puisi di koran INDOPOS 4 Oktober 2014
kawan, selamat menikmati puisi sederhana saya di hari Raya Qurban... selamat menyembelih segala kehendak ammarah-lawwamah-sufiyah-muthmainah.. ;-)
JALAN MATRAMAN
Kutemukan jalan mimpi, pergi untuk mencari Yang Sejati
Rumah kecil diujung jalan sepi
Hanya ada remah roti dan nasi di gubuk sendiri
Aku duduk dan mengantuk, burung parkit bersiul seperti ada yang bertamu
Aku rebah dan mengatur lampu
Agar terangnya juga sampai kepada jiwaku
Jalanan dipenuhi portal dan marka
Aku tak bisa membaca apa itu pertanda
Aku bagaikan mata besar yang beruban
Melihat dan mendengar tapi aku bisu
Aku berbicara hanya ke dalam jiwaku
Lalu menanyakan kabar orang-orang,
Apakah semua makhluk berbahagia?
Aroma cengkeh dan kopi kuteguk sehari-hari
Orang-orang telah melupakan bahasa
Ketika televisi menguasai ruangan keluarga
Aku datang dengan berpayung air mata
Pada batu-batu yang diam menunggu
Kurasa manusia mesti belajar berhenti bermain dadu
Agar kabut-kabut di depan mata hilang
Agar pikiran-pikiran menjadi terang
Agar aku melihat kembali ke dalam sanubari
BIANGLALA
Harapan serupa kembang,
Berisi tangisan dan tawa, keajaiban diperuntukkan hanya bagi pecinta
Surga ada dalam bagian diri, seperti mawar-mawar yang abadi dalam romantisme hari
Mimpi sepenuhnya berkabut. Aku datang sebagai orang yang kalut
Tak pernah ada salju dalam hidup kita
Sebab terumbu dan batu-batu lebih bersahabat
Burung kenari dan bunga melati adalah karib sehari-hari
Aku membawa apa yang aku punya
Sebuah peta, mata yang terjaga dan keberanian melewati gerbang
Daun kering, nyanyian setan, dan semua yang aku temukan
Tak pernah bisa menggantikan keberadaanmu dalam pikiran
MALAM TERAKHIR
Jiwaku berada dalam diriMu
Menganga aku mendapati sujud yang tak selesai
Bayangan nyata, aku menundukkan kepala
Dalam sepi dan gairah yang menua
Kudapati bahwa kopi melebihi anggur sejatinya
Reguk bijinya menggantikan kepedihan saban hari
Aku sepi, aku menundukkan kepala
Aku setia, Kau adalah yang paling nyata
Sepanjang jalan adalah jantung hangat
Beredar tepat dalam gugusan sel-sel surya
Aku telah lama berbaring dalam dunia,
Tak kudapati merahnya merah dan manisnya manis
Hanya sepi ketika aku terbangun dalam gerbong-gerbong kereta menuju Serayu
Menuju fajar yang abu-abu
Aku telah menjelma tarian tarian tanpa pakem
Sebab seluruh bayanganku jatuh persis pada batu-batu
Kukenal rindang pohon, namun tak kukenal akar-akaran
Kukenal terang sinar, namun tak kukenal sengatnya
Kusudahi saja segala repih dan gairah tua ini,
Sebab menujuMu, aku penuh seluruh
RISALAH MASA
Berbilang masa. Yang halus, yang terbelenggu, yang nista, yang gila
Aku menemukan robekan kata, yang rentan sakit hati musabab cuaca
Aku adalah dingin, bermuara pada tatapan ingin
Bagaimana kebodohan lebih banyak berdiam
Aku adalah paksaan,
Musabab semua yang satu adalah kasih
Bulan dan kesombongan, mawar dan cinta terpendam
Masa adalah kesendirian

Comments
Post a Comment