APA KABAR SWASEMBADA?
"Ada dua bahaya rohani ketika manusia tidak memiliki
sebuah lahan pertanian. Salah satunya adalah bahaya mengandaikan bahwa
sarapan berasal dari bahan
makanan, dan lainnya panas yang berasal dari tungku. " (Aldo Leopold).
Kisah sukses pembangunan seakan berakhir pada momen swasembada. Setelah
swasembada, sektor pertanian banyak bermasalah dan mengalami keterbelakangan struktural
karena kesalahan kebijakan yang berpihak pada industri dan jasa.
Selama melewati beberapa generasi, pertanian di negeri ini menetap ke dalam pola dan siklus kerja yang
sama. Sektor pertanian butuh rekonstruksi, reposisi, dan revitalisasi dalam
pembangunan ekonomi Indonesia. Membangun sektor pertanian tidak dapat dilakukan
secara sambilan, tapi perlu serentak, melibatkan beberapa pendukung penting
seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan,
dan pengembangan sumberdaya manusia. Yang
sering dilupakan oleh pemerintah adalah penguatan birokrasi dan modal sosial yang
menjadi faktor vital. Dampak langsung berupa peningkatan kesejahteraan petani
dari investasi publik seperti itu memang tidak akan terlihat dalam waktu satu
atau dua tahun atau bahkan satu periode pemerintahan, tetapi investasi tersebut
akan menuai hasil pada jangka panjang bersamaan dengan peningkatan
produktivitas dan efisiensi di sector pertanian umumnya.
Petani tidak aman untuk bertanam. Stimulasi ekonomi pedesaan
hendaknya dicanangkan pemerintah dengan membangun infrastruktur seperti jalan
produksi, jalan desa, saluran irigasi, dan drainase yang begitu vital bagi
keberlangsungan produksi pertanian. Namun sekarang, kenyaataan yang terjadi
tidak seperti dalam teori. Kesalahan pemerintah
ada pada posisinya yang tidak menempatkan petani sebagai subyek paling penting,
dan harus dilindungi dalam percaturan ekonomi global yang semain keras.
Kebijakan ekonomi dan upaya proteksi yang dimaksudkan untuk melindungi petani
seperti kebijakan pelarangan impor beras, tata niaga impor gula, pengenaan
pajak ekspor kakao dan minyak sawit mentah –CPO, ternyata masih jauh dari
sasaran. Alih-alih bermanfaaat bagi petani dan sektor pertanian, kebijakan
tersebut menimbulkan distorsi ekonomi lanjutan karena hasilnya dinikmati orang
lain, kelompok diluar petani.
Berbeda dengan filosofi Marxisme-Leninisme dimana kaum perkotaan dianggap
sebagai sumber utama revolusi dan daerah pedesaan diabaikan, Mao memusatkan
perhatian pada kaum buruh-tani sebagai kekuatan revolusioner yang utama. Lebih
jauh, di mana pembangunan industri besar-besaran dipandang sebagai suatu
kekuatan positif, Maoisme menjadikan pembangunan pedesaan keseluruhan sebagai
prioritasnya. Mao merasa bahwa strategi ini masuk akal di masa tahap-tahap awal
sosialisme di sebuah negara di mana kebanyakan rakyatnya adalah buruh-tani. Model
ini akhirnya mengantarkan PKT ke tampuk kekuasaan.
Lain dengan Maoisme, lain dari Marxisme-Leninisme, pertanian Indonesia
sebenarnya mengandung filosofi sendiri, terutama masyarakat
Jawa. Filosofi itu yang ada pada alat untuk bertani yaitu cangkul. Cangkul adalah salah satu alat yang merupakan senjata
para petani. Senjata ini digunakan para petani untuk mengolah lahan pertanian. Mengingat
wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga terhadap Ki Ageng Sela, cangkul itu terdiri
dari 3 bagian. Ketiga bagian tersebut adalah pacul (bagian yang tajam
untuk mengolah lahan pertanian), bawak (lingkaran tempat batang doran),
dan doran (batang kayu untuk pegangan cangkul).
Menurut wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga, sebuah pacul yang lengkap,
tidak akan dapat berdiri sendiri-sendiri. Ketiga bagian tersebut harus bersatu
untuk dapat digunakan oleh petani. Pacul memiliki arti ngipatake barang kang
muncul. Artinya, menyingkirkan bagian yang tidak rata. Dari alat pacul
tersebut setidaknya bisa diartikan bahwa kita sebagai manusia harus selalu
berbuat baik dengan menyingkirkan sifat-sifat yang tidak baik, seperti ego yang
berlebih, menang sendiri dan sifat-sifat jelek lainnya yang dikatakan 'tidak
rata'. Bawak memiliki arti obahing awak. Arti obahing awak adalah
gerak tubuh. Maksudnya adalah bahwa kita sebagai manusia diwajibkan untuk
berikhtiar mencari rezeki dari Tuhan guna memenuhi kebutuhan hidup. Doran memiliki
arti dongo marang Pengeran, ada
juga yang mengartikan ojo adoh marang Pengeran. Arti dongo marang
Pengeran adalah doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Filosofi cangkul tersebut
bisa saja menguap dalam masyarakat karena lemahnya sistem pertanian dalam
negara Indonesia. Tantangan untuk membangun pertanian tersebut berhubungan
dengan ketidakmampuan birokrasi dan para pejuang sektor pertanian untuk
meyakinkan para wakil rakyat dan penentu alokasi anggaran negara, baik di pusat
maupun di daerah, untuk memberikan dukungan penuh pada revitalisasi pertanian.
Sektor pertanian dikatakan hidup kembali bila pendapatan petani
telah meningkat dan kesejahteraannya membaik. Indikator ini merupakan perpaduan
antara angka kuantitatif berupa berkurangnya angka-angka kemiskinan, dan angka
kualitatif berupa rumusan kebijakan yang seluruhnya mengacu pada posisi sektor
pertanian dalam kebijakan pembangunan ekonomi. Sebagian besar dari kelompok
petani miskin adalah pertanian pangan, suatu ironi yang membuat miris mengingat
kelompok petani inilah yang sangat berjasa bagi pembangunan pertanian dan
pembangunan ekonomi Indonesia selama ini. Mengutip Masanobu
Fukuoka, “Ketika dipahami
bahwa seseorang kehilangan sukacita
dan kebahagiaan dalam upaya untuk
memiliki dan mengolah lahan, esensi dari pertanian alami akan terwujud. Tujuan utama dari pertanian bukan hanya ketika tidak tidak tumbuh tanaman, tetapi budidaya dan
kesempurnaan manusia. "
Comments
Post a Comment