CERPEN KEMATIAN WI PADA MALAM SELASA LEGI (DIMUAT DI SUARA MERDEKA, 10 NOVEMBER 2013)



KEMATIAN WI PADA MALAM SELASA LEGI 
(DIMUAT DI SUARA MERDEKA, 10 NOVEMBER 2013)
Wi pada dasarnya tak pernah memikirkan bunuh diri dalam hidupnya. Ia bekerja dengan santai tiap pagi, menjaga warung di seberang jalan desa Ngagel tiap siang dengan menjajakan makanan kecil berupa gorengan tempe, roti rasa cokelat, sebatang rokok dan minuman soda. Wi menjalani sebagian hidupnya dengan datar. Ia berangkat menuju warungnya ditemai istrinya dengan berjalan kaki dari rumahnya yang berjarak dua gang dengan mengendarai sepeda. Sepedanya itu, adalah sepeda tua yang biasa disebut orang-orang dengan sepeda onthel. Kadang kalau istrinya tidak bisa berangkat ke warungnya, anak perempuannya yang bernama Dar membantu membawa aneka gorengan di tas plastik. Mereka berdua lalu berjalan menuntun sepeda, Wi akan memegang setang sepeda, dan Dar mendapat bagian memegang tas plastik di boncnegan agar gorengan di dalamnya seimbang tidak jatuh ke tanah.
Pikiran mengenai bunuh diri tak pernah terbersit dalam hidupnya selama ini. Ia menjalani kehidupannya sebagai pemilik warung dengan santai. Ia tak pernah memikirkan omset. Berjualan di warung kecilnya seperti sebuah kesenangan, karena dengan begitu ia bisa mendapatkan berita-berita mengenai desa Ngagel. Ia tak perlu memiliki media sosial, sebab ia tak membutuhkan banyak status berseliweran dalam hidupnya. Pembicaraan di beranda warungnya adalah pembicaraan mengenai panen desa, penjualan gogol oleh perangkat desa, tentang hape tetangga yang dicuri tetangganya, tentang anak tetangga yang merantau, tentang tetangga yang suka mabuk di tepian sungai dan tentang berita kriminal berskala lokal.
Wi jarang berbicara. Ia sehari-hari suka mendengarkan orang-orang yang datang di warungnya dan membicarakan berbagai topik yang mengalir apa adanya. Maka dari itu Wi tak pernah memikirkan hal-hal konyol mengenai bunuh diri. Ia tak suka menonton televisi. Ia hanya keluar untuk mendapatkan hiburan dari pertunjukan ketoprak di lapangan balai desa bersama istrinya dengan berjalan kaki. Ketoprak yang ia tonton selalu menyuguhkan cerita yang bermacam-macam. Ketoprak pimpinan Bagijan adalah ketoprak favoritnya. Ia menyukai cerita ketoprak milik Bagijan Karena ketoprak ini adalah ketoprak yang menyuguhkan cerita apa adanya mulai dari keseharian sampai cerita mengenai pejabat yang korupsi.
Wi bahagia memiliki kehidupan seperti ini ditambah pengunjung warungnya yang datang silih berganti. Pengunjung warungnya tak lain tak bukan adalah kawan-kawannya semasa sekolah dulu yang masih berhubungan sampai sekarang karena kawan-kawannya masih satu desa dengannya. Ia masih ingat di masa kecil, sepulang sekolah ia harus menyapu halaman besar halaman kakeknya, mengumpulkan daun-daun kering pohon mahoni dan pohon randu. Setiap hari, sambil menatap pucuk Gunung Muria yang menyembul di kejauhan, ia duduk di bawah pohon randu, membiarkan serabut buahnya yang putih beterbangan di sekitarnya. Ketika ia diajari oleh kakeknya menulis, bagian batang pohon randu itu telah penuh dengan nama Make yang dipahatnya.  
Wi memiliki keinginan bunuh diri ketika mengingat masa kecilnya akhir-akhir ini. Ketika ia mengingat masa kecilnya, ia kembali mengingat sebuah peristiwa yang membuat ia tak bisa tidur selama satu minggu penuh. Ia selalu mengingat bayangan itu sampai sekarang. Ia selalu ingat tempat bernama Randu Pitu. Jarak antara rumah kakeknya menuju pertigaan Randu Pitu bukanlah jarak yang jauh, namun juga bukan jarak yang dekat jika ditempuh dengan jalan kaki. Dari pintu gerbang utara rumah kakeknya ke ruas jalan menuju Randu Pitu, Wi harus melewati Lapangan Babat dan Pasar Jati. Di tempat bernama Randu Pitu itu, terdapat pohon randu yang tinggal dua batang. Sementara itu, di sebelah selatan terdapat tebing yang curam. 
Waktu terasa lembut bergerak bagi seorang Wi ketika mengingat masa kecilnya. Saat itu, ia mengingat dengan jelas dan memusatkan perhatiannya melalui telinga ketika banyak orang berkumpul di rumah kakeknya. Ia meyakini telinganya menangkap suara orang yang berlari., berkerumun dan bubar secara cepat. Wi bangkit dan mengintip dari balik pohon randu alas yang tumbuh di sebelah utara rumah kakeknya. Ia menangkap gerak belukar yang bergoyang disesaki segerombolan orang yang lalu lalang di rumah kakeknya .
