Memaknai Kesehatan Diri



Setiap berbicara mengenai hari kesehatan nasional, saya selalu teringat dengan sinetron Sayekti dan Hanafi. Di sinetron itu tergambarkan sebuah sketsa betapa tak bermoralnya rumah sakit kita. Seorang Sayekti yang bekerja sebagai buruh gendong dihadapkan pada permasalahan yaitu ia harus membayar biaya anaknya yang tak terjangkau. Sang bayi terpaksa ditahan di rumah sakit sebelum biaya pengobatannya lunas. Kisah yang dibesut pleh sutradara Irwinsyah dan diremark oleh Hanung Baramantyo itu merupakan kisah fiktif, namun relitas yang diangkat adalah sesuatu yang faktual. Jika diadakan riset, barangkali nama-nama Hanafi lainnya akan bermunculan. Kisah pilu dunia kesehatan di negeri ini tak hanya terlihat dalam dunia Sayekti. Warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supiono misalnya, harus membopong mayat Nur Khaerunnisa anak kandungnya sendiri dari rumah sakit lantaran tak mampu membayar sewa ambulance.
            Pertanyaan mendasar dari apa yang saya khawatirkan adalah: “Kenapa obat saja yang harus dibuat lebih murah? Kenapa bukan diterapkan hidup sehat, sehingga jumlah orang yang butuh obat menjadi sedikit?” Dengan begitu, negara takkan pusing memikirkan subsidi biaya obat secara besar-besaran lantaran jumlah orang sakit telah turun drastis. Cara pandang ini bisa jadi tak popular di kalangan para tenaga kesehatan. Pandangan iu sama saja mengajak dokter dan rumah sakit makin sepi. Pandangan ini mengingatkan kita pada Eijiro Saito  yang dijadikan tokoh sentral dalam komik Jepang yang bertajuk Say Hello to Black Jack karya Syuhu Sato. Sato adalah dokter lulusan fakultas kedokteran terbaik di Jepang, yaitu universitas Eroku. Lewat petualangannya, Eijiro Saito mampu bertutur tentang kotornya dunia medis Jepang.
            Upaya preventif, meskipun tidak popular, merupakan langkah penting daripada menunggu pemerintah mengeluarkan dana lebih besar untuk kampanye penanggulangan demam berdarah, flu burung atau penyakit lainnya. Sehat bisa dimulai dari diri sendiri. Cara pandang itu gampang dipahami masyarakat awam, cara pelaksanaanya pun cukup mudah, tak perlu kursus berhari-hari. Cara pandang ini berbeda dengan kondisi ketika kita masuk ke ruang praktik dokter. Oleh Karena itu, kita seringkali menjadi semakin sakit, tidak kunjung sembuh gara-gara dokter tidak mau memberikan solusi yang sederhana dan bisa dipraktekkan siapa saja. Maka, masalah kesehatan tak hanya sekedar masalah kesehatan, ia telah menjelma menjadi masalah moral jika kita berniat mengatasinya.
            Sehat itu murah. Lawan pengertiannya adalah sakit itu mahal. Hal ini berlaku di negeri ini dimana belum ada sistem asuransi kesehatan yang meluas dan banyak. Program pemerintah yang terbatas itupun masih dikonsentrasikan pada perawatan penyakit dan penyembuhan. Padahal, bidang fokus yang strategis adalah perawatan kesehatan. Maksudnya adalah menjaga orang sehat agar tetap sehat. Kalau orang sudah terlanjur sakit, penyembuhannya pasti mahal. Kalau orang per orang menjaga diringa sendiri, maka kesehatan itu bermakna murah, malah minim biayanya. Untuk menjaga kesehatan, modal yang diperlukan bukanlah uang, tetapi pengetahuan. Bahwa seperti sebuah kalimat, yang saya baca, kesehatan bukan segala-galanya, akan tetapi segala-galanya bukan apa-apa tanpa kesehatan. Kesehatan adalah modal dan investasi untuk mengisi hidup ini agar punya arti bagi diri sendiri, keluarga dan dunia sekitar kita.
