PUISI DI BUKU KARET GELANG, 2014



SEBUAH NAMA DI JALUR PANTURA

Sebuah nama
menuntunku untuk mengingat lagi
Kau, gadis kecil baik hati,
Yang kukenal lewat dongeng tengah malam

 Matamu kuyu menempis waktu,
Sepanjang jalan,
Pantura utara,
Kau cabikkan kuku.
Dan kau tak pernah bertemu,
Bahkan mengerti arti Ibu.

Gadis kecil baik hati,
di pinggir rel kereta dengan mulut berbusa.
Dosa apakah yang menghantui wajah manismu,
Kau pergi tanpa nama,
Menggendong boneka sobek matanya.

 Hanya doa,
dan kepulangan abadi
Membawamu pada tempat indah,
selain tanah negeri ini.
Kudus, 12-13








RAHASIA
(1)
Kabar dan berita,
Sekedar senyum saja;
Langkahnya tetap menyusuri semesta
Ada kabar-kabar yang tak menentu,
Menunggu tanpa senyum lugu
Ada kabar-kabar lalu lalang hinggap di pesawat televisi
Ada yang salah memaknai hari dengan gosip dan gincu
Ada yang rapuh menatap langit,
Ada yang rapuh menatap kolong jembatan,

(2)
Ada segala hal yang rapuh dengan rahasia
Ada hal-hal yang tak selesai dikatakan,
Ada langkah yang tak tegap di perempatan
Ada berita; ada rahasia
Rahasia tetap tersimpan di dada,
Rahasia menyusuri kelam,
Hinggap di pucuk-pucuk kemauan
Rahasia menuntun manusia yakin,
memasuki ruang-ruang ingin,
Rahasia tetap saja menikam,
Tanpa ungkap,
Rahasia tak berucap,
;ialah surga







KOTA DAN CERITA-CERITA
Tiap pagi kudengar desisan membumbung api
Dari cerobong asap yang tinggi tempat dibakarnya
Bongkahan hasil bumi dikeruk dengan rakus
Sampai hilang aus segala tembaga, segala
Dalam kotak alat berat bersatu padu mengaduk
semen dan batu jadi mercusuar
Yang mengusir banyak kokok bekisar
Jalanan jadi marka pada akhirnya bukan milik kita
Adakah yang masih punya semburat ngilu
Pada seseorang yang menanti hujan datang
Dan menyewakan payungnya dengan senyuman
Menanti hujan gerimis mengalir
Dari ujung kukunya menanti ceceran rupiah
Di pagi hari tanpa pernah mengenal kata sekolah
Kota yang kucintai ini membuatku ingin pulang
Bersama sekeranjang ingatan, tentang sawah dan tritisan di samping rumah dimana hujan mengalir
Seperti anyelir yang mengedipkan kelopaknya
Ke arah cahaya
Tangerang, 2012                                              












SEBONGKAH KENANGAN DARI LERENG MURIA
Akung, aku tidak akan heran
jika kau mulai saat ini akan sulit mengingat
untuk menjumput masakanku.
apalagi sekarang kau mulai suka seperti anak kecil,
yang mengencingi kaki sendiri.

Akung, aku hanya rindu engkau menyebut namaku.
sekali waktu
batas kota, 2012























RINDU DAN CERITA KAYU-KAYU
Pada mulanya adalah cinta. Pada mulanya adalah peminta
Pada mulanya pohon. Terkumpul segala mohon
Pada mulanya adalah domba. Pembelajaran pertama mengenai dosa
Pada mulanya adalah dongeng. Berkumpulnya segala cengeng

Terkumpul menjadi dua, jadilah perasaan paling muasal manusia: duga
Terkumpul menjadi tiga: ajakan untuk sama-sama mengenal duka
Pada akhirnya adalah Natalia: kepingan semesta
Tangerang, Desember 2013























SEANDAINYA AKU ADALAH AMARAVATI
Hanya seandainya saja
Sebab aku bukan dia
Tentu saja dia tak pernah mengenal aku
Tentu dia tak pernah melakoni hidup aku
Bisa saja, dia takkan betah jadi aku, makan pagi dengan sayur gori, hasil mengambil dari kebun sendiri, tak pernah mengenal alas kaki, sebab setiap pagi pun aku harus mencuci di kali, menumbuk terasi, ah apalagi?
Dari kasur ke sumur dari sumur ke dapur dari dapur ke kasur lagi. Bau ikan!

Untung hanya seandainya
Aku tidak bisa membayangkan kalau dia jadi dia
Dia kan tidak mengenal dia
Dan dia belum tentu bisa menjadi dia dengan kehidupan yang berbeda
Apa mungkin dia bisa menukar wangi bunga dadelion, wangi bunga kasturi, wangi tembakau dan wangi cengkeh dengan wangi terasi?
Aku menolak kalau dia harus jadi dia yang suka bertelanjang kaki

Aku tertarik ketika dia bilang seandainya saja
Karena aku bukan dia
Meskipun aku baru mengenalnya
Aku tak pernah ingin menukar hidup, Tuhan. Tapi dia harus tahu dulu bahwa aku, Amaravati, tidak seperti yang dia bayangkan

Aku capek berkeliling dari malam ke malam, dari satu pintu ke pintu lainnya. Hanya wangi bunga yang bisa menyelamatkan aku, meskipun aku memiliki segalanya. Aku sebenarnya tidak memiliki segalanya, itu hanya kata orang-orang. Aku pun tak tahu memiliki apa.
Aku tertarik dengan dia, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya ketika kakinya itu menginjak rerumputan yang lembut dan daratan yang berlumpur. Seperti apakah rasanya?

Bekasi, 2013

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712