CATATAN HARIAN PUJI PISTOLS YANG SAYA BACA DENGAN TERGESA

SUMBER FOTO: DOKUMEN PRIBADI
Mei-Ling adalah pembuka yang manis bagi saya ketika membaca Puji Pistols. Dalam imaji saya, Mei-Ling menjelma percampuran ras, yang membentuk serangkaian imaji tentang ketidakbohongan yang langka. Saya pun menengok petikan James Reeves dalam Waluyo (1995: 23), menyatakan “puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat”. Hal itu bisa ditemukan dalam larik: kulihat matamu serupa/
kunang-kunang,/
tak ada kebohongan/
Ada semacam kelugasan tersendiri melalui diksi yang diambil Puji Pistols dalam tamasya kata yang ia lakukan. Ia menemukan, merasakan lalu menuliskan. Apa adanya, yang ia temui di sekeliling. Selebihnya, dalam memori yang telah tersusun rapi itu ia sering merasa terganggu dengan kenangan yang telah melingkupinya. Sebuah ritus pendek untuk mengingat kenangan, ternyata bisa menjadi sebuah marabahaya, membuatnya tak nyaman untuk mengingat. Ya, hampir semua orang –juga saya- memiliki kecenderungan untuk itu, seperti Puji Pistols, malam mingggu dan buah jeruknya
Dan kenangan,/
Kenangan yang sering tak nyaman memberi pelajaran/
Bahasa pada ingatan/
Hal kecil telah membawa banyak tanya pada buah jeruk. Kenapa dengan buah jeruk? Ada apa dengan buah jeruk? Bagaimana buah jeruk dan malam minggu bisa begitu getir seperti dalam penggambaran puisi Puji Pistols? Peristiwa apa yang terjadi sampai buah jeruk dan malam minggu bersinggungan begitu erat? Apakah seperti Kong Hu Chu, Bahwa “Aku tidak menciptakan apa pun, Aku hanya menceritakan masa lalu…”
Kenapa aku, malam minggu dan buah jeruk/
Bisa seperti jatuh cinta/
Buah jeruk telah memberikan jawabannya sendiri, mengesampingkan apakah ia bisa berbicara pada kita atau tidak, tapi itulah yang dirasa oleh Puji Pistols sejauh yang saya amati. Kenangan mengenai buah jeruk itu pun berlanjut pada kenangan lain, dengan lelaki autis. Lelaki yang ada pada judul “Tamasya Di Kamar Tuan Metafora”, Jam berapa tuan tidur dan membawa kenangan lagu-lagu lelaki autis? Kenangan berbeda telah tumbuh, sebuah pengharapan akan waktu untuk menunggu, untuk bertemu dengan “tuan” yang digambarkan akan membawakan lagu-lagu yang dijanjikan. Lagu itu bisa saja berarti sebuah janji, dan “yang menunggu” seperti rakyat yang selalu dikhianati, seperti sebuah episode yang sering dilakukan oleh penguasa yang mengingkari janji. “Tuan” yang dimaksud tak pernah pulang, namun “yang menunggu” tetap disana, dengan kesetiaannya, hingga terbayarkan oleh sebuah kondisi,
Bersama kamar kata aku jadi terlalu lambat untuk menjadi tua/
Puji Pistols tumbuh bersama teknologi. Dengan skype, ia pun tak lupa untuk bertamasya lewat kata, dan ia bertemu dengan Luna. Bahwa ada kecenderungan ketika kita terlalu banyak memanfaatkan teknologi pun bisa membuat jatuh sakit. Itu yang saya tangkap pada bait:
Sorry, Luna/
Semalam demam memaksaku membenci hujan/
Hujan yang semestinya membawa rejeki, dan damai, telah menjadi sesuatu di luar kewenangan. Ia bisa membawa demam, bahkan banjir seperti sekarang ini. Perbandingan itu yang saya temukan, ketika dulu waktu bocah, betapa menyenangkannya berhujan-hujan, namun sekarang, kondisi membuat anak-anak tak mengenal hujan dengan baik. Hujan digambarkan sebagai hal yang membuat segala sesuatu menjadi hancur, sakit dan menderita. Keterpaksaan itu yang terjadi sekarang ini. Maka tak heran jika beberapa sajak yang dihasilkan Puji Pistols memiliki struktur yang unik, atau malah terasa aneh. Struktur-struktur itu seperti ”melarikan diri”—untuk meminjam kata-katanya sendiri— dengan pola sajak yang dihasilkan seperti seorang yang mengalami kegagapan berbahasa.
