ANAK BERKALUNG TEMBAGA
| Sumber foto: dokumen pribadi |
ANAK BERKALUNG TEMBAGA
Seorang tua menanyakan pada anaknya, “Apa arti kota
buatmu?”
Anak berkalung tembaga, mengipasi tubuhnya. Jemari tak
lagi jadi puisi. Kali telah hilang, melanglang dari otak menelusuri koma-koma.
Urat tangannya telah mengakar. Seperti pohon mahoni yang ia setubuhi dengan
gergaji. Anak berkalung tembaga, apakah masih mengingat ibunya? Anak berkalung
tembaga, meracau selama seratus hari setelah malam meniadakan keberterimaannya
pada cahaya. Tubuhnya tergetar sesekali karena langit. Dari biru menjadi abu.
Asap-asap meningkahi selusur kali. Anak berkalung tembaga mencoba melepas
sematnya setelah petang datang, dan mengiba pada tubuhnya. Kenapa hidupnya
menghamba pada beton, pada baja? Mematahi pohon jadi kursi. Menggaruk batu jadi
pondasi.
Seorang tua memendam rindu pada anak berkalung
tembaga. Dulu, sekali. Kaki anaknya itu kecil mungil. Memainkan telapaknya pada
apung, pada pesisir. Pada pasir. Meneriaki kapal-kapal nelayan. Seorang tua
mengingat pancingnya juga. Entah berapa puluh sale bergumul dengan api.
Membakari keceriaan seorang tua dengan kesederhanaan. Seorang tua masih saja
mengucap doa. Bahwa anak berkalung tembaga, akan kembali. Seperti musafir
merindukan telaga. Semoga.
2011
SATU
Satu. Dua. Tiga. Cinta telah menumbuhkan gairah pada
laut. Tentang perkawinan abadi. Antara langit dan laut.
Satu. Dua. Tiga. Kabarkan aku tentang lautmu. Tentang
eloknya ombak di tempatmu. Bukankah terkadang, manusia tak bisa mengutuki
dirinya yang tak tahu diri? Sebab manusia pada dasarnya, telah menjadikan laut
sebagai api. Hingga mengukir tempat bernama perkampungan mati.
Satu. Dua. Tiga. Laut sedang menunggu kebesaran hati.
http://padangdalampuisi.blogspot.com/2011/09/puisi-niken-kinanti.html
http://karyaciptaku.blogspot.com/2011/10/lomba-cipta-puisi-padang-2011-inilah-75.html
http://karyaciptaku.blogspot.com/2011/10/lomba-cipta-puisi-padang-2011-inilah-75.html
Comments
Post a Comment