Kepada: Presiden Republik Indonesia
Sebuah Surat Untuk Hari-hari di Masa Depan. (Surat ini saya tulis
ketika lampu listrik di sekitar Ngoresan, Jebres, Surakarta mati total.
Tepatnya pukul 16. 35. Lalu, saya teringat akan sosok Bapak, yang seperti oase
yang muncul di tengah padang kering dan tandus. Andalah lampu itu, Bapak. Yang
semoga tidak akan padam menyuarakan kebenaran.)
Tenun lingkaran
di sekelilingnya tiga kali,
Dan tutup matamu dengan ketakutan suci
Karena dia telah diberi makan embun madu
Dan minum susu Surga
(Marco Polo, 2007)
Kecepatan. Cepat (lekas). Detik demi detik waktu
berlalu. Manusia membutuhkan kecepatan untuk sampai pada tujuannya dan
cita-citanya. Maka, ibarat waktu, manusia akan tertinggal jika tak bergerak
cepat. Bergerak secepat mungkin, seefisien mungkin.
Anggota dewan bisa saja dengan enaknya melalui jalur
jalan yang tidak macet dengan dikawal oleh banyak ajudan, dengan mobil mewah
dan suasana di dalam mobil yang sejuk. Sedangkan rakyat, hanya bisa memimpikan
hal itu. Alih-alih bermimpi, membeli nasi saja sudah kepayahan.
Rakyat adalah pribadi kawula alit, dengan
kehidupan serba ngirit dan penghasilan sedikit. Rakyat mengiba, namun kadang
penguasa bertindak seenaknya. Betapa tragisnya, ketika kepemimpinan dilalui
selama ini hanya mengandalkan ketenaran tanpa memikirkan rakyat yang
terpinggirkan. Rakyat membutuhkan teladan, seorang sosok yang bisa dianut oleh
banyak orang. Bukan hanya sosok yang selalu cerewet mengenai dirinya sendiri.
Simpati akan muncul dari sakyat, jika pemimpinnya berani menjaga martabat dan
menjadi sosok yang terhormat.
Ada sebuah kisah yang merupakan kisah keteladanan,
tentang seorang Umar bin Khattab, yang berani mengingatkan bawahannya, yaitu
sang gubernur. “Wahai Amr Bin Ash, Setinggi tingginya kekuasaan seseorang,
suatu saat dia akan mati dan harus melepaskan semua kekuasaannya… Berakhir
menjadi seonggok tulang. Bertindaklah lurus dan adil dalam memimpin, karena
jika engkau berbelok sedikit saja dari amanah yang telah diberikan kepadamu,
maka aku akan meluruskanm, menghukummu dengan pedangku”
Memimpin tidak hanya menjalankan amanat, melainkan juga
berani mengkritik jika salah, berani menerima kritikan jika kritikan itu
membangun, dan berani menegakkan keadilan dan meluruskan kebenaran. Tak banyak
pemimpin yang berani mengkritik secara nyata.
Kisah teladan lainnya datang dari Menteri di Korea
Selatan yang bertanggung jawab atas layanan energi, Choi Joong-kyung, yang
mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Lee Myung-bak. Hal itu dikarenakan
Choi merasa malu atas kasus mati lampu massal yang sempat meresahkan sebagian
rakyat. Hal itu bisa kita contoh, sebab apa yang dilakukan seorang menteri
adalah komitmennya yang tetap bertanggungjawab dalam menjalankan amanah yang
dibebankan kepadanya dan tidak menyia-nyiakannya.
Atau seperti presiden Fernando Lugo Mendez, yang bukan
konglomerat atau politisi bergelimang harta namun mempunyai keteguhan hati
untuk menolak mendapat gaji selaku Presiden Paraguay, yang diumumkannya pada
malam sebelum pelantikannya. Keputusan Lugo ini adalah keputusan besar di dunia
politik, sepanjang sejarah demokrasi di jagat raya ini. Sendirian dia melawan
arus besar yang berlaku di semua negara, dan secara otomatis menolak serta
kesempatan memperkaya diri dan kelompok.
Rakyat akan selalu menyukai pemimpin yang pro rakyat dan
tidak memihak. Sosok yang didamkan adalah yang bisa memberi teladan, sebab
negeri ini sudah penuh sekali kata-kata yang tak didengar oleh penguasa.
Kata-kata yang akan selalu membuat rakyat menjadi terjepit dan menuntut ketidakadilan.
Rakyat bukan musuh, sesungguhnya rakyat tak suka membuat rusuh. Hanya hati
nurani yang bersih saja yang akan mampu membawa Indonesia menuju kesuksesan,
menuju kemajuan. Maka, berjanjilah kepada rakyat, untuk senantiasa mengemban
amanah dengan sungguh-sungguh. Sebab rakyat Indonesia menunggu, untuk sebuah
perubahan menuju era baru.
Comments
Post a Comment