IADB - Padang dalam Puisi
Puisi Niken Kinanti
NIKEN KINANTI,
kelahiran 1990. Tinggal di kota Solo. Menyukai jalan-jalan dan
menjelajah ke tempat baru. Bergiat di komunitas Bengkel Sastra
Cawe-cawe.
Seorang tua menanyakan pada anaknya, “Apa arti kota buatmu?”
Anak
berkalung tembaga, mengipasi tubuhnya. Jemari tak lagi jadi puisi. Kali
telah hilang, melanglang dari otak menelusuri koma-koma. Urat tangannya
telah mengakar. Seperti pohon mahoni yang ia setubuhi dengan gergaji.
Anak berkalung tembaga, apakah masih mengingat ibunya? Anak berkalung
tembaga, meracau selama seratus hari setelah malam meniadakan
keberterimaannya pada cahaya. Tubuhnya tergetar sesekali karena langit.
Dari biru menjadi abu. Asap-asap meningkahi selusur kali. Anak berkalung
tembaga mencoba melepas sematnya setelah petang datang, dan mengiba
pada tubuhnya. Kenapa hidupnya menghamba pada beton, pada baja? Mematahi
pohon jadi kursi. Menggaruk batu jadi pondasi.
Seorang
tua memendam rindu pada anak berkalung tembaga. Dulu, sekali. Kaki
anaknya itu kecil mungil. Memainkan telapaknya pada apung, pada pesisir.
Pada pasir. Meneriaki kapal-kapal nelayan. Seorang tua mengingat
pancingnya juga. Entah berapa puluh sale bergumul dengan api. Membakari
keceriaan seorang tua dengan kesederhanaan. Seorang tua masih saja
mengucap doa. Bahwa anak berkalung tembaga, akan kembali. Seperti
musafir merindukan telaga. Semoga.
2011
SATU
Satu. Dua. Tiga. Cinta telah menumbuhkan gairah pada laut. Tentang perkawinan abadi. Antara langit dan laut.
Satu.
Dua. Tiga. Kabarkan aku tentang lautmu. Tentang eloknya ombak di
tempatmu. Bukankah terkadang, manusia tak bisa mengutuki dirinya yang
tak tahu diri? Sebab manusia pada dasarnya, telah menjadikan laut
sebagai api. Hingga mengukir tempat bernama perkampungan mati.
Satu. Dua. Tiga. Laut sedang menunggu kebesaran hati.

Comments
Post a Comment