            Di setengah kehidupan kita mengorbankan kesehatan untuk mendapatkan uang. Di setengah lainnya kita mengorbankan uang kita untuk mendapatkan kembali kesehatan kita (F.M. Voltaire). Berinvestasi sehat berarti harus ada upaya pemeliharaan tubuh salah satunya. Ongkos perawatan kesehatan tidak lebih mahal dari mereparasinya bila sudah dibiarkan terlanjur sakit. Dalam hidup, keseharian kita tak selalu mungkin mampu mengelak dari ancaman lingkungan yang serba tidak sehat. Sanitasi yang tidak higienis, udara yang terpolusi bibit penyakit, ratusan gas di udara yang kita hirup dan bahan kimiawi berbahaya di air dari comberan, sungai yang tercemar bibit penyakit, bagian terbesar dari lingkungan yang jauh lebih rumit untuk disingkirkan. Tidak semua yang berada di lingkungan dapat kita atasi. Begitu juga dengan liarnya aneka bibit penyakit di udara, sungai, lautan, permukaan tanah, yang tak mungkin bisa dienyahkan. Maka, hanya dengan memperkuat tubuh saja satu-satunya pilihan yang paling tepat untuk menangkalnya. Kebersihan diri adalah kunci pembukanya. Dari manfaat sekedar mencuci tangan saja sudah membebaskan kita dari kemungkinan terserang puluhan jenis penyakit. Sebut saja aneka penyakti perut, tifus, kolera, disentri, hepatitis, cacingan, sekian jenis flu dan penyakit kulit. Dengan kebersihan diri, ongkos untuk berobat akibat terserang salah satu penyakit yang sebetulnya bisa dicegah itu bisa kita hemat. Sekadar ongkos berobat untuk penyakit diare gara-gara jemari tangan tidak dicuci bersih sebelum makan atau memeagang suatu makanan misalnya, sudah berdampak mengurangi anggaran dapur. Sebaiknya, ketika penyakit gagal dicegah, untuk menjadi sehat kembali tidak lagi murah. Maka, kebiasaan hidup bersih (cuci tangan pakai sabun), mandi dengan bersih, sebuah investasi hidup sehat juga.
            Perilaku manusia (human behavior) menempati tempat yang penting dalam proses manajeman. Perencanaan yang bagus tidak jarang terbentur dan gagal setelah sampai pada tahap pelaksaanaan, karena faktor manusia yang secara cermat tidak diperhitungkan dalam proses perencanaan. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait kelompok manusia, akan tetapi pelayanan kesehatan menyangkut tiga elemen pokok, yaitu kelompok penyelenggara pelayanan kesehatan, (health provider misalnya dokter dan perawat), kelompok penerima jasa pelayanan kesehatan (para konsumen), serta kelompok yang ketiga, yang secara tidak langsung terlibat, misalnya para administrator.  Mungkin kurang disadari bahwa salah satu sifat dari pelayanan kesehatan adalah mahal. Infrastruktur pelayanan kesehatan selalu memerlukan tenaga yang banyak (labour intensive). Disamping itu, teknologi yang digunakan pun semakin meningkat.
            Dikenal istilah nuclear medicine yang sedikit banyak menunjukkan betapa tinggi teknologi yang digunakan dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, di Amerika Serikat pelayanan kesehatan selalu cenderung  meningkat lebih tinggi dari segi biaya dibanding dengan barang-barang konsumsi lainnya bahkan melampaui angka-angka inflasi. Kecenderungan ini sudah tentu akan berlaku juga di negara-negara lainnya. Sifat khusus lainnya adalah bahwa pelayanan kesehatan banyak bersifat pribadi dan demikian hubungan dokter. Tarif periksa pasien memang sukar untuk dirasionalkan, ini berakibat harga dari pelayanan kesehatan sukar diukur dengan tarif jual beli bagi barang-barang dagangan. Karena itu, dalam menentukan harga tadi akan lebih dapat dirasionalkan melalui pihak ketiga yang dikenal sebagai badan asuransi kesehatan.