Hal itu kontradiktif dengan jawaban si “aku puisi” yang memberi alternative baru dalam pemikirannya, bahwa tak selamanya hujan membawa dampak buruk. Asal ada cinta yang melingkupi, maka kebahagiaan pun bisa terjadi:
Ada beberapa orang merayakan kencan di kafe dan restauran/
Beberapa bisikan terdeteksi “Akuilah kita selalu butuh ciuman agar hujan tak sia-sia”/
Bicara tentang hujan, bicara pula tentang lingkungan. Puji Pistols yang peka pun menulis dalam puisinya, “Kebun”
disini, di kebun/
berpasang burung melayang/
linglung/
mencari kamus hijau daun/
Lingkungan yang temaram oleh polusi dan erosi, lingkungan yang muram. Kebunpun bersedih. Tak ada kebun sekarang. Hanya ada pelataran dengan cor-coran melingkupi kota.
kebunpun melepas sejarah ritus tanah/
seseorang lewat, menaruh beberapa vas bunga plastik/
barangkali pengunjung kebun tak lagi butuh kamus bunga/
sepasang kupu rebah, menutup selembar sajak/
kesekian…/
Ritus puisi pun mati seperti ritus mocopatan yang sering ada ketika jaman tak mengenal chatting browsing dan uploading.
buah itu kelewat tua/
tempat duduknya sebuah bangku/
berlumut/
tak ada dahan, daun, reranting/
yang biasa kau gendong sembari belajar tembangkan/
mocopatan di tiap sore/
kini/
ia tumbang, di tiap kelokan petang/
Anak kecil tak mengenal mocopatan. Ritus itu berubah seiring televisi memenuhi benak dan pikiran si jabang bayi. Si jabang bayi akan mengenal Warhol lebih dalam daripada mengenal mijil Asmaradhana.
Ilusi, refleksi, meditasi, halusinasi, pulang pergi menemani mesin cetak/
Dan kau kembali rutin mengatur drawing pada kertas/
Lebih jauh, saya sering bertanya: apa yang dimaui Puji Pistols? Gejala apa ini? Kegagapan? Kebuntuan? Main-main? Metematika? Geometri?
Beruntung kita berselingkuh di dunia maya selama 8 jam/
Kau menikmatinya?/
Kau bilang ini “Last Supper”/
Ziarah berhenti pada lapisan bantal-bantal bergelombang/
Dimana cinta dan lupa tidur bersebelahan/
Manusia menjadi tampak tua dalam benak puji Pistols ketika menjelajahi teknologi. Ada ketamakan, bahwa human possession selalu menginginkan manusia ag arberupaya untuk bisa hidup seribu tahun lagi. Meski jasad ringkih, namun manusia diharuskan bisa tetap eksis dengan kesesakan berjubel pada masalah multidimensional.
Piringan hitam kembali melagukan “Love Me Tender”/
Angkuh dan tampak tua/
Kenangan khusyuk masuk lagi ketika segala yang berbau teknologi telah menggenapi usia. Telah menyita sebagian besar kedalaman jiwa untuk berpisah dan bertamasya sendiri mencari keabadian. Kenangan telah menjelma sebuah kerasukan yang mencengangkan, ketika mengingat sepeda.
Ting-tong, ting-tong/
Simpan pesan, simpan kesan/
Riwayat roda yang menyusun perasaan/
Kebingungan manusia terjawab, seiring lagu-lagu mellow yang tercipta. Antara kenangan, pencarian yang kekal, muda, dan usia yang tak mau melambat tua karena bersinggungan dengan skype dan semacamnya. Antara janji-janji di masa datang yang belum tentu ditepati oleh penguasa. Antara kritik terhadap kenangan, dan beban lingkungan. Puisi merangsang kepekaan terhadap keindahan dan rasa kemanusiaan. Karya seni, termasuk puisi berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis teknologi dan menyadarkan kembali manusia pada kedudukannya sebagai subjek dalam kehidupan ini. Puisi berusaha mengembalikan stabilitas, keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia. Puji Pistols mengakhiri tamasyanya, lewat petikan puisi,
Sial, kenapa dadaku jadi sibuk mencari nada sambung/


*** Niken Kinanti, pada nada sambung -085740888008- :-)

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712