PUISI di tabloid DUTA SELAPARANG LOMBOK 10 Desember 2014

kabar dari Lombok pagi ini, beberapa tulisan puisi saya dimuat di tabloid Duta Selaparang. Saya belum pernah mengunjungi Lombok, dan semakin ingin mengunjunginya sekarang. Saya mencoba mencari mengenai daerah Selaparang, dan dapat dari Wikipedia mengenai kerajaan Selaparang, Kerajaan Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan dengan Seleparang), yang saat ini kurang lebih lebih berada di desa Selaparang, kecamatan Swela, Lombok Timur. Betapa menariknya, betapa Bhinneka Manunggal Ika bangsa Indonesia. Salam dari Pati, pesisir pantai Utara Jawa. silakan check it dot puisi saya langsung di webnya. Wilujeng Maos.

PERIHAL POHON RANDU DI DESA SEKARPUTIH

ini kali keberapa aku menanyakan cinta padamu
tak ada jarum jam dinding berputar dalam bola mataku
pintu rumah tertutup ketika semburat jingga melukis angkasa
aku tak kuasa memilah mana cinta mana dusta
pelajaran di sekolah tak ada sangkut paut dengan dada kita yang terbelah
kaubilang malaikat sedang berbaik hati
menurunkan beberapa bidadari ke bumi
hanya aku yang sangsi pada ucapanmu
sebab tak tumbuh sayap di punggungku
tak ada kantor pos sanggup mengirimkan isyarat mataku
hidup kita tak dicetak untuk memilih pendamping
ada tiada, Tuhan telah mengirimkan titah untuk bersanding
kita bukan dewa yang kebal dengan air mata
menangislah dengan redup yang mampu kau hirup
kata cinta itu akan tiba di senja usia

13.36.10.12.14

CATATAN MALAM

kau mencari selimut di pojok kamar
tak ada disana kain hangat untuk tubuhmu
matamu sendu oleh rindurindu yang membelenggu
tubuh tak sanggup menampung resah yang diciptakan kekasihmu
kau balikkan badan miring ke kirike kanan
mengumpat keadaan mengapa jarak memisahkan raga
ibarat seprei dari kasurnya, sepatu dari solnya
lukamu kau bilang berbelit belit
butuh seratusan mesin jahit yang bisa menambal robekan hatimu yang menganga
kau bukan lagi kuncup mawar membawa serta aroma bunga
kau sudah menjelma ilalang
masa muda adalah gembala kesepian yang memanjat pohon belimbing
Kebingungan mencari dukun saat kekasihnya bunting

13.48.10.12.14

MEMBACA MIMPI

Lewat jendela yang kau buka
tak ada tanaman kamboja di halaman rumahmu
bekas ciuman tertinggal di meja kerja
seseorang mengintai dari tempatnya yang jauh
membenamkanmu dalam gundukan rindu
tak ada pelukan tersisa di pagi hari
kau menghitung keuntungan satu menuju keuntungan berikutnya
lalu matamu terpejam, berhasrat mengalihkan bebanmu pada rel kereta
menggilasnya tepat di kepala

14.04.10.12.14

APA YANG TAK KAU TAHU TENTANG HUJAN

sebaris pertanyaan kau siapkan
Mengapa orang-orang mencintai hujan dengan pincang
Sedihmu tak pernah bisa menghapus kenangan di masa lalu
Pun mereka menjelma sel-sel rusak yang melobangi kerongkonganmu
Orang-orang berucap saling menyapa dan tertawa kemudian lupa di keesokan harinya
Lambungmu sakit menampung jeritan rumah-rumah yang ditinggalkan penghuninya
Tak ada mantra yang ampuh mengusir ingatan ke dalam pekuburan
Seseorang yang mati tadi pagi pun tak bisa khatammenyelesaikan kalimatyang tak sempat ia ucapkan kepada kekasihnya
Kematianmu kelak pun sama, kau menginginkan tertidur pulas di ranjang reot tak bernama kemudian istrimu memelukmu dengan manja
Kau takbisa lagi menerka masa depan
Apalagi hujan mulai enggan menampakkan isyarat padamu
Mereka berbicara denganbahasanya sendiri
jangan kau kira mereka tak bisa mengumpat dan mengutukimu
Maka bersukacitalah terhadap hujan
hujan diciptakan bukan untuk menyertaikemurungan

14.15.10.12.14


PERIHAL PEREMPUAN YANG MENIKAHI KERAGUAN

kau tak puas dengan jawaban para guru
Pensil dan kertas kau buang di tempat sampah
Keadilan masih saja berpihak sebelah, pada orang yang tinggal di tempat mewah
lalu kau tenggelam di pasar dengan banyak barang bekas
Radio tua, baju tua, pun kelamin tua
Tak ada yang diperjualbelikan dengan kebanggaan seperti di swalayan ternama
Kau hirup aroma kekalahan dari orang-orang yang kehilangan gubuknya
Bagaimana rasanya terusir dari tanah sendiri?
Mereka memberimu sekarung beras namun meminta jantung dan pembuluh darahmu
pun bahasa menjadi barang bekas yang lapuk di mimbar podium
mereka berteori dengan gaya dan aksi, esoknya rumah kita digusur dengan buldozer

14.29.10.12.14

BAHASA IBU YANG KU TAHU

kembali membaca namamu, aku memikirkan mengenai sebuah galeri
Disana ada foto kita tersenyum dalam wajah yang berbeda
Kau kalungkan seuntai harapan dan cinta
Menerawang mengenai masa depan yang akan kubina nantinya
Kalaupun hidup adalah sebuah kamera yang berjalan, aku tak mau menjadi kamera kecil dengan isi film yang usang
Aku pun tak ingin menjadi kamera di medan peperangan
Betapa sakitnya merekam luka-luka
Aku tak bisa mengobatinya, dan mereka mengerang dalam tembakan satu dua
Ibu, hidup adalah ceceran puzzle yang aku kumpulkan
Tak pernah ada ujung, seperti jua cintamu yang menjelma kerudung

14.33.12.14

JEDA

Jeda adalah ketika kita membaca kamus bahasa Indonesia
ingin kau hapus lembaran yang buatmu kecewa
Kau pusing dan bertanya-tanya mengapa ada tempat bernama kesunyian
kau ingin berdansa di akhir cerita cinta
menggamit tubuhku yang basah dengan bunga-bunga yang kau cipta
aku berjalan terseok menemanimu menghafal pertanda
mimpi-mimpimu kau kumpulkan dalam satu buku agenda
hidup kita bukanlah poster di dinding luar rumah
para perempuan membawa sapu di negara orang dengan ramah

16.06.10.12.14

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712