            The law of medical money yaitu hukum yang mengatakan, berapapun jumlah uang yang disediakan untuk pelayanan kesehatan akan habis, mengingat kebutuhan medis dari para konsumen dan kemajuan dari para konsumen dan keinginan dari para health provider untuk menyelenggarakan tingkat pelayanan itu akan selalu disesuaikan dengan uang yang tersedia, demikian juga tersedianya infrastruktur kesehatan. Maka, tersedianya rumah sakit secara berlebihan, ternyata berakibat makin banyaknya orang yang dirawat di rumah sakit. Demikian juga makin berlebihnya fasilitas yang lainnya, maka penggunaan pelayanan kesehatan akan makin sering, sehingga biaya pemeliharaan kesehatan makin meningkat. Inilah yang menimbulkan kecenderungan yang disitir oleh Ivan Illich, yaitu jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh dunia kedokteran itu sendiri.
Di luar negeri, P.M. Margareth Tratcher pernah diberitakan memperoleh rekomendasi dari para stafnya untuk mengubah keadaan secara drastis system kesehatan nasionalnya. Alasannya adalah karena masalah pembiayaan yang semakin dirasakan berat. Juga di negeri Belanda diberitakan sejumlah 8000 tempat tidur rumah sakit ditutup untuk lebih mengintensifkan tempat tidur.
            Profesi kedokteran yang dianggap punya nilai sosial dan kemnausiaan yang tinggi itu tidak didukung oleh system yang mendorong pelaksanaannya, sehingga pelayanannya juga didorong oleh mekanisme pasar. Maka yang terjadi adalah berlakunya hukum dagang dengan segala baik buruknya. Tuntutan masyarakat yang berlebihan ini tercermin pula dari kurangnya pengunjung ke Puskesmas karena masyarakat lebih banyak mengunjungi praktek dokter swasta, lebih puas pergi ke dokter ahli daripada dokter umum. Hal-hal inilah yang juga mengurangi kecemerlangan prangai dan peranan dokter sebagai fungsi sosial. “Pekerjaan dokter adalah baik, pekerjaan pedagang adalah juga baik, tetapi kombinasi kedua-duanya tidak baik.”
            “Dengan memperbaiki institusi-institusi kesehatan dan dengan mengadakan program-program baru, kita memang bisa membuat pelayanan kesehatan lebih merata dan lebih efisien, tetapi potensi terbesar untuk memperbaiki derajat kesehatan masyarakat terletak pada apa yang diperbuat oleh masyarakat itu sendiri sehubungan dengan kesehatan (Victor Fuchs, 1986).
            Kesehatan merupakan konsep yang sering digunakan tetapi artinya sulit dijelaskan. Meskipun demikian, kebanyakan sumber ilmiah sepakat bahwa definisi kesehatan apapun harus mengandung paling tidak komponen biomedis, personal dan sosiokultural (Smet, 1994). Bagi masyarakat umum, kesehatan dapat hanya berarti “tidak sakit”.
Lalu apa sebenarnya sakit? Kesakitan (illness) sangat berkaitan dengan penyakit (disease), tetapi kedua istilah tersebut menunjukkan suatu perbedaan mendasar. Kesakitan menyangkut personal, interpersonal serta kultural terhadap penyakit atau perasaan kurang nyaman. Sedangkan penyakit adalah gangguan fungsi atau adaptasi dari proses biologis dan psikologis pada seseorang.
            Persepsi individu tentang sehat dan merasa sehat sangat bervariasi dan dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan, nilai dan harapan-harapan dalam hidupnya. Di samping itu, pandangan mengenai sehat tergantung pada apa yang akan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan kebugaran yang mereka perlukan untuk menjalankan peran yang mempengaruhi persepsinya (Ewles dan Simnett, 1994). Menurut WHO (1947) definisi kesehatan secara luas tidak hanya meliputi aspek medis, tetapi juga aspek mental dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
            Tidak hanya terbebas dari gangguan secara fisik, mental dan sosial, tetapi kesehatan dipandang sebagai alat atau sarana untuk hidup secara produktif. Pandangan sehat-produktif telah banyak diterima dan dianut oleh negara maju.
           

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712