PUISI DI JOGJAREVIEW.NET 28 September 2014
tulisan sederhana ini untuk para perokok yang merupakan pendoa
khusyuk. kekhusyukannya tidak dapat ditandingi oleh siapapun jua sebab
dengan asapnya itu berhektar-hektar petani tembakau menghidupi diri dan
keluarganya. mari (me)rokok, sebab merokok dapat menimbulkan serangan
untung dan peningkatan potensi.
ROKOK DAN PENDOA YANG TUTUP USIA
Rokok terakhir bagi para pendoa
Adalah debu dalam ingatan
Kekosongan seperti pulsa yang habis masa aktifnya
Penyakit berlindung dalam tubuh yang ringkih
Asap rokok menjadi kekasih
Obat perlahan membakar isi otak
Kering kerontang dalam dosis cinta berlebihan
Rokok terakhir bagi para pendoa
Bukanlah tempat bernama surga
Baju-baju berbau apak memenuhi lemari
Baju-baju berteriak tak mau ditinggal sendiri
Rokok terakhir adalah gelas kosong
Menjadi kosong untuk diisi
Menjadi isi untuk dikosongi
KOTA JEMBER
Cahaya lampu neon
Menghalau segala gelap di jalanan kota
Angin ribut terusir bersama dingin
Hiruk pikuk pejalan kaki mabuk berbelanja di siang hari
Para pecinta berjalan sempoyongan
Gairah terpetik bersama merah lampu dan beberapa tandu
Malam adalah ketidakpedulian bersama parade yang tak pernah selesai
Penjaja tubuh di kegelapan mendengar kaki-kaki tembaga berjalan tergesa
Menyumpahi orang-orang yang telat tiba
Pekerjaan malam membuahkan selimut hangat di rumah
Sedangkan rumah bagi mereka adalah selasar toko yang bising oleh pekik pembeli
Suara dan bayangan apakah sama,
apakah peduli pada hantu-hantu yang bersembunyi di jam dinding
Kemana perdamaian bersemayam?
Raungan senjata dan bombardir produk kota
Mengangkut banyak sampah ke tepian
Jam sibuk para pekerja
Seperti tak ada waktu untuk berterimakasih kepada tetangga
- See more at: http://jogjareview.net/fiksi/puisi-puisi-niken-kinanti/#sthash.sFfNsTSP.hjNVZBaB.dpuf
ROKOK DAN PENDOA YANG TUTUP USIA
Rokok terakhir bagi para pendoa
Adalah debu dalam ingatan
Kekosongan seperti pulsa yang habis masa aktifnya
Penyakit berlindung dalam tubuh yang ringkih
Asap rokok menjadi kekasih
Obat perlahan membakar isi otak
Kering kerontang dalam dosis cinta berlebihan
Rokok terakhir bagi para pendoa
Bukanlah tempat bernama surga
Baju-baju berbau apak memenuhi lemari
Baju-baju berteriak tak mau ditinggal sendiri
Rokok terakhir adalah gelas kosong
Menjadi kosong untuk diisi
Menjadi isi untuk dikosongi
KOTA JEMBER
Cahaya lampu neon
Menghalau segala gelap di jalanan kota
Angin ribut terusir bersama dingin
Hiruk pikuk pejalan kaki mabuk berbelanja di siang hari
Para pecinta berjalan sempoyongan
Gairah terpetik bersama merah lampu dan beberapa tandu
Malam adalah ketidakpedulian bersama parade yang tak pernah selesai
Penjaja tubuh di kegelapan mendengar kaki-kaki tembaga berjalan tergesa
Menyumpahi orang-orang yang telat tiba
Pekerjaan malam membuahkan selimut hangat di rumah
Sedangkan rumah bagi mereka adalah selasar toko yang bising oleh pekik pembeli
Suara dan bayangan apakah sama,
apakah peduli pada hantu-hantu yang bersembunyi di jam dinding
Kemana perdamaian bersemayam?
Raungan senjata dan bombardir produk kota
Mengangkut banyak sampah ke tepian
Jam sibuk para pekerja
Seperti tak ada waktu untuk berterimakasih kepada tetangga
- See more at: http://jogjareview.net/fiksi/puisi-puisi-niken-kinanti/#sthash.sFfNsTSP.hjNVZBaB.dpuf

Comments
Post a Comment