Ketika Perempuan (Harus) Memilih
Perjuangan untuk hak suara perempuan adalah gerakan reformasi
sosial, ekonomi dan politik untuk memberi wanita hak memilih. Pada 1866 Isle of
Man menjadi parlemen nasional pertama yang memberi hak pilih kepada wanita,
diikuti oleh Wyoming Territory pada 1869. Koloni Kepulauan Pitcairn memberi hak
pilih kepada wanita pada 1838. Negara-negara yang masih belum mengizinkan
wanita untuk memilih adalah:
Lebanon
Brunei
Arab Saudi
Uni Emirat Arab
Vatikan
1. Negara
terbaik bagi politisi wanita: Rwanda
Wanita memegang 45 dari 80 kursi parlemen di
Rwanda, satu-satunya tempat wanita memegang suara mayoritas. Negara Belize,
Oman, Qatar, Arab Saudi tak memiliki satupun wakil wanita dalam parlemen,
sementara parlemen AS, 93 dari 539 kursi di Kongres dipegang wanita.
Gelombang feminisme kedua atau gerakan pembebasan wanita gelombang
kedua di Amerika Serikat adalah sebuah istilah yang mengacu pada periode waktu
kegiatan feminis tahun 1960-an awal hingga akhir tahun 1980-an akhir. Bilamana
gerakan feminis pertama bergerak terutama di bidang penghapusan
hambatan-hambatan hukum dalam kesetaraan gender (misalnya hak suara dan hak
milik), gelombang kedua feminisme membahas berbagai isu: ketidakadilan de
facto, ketidakadilan dalam hukum, seksualitas, keluarga, tempat kerja, dan
hak-hak reproduksi.
Gelombang feminisme kedua datang sebagai tanggapan terhadap
pengalaman-pengalaman perempuan setelah Perang Dunia II. Era ledakan ekonomi
pasca-perang pada akhir tahun 1940-an --suatu zaman lebih dikenal oleh
pertumbuhan ekonominya yang belum pernah terjadi sebelumnya, ledakan kelahiran,
perluasan pinggiran kota, dan kemenangan kapitalisme-- menyuburkan model
keluarga patriarkal.
Model kehidupan macam itu dikampanyekan oleh media pada waktu itu;
sebagai contoh acara televisi Father Knows Best dan Leave It to Beaver
mengidealkan kerumahtanggaan, menempatkan perempuan dalam lingkup tertutup di
mana mereka hanya diharapkan untuk memenuhi peran ibu rumah tangga dan istri.
Simone de Beauvoir dalam bukunya The Second Sex memeriksa gagasan
yang menyatakan bahwa perempuan adalah gender "lain" di masyarakat
patriarkal. Ia kemudian menyimpulkan bahwa kerangka berpikir laki-laki diterima
sebagai standar dalam masyarakat dan fakta bahwa perempuan dapat melahirkan,
menyusui, dan mengalami menstruasi bukan suatu alasan atau penjelasan mengapa
perempuan menjadi "gender kedua"
Pada tahun 1963, dalam buku larisnya The Feminine Mystique, Betty
Friedan secara langsung menentang pencitraan tradisional perempuan oleh media,
dan ia menunjukkan bahwa menempatkan perempuan di rumah dan membatasi
kesempatan bekerja mereka adalah penyia-nyiaan bakat dan potensi yang besar.
Gambaran keluarga konjugal sempurna yang dikampanyekan dengan kuat pada saat
itu, ia menulis di bukunya, tidak mencerminkan kebahagiaan dan malah agak
merendahkan bagi perempuan. Buku ini secara luas dianggap telah memulai
gelombang feminisme kedua.
Pada awal tahun 1980-an, secara luas dianggap bahwa perempuan telah
mencapai tujuan mereka dan berhasil dalam mengubah sikap masyarakat Amerika
terhadap peran gender, mencabut undang-undang yang diskriminatif terhadap
perempuan, termasuk mengubah rasio jenis kelamin di institusi-institusi yang
dulu didominasi oleh kaum laki-laki seperti akademi militer, ketentaraan, NASA,
universitas khusus laki-laki, klub-klub khusus untuk pria, mahkamah agung, dan
melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin di tempat kerja.
Gelombang feminisme kedua sangat sukses, dengan satu kekurangan
besar di bidang hukum yaitu gagalnya upaya ratifikasi Amandemen Persamaan Hak
(Equal Rights Act). Upaya untuk meratifikasi itu terus diupayakan, dan sekarang
21 negara bagian kini memiliki ERA dalam konstitusi hukum negara bagian mereka.
Selain itu, banyak kelompok feminis yang masih aktif dan merupakan kekuatan
politik besar. Hari ini, perempuan mendapatkan gelar Magister lebih banyak
daripada laki-laki,[12] jumlah perempuan dalam pemerintahan dan bidang
pekerjaan yang dulu didominasi oleh laki-laki telah meningkat secara dramatis,
dan pada tahun 2009 persentase perempuan dalam angkatan kerja Amerika Serikat
pernah melampaui persentase laki-laki.[13] Gaji rata-rata wanita Amerika juga
telah meningkat dari waktu ke waktu, meskipun pada 2008 baru mencakup 77% dari
gaji rata-rata laki-laki. Apakah ini karena diskriminasi merupakan sebuah topik
yang diperdebatkan; kelompok feminis bersikeras bahwa memang karena itu.
Karena apa pun
jenis kelamin bukan hukuman tapi sebuah anugerah agung dari maha agung yakni
Allah SWT. Keseimbangan perlu dibina, perbedaan harus disyukuri, dan keadilan
tentunya mutlak ditegakkan. Seperti sebuah adagium : pria bagai jarum dan
wanita adalah magnet yang selalu mempunyai daya tarik yang luar biasa kuatnya.
Mengutip kata-kata Simone De Beauvoir (feminis tulen) nyang nulis
buku second sex bilang :….perempuan bukan merupakan tiruan laki-laki yang tak
berguna, melakinkan merupakan tempat yang mempesona di mana aliansi yang hidup
antara laki-laki dan alam semesta dihadirkan. Jika perempuan lenyap,laki-laki
akan sendirian, orang asing tanpa paspor dalam dunia yang membeku. Ia adalah
bumi itu sendiri yang diangkat menuju kehidupan tinggi, bumi menjadi peka dan
senang; dan tanpa dirinya, bagi laki-laki bumi terasa SUNYI dan MATI…..
Comments
Post a Comment