Puisi @Sayap Kata, Jumat 27 Februari 2015 (Edisi 09) Th. II



/SUDUT KELAS/
Di sudut kelas tak ada jalan menyimpang
Pun gelak tawa teman sebaya saling berpautan
Alangkah menyenangkannya menjadi musafir
Tidur dan mandi dalam debu tak ubahnya lagu-lagu
Seorang kanak melamunkan mengenai masa depan
Tak dapat ia raba kemana arah jarum jam berdetak selanjutnya
Sebab garis takdir seringkali seperti lompat tali
Bergerak sesuka hati namun kejam saat langkah mati
Bagaimana rasanya membaringkan pagi?Hujan pun menyerah setelah tubuhnya tiada
Di sudut kelas sebenarnya seorang murid menanyakan apa saja
Tentang pacar pertama, pun tentang olimpiade matematika
16.30.09.02.15

/SEBAGAI PENGEMBARA KESIANGAN/
Sebagai pengembara kesiangan, aku hanya memiliki rapal untuk menunda hujan
Biarlah jalan berkabut sesuai hati, namun kompas kehidupan tak dapat urung bersembunyi
Sebagai pengembara kesiangan yang tak punya bekal, jalanan adalah sayur mayur
Lauknya berupa langit yang masih tegak dijunjung
Sedangkan nasi adalah sepenggal pembicaraan dengan secangkir kopi
Betapa menyedihkannya seorang pengembara kesiangan
Lahir dari peradaban yang diramalkan runtuh
Sedang esok tak ada garansi kapan kehampaan menemui jalan tunas dedaunan
16.33.09.02.15

Niken Kinanti, Kelahiran Kinanti Dukuhseti Pati 1990. Karya-karyanya dimuat di laman Buletin Sastra Pawon, Buletin Keris, Gandrung Sastra, Majalah Bong-Ang, INDOPOS, Media Indonesia, Tabloid Duta Selaparang, Solopos, Jurnal Khittah, Suara Merdeka, Jogjareview.net, Radar Surabaya. Termaktub dalam sejumlah Antologi,

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712