PUISI di koran SOLOPOS 4 Januari 2015
STASIUN
BALAPAN SUATU KETIKA
Kau tuliskan kembali mengenai keterasingan di
stasiun ini
Dalam sketsa gambarmu, penuh dengan coretan
tak tentu
Kau ceritakan mengenai kenangan yang terkubur
Bahwa di bulan Desember, ada seseorang datang
dengan kepala yang terbelah
Di tangannya tergenggam amarah, di kakinya
pun jua hanya amarah
Lelaki itu datang dengan sepenuh dendam
Dan rupanya dendam lebih sial sebab tak bisa
terkalahkan oleh kesabaran
Kau lucuti kembali memori tentang lelaki itu
Yang mengayuh sepedanya memasuki halaman muka
stasiun kereta
Ia tak membawa apa-apa, hanya sekantong beras
di setang sepedanya
Ia menuju rel kereta nomor tujuh, dengan hati
iba
Dan mempersilakan roda kereta menggilas
hatinya yang mati rasa
19.25.29.11.14
STASIUN PURWOSARI
SUATU KETIKA
Kereta malam menunggu penumpang bernama
kenangan
Matanya menelisik dan mencari penumpang yang
sedang sendirian
Hanya rel kereta yang mampu menampung segala
air mata
Rodanya berpacu meninggalkan stasiun, menuju
tujuan-tujuan berikutnya
Kereta malam jauh pergi menuju sebuah negeri
Negeri dimana tak ada kekosongan selain kerja
kerja dan kerja
Manusia pekerja lahir dari rahim kereta
Menebas malam, hingga fajar melintang
Manusia pekerja, dimanakah mereka mengartikan
keluarga
Manusia pekerja mati dalam peron kedua
19.30.28.11.14


Comments
Post a Comment