Masyarakat Dalam Masa Peralihan


Memang lumrah kalau masyarakat dalam proses peralihan dan pembaharuan itu mengejawantahkan kejutan-kejutan mental, sebab tidak senantiasa proses termaksud berlangsung luwes dan tenang; dalam proses peralihan dan pembaharuan itu tidak mustahil pula berubahnya pantangan dan larangang menjadi anjuran dan teladan.
            Norma-norma social cenderung untuk kehilangan keseragaman; sebaaliknya, warna-warna termaksud menampilkan keanekaragaman. Masyarakart cenderung untuk melibatkan dalam suatu keadaan heteronomy. Dinamika masyarakat sendiri ingin menoklak statisme yang menghambat inovasi dan kreasi  walaupun yang bersifat eksperimen yang mengandung rresiko.
            Dalam tahun-tahun mendatang, mungkin dalam beberapa dasawarsa lagi, masalah-masalah yang akan mendesak dalam tata hidup masyarakat Indonesia adalaha apa yang yang timbul sebagai akibat dan konsekuensi ikhtiar-ikhtiar pembaharuan umumnya. Pelaksanaan pembangunan sebagaimana dilaksanakan sekarang ini, yakni berencana misalnya, memaksa kit auntuk tidak sekedar merubah kondisi yang ada agar menjadi lebih baik. Membangun secara berencana mengandung implicit bahwa apa yang kita pilih sebagai ikhtiar pembangunan itu sekaligus memuat unsure-unsur pembaruan. Ini berarti bahwa kita tidak semestinys hsnya menyusuri jalur proses-proses social yang telah dilakukan masyarakat-masyarakat yang kini telah maju dan berhasil meninggalkan status keterbelakangannya, melainkan kita harus mengutamakan prakarsa-prakarsa pembaharuan (innovative) sehingga status ketertingggalan bisa kita makin dipersempit, seandainya tiada mungkin untuk mengejarnya secara mneyeluruh.
            Tanpa pemikiran yang inovatif, maka kecenderungan untuk sekedar menempuh rsegala fase perkembangan yang telah dijalani masyarakat-masyarakat lainnya itu tidak akan bersifat repetisi-repetisi elaka dan membuat kita apriori tertinggal terus. Dalam ketertiggalan perkembangan social (khususnya dalam arti materiil dan fisik). Kita harus pandai dan mempunyai wawasan untuk memanfaatkan yaitu dengan untuk tidka menguolang apa-apa yang salah dan tidak baik pada mereka yang sudah mendahului kita. Lebih dari itu, kit apun harus pandai mengelak untuk dipaksakan menampung dan meniru apa yang segera akan menjadi usang di dalam sesuatu masyarakat maju. Kita belum lagi bicara tentang perlunya evaluasi keadaan kita sendiri, yang oleh kekhususannya yang kulturil tidak akan memungkinkan kita begitu saja mengambil alih apalagi menjiplak segala yang berasal dari kebudayaan mancanegara.

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712