“Bakar! Bakar!” orang orang berteriak lantang.
“Penggal kepalanya.”
“Jangan. Kita ceburkan saja ke sungai Silugonggo agar mayatnya dimakan ikan-ikan.”
Wi tak bisa mendeskripsikan bau apa yang ia cium ketika ia mengintip dan melihat api yang melahap ranting-ranting kering di sekitar kerumunan orang. Beberapa orang membawa obor dan menyesaki rumah kakeknya itu, membawa serta bau gosong ke segala penjuru ruangan. Rumah kakeknya menjadi menyala. Ia kembali ke kamarnya, mendekap gulingnya yang berbau kesturi. Ia ingin sekali keluar. Ia merasa ada sebuah peristiwa besar, dan ia menduga-duga jangan-jangan orang-orang ini akan membakar rumah kakeknya. Ia putuskan untuk tetap disini sampai orang-orang yang berkerumun itu pergi. Matanya melihat sekeliling, hanya ada lampu teplok yang menerangi kamarnya. Ia tak bisa tidur dengan peristiwa seperti itu, apalagi kakeknya tidak ada di sampingnya untuk sekedar menenangkannya. Ia tak tahu kakeknya dimana. Hanya bau gosong yang ia cium dari kamar tidurnya, berasal dari kepulan asap dari ranting-ranting kering tadi.
Akhir-akhir ini, Wi mengingat tentang kejadian itu lebih sering dari biasanya. Kejadian yang membuatnya merasakan frustasi dan tak bisa menahan diri untuk segera mengakhiri hidup. Ia pernah melakoni menenggak sabun mandi, menelan pil tidur, menyayat pergelangan tangan, menabrakkan tubuh di kereta yang lewat. Namun semua itu tak membuat ia menjadi mati. Semua itu hanya membuatnya menjadi orang konyol yang populer karena ingin bunuh diri. Orang-orang desa mengoloknya karena ia melakukan hal konyol yang tidak masuk akal.
Menantu Wi, yang bernama Kir suami Dar, menceritakan perihal orang bunuh diri yang pada akhirnya tidak akan diperbolehkan memasuki surga, bahkan tidak boleh mencium bau surga karena kejahatannya yang konyol. Kir selalu mengingatkan Wi, untuk membayangkan bagaimana ekspresi orang yang menemukan jasadnya pertama kali. Ia mengingatkan Wi tentang perasaan Dar yang nanti akan melihat busa putih di bibir jasad Wi nantinya, yang membusuk selama dua hari atau lebih. Kir juga mengingatkan Wi, bahwa orang baik yang mati akan tersenyum, tetapi jika ia bunuh diri, bisa jadi mukanya seram karena menahan sakit dan sekarat. Kir menakut-nakuti Wi, bahwa orang yang bunuh diri tidak ingat untuk berdoa sebelum mati sebagaimana dia selalu ingat untuk berdoa sebelum makan. Ketakutan-ketakutan itu ia utarakan pada Wi mengenai respons orang-orang di sekitarnya atas kematiannya. Kir tak lupa mengingatkan Wi, tentang hal-hal apa saja yang dia tinggalkan tanpa terselesaikan, janji-janji yang tidak dia tepati, dan siapa yang menjadi sendirian mengarungi hidup jika Wi meninggal sekarang, berapa orang yang akan menghadiri pemakamannya, dan akankah dunia tetap berjalan tanpanya.
Kir bahkan membumbui ceritanya menjadi lebih menakutkan, apalagi masyarakat telah mempunyai kepercayaan kalau orang yang bunuh diri arwahnya akan menjadi hantu berambut panjang yang mengigau sepanjang malam Jumat Kliwon di bawah pohon talok. Kirman menakut-nakuti Wi dengan ceritanya, bahwa kalau Wi benar-benar mati karena bunuh diri, maka rambutnya akan tergerai sepanjang mata kaki, punggungnya berlubang dipenuhi oleh belatung, lalu ia akan terlihat luntang-lantung ke sana kemari mencari tali kafannya. Lebih parah lagi, Wi akan menghantui orang-orang di malam Selasa Legi.
Wi selalu menghela nafas ketika Kir menasehati dengan serius. Wi hanya menjawab dengan pelan, “Apa yang kau lihat di masa sekarang itu tidak sama dengan apa yang kulihat di masa yang lalu.”
“Maksudmu?”
“Bayangkan saja aku adalah Dar. Dar yang kecil, dan melihat ayahnya ini terpanggang di hadapannya.”
“Kapan?”
“1965.”

Niken Kinanti adalah nama pena dari Niken Bayu Argaheni, perempuan kelahiran Pati yang berdomisili di Solo. Kegiatan sekarang adalah bergiat di Liga Kaum Budiman (Bengkel Sastra Surakarta) dan Gandrung Sastra Margoyoso. Dapat dihubungi di 085740888008.

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712