ibu saya, agar melantunkan doa sendiri, tanpa menitipkannya kepada orang
lain. Sebab dalam doa, kita tahu, kita
hanya debu” ― Goenawan Mohamad.
Comments
Post a Comment