tulisan di buletin JEJAK edisi 48/Maret2015

Perihal Rindu di Kolong Kasur

bulan ini, Desember, sepertinya cuaca bertambah muram
kau mengalami kegalauan dalam menafsir musim
tak ada aba dan pertanda, tapi banyak orang di Banjarnegara
tertimpa berat rumahnya, pepohonan dan tanah merah
aku mengawali kesendirian lagi, menghitung waktu dalam kelopak matamu
berapa kedipan lagi kuperlukan agar kita ada pada posisi temu
berapa lagi jarak harus ditempuh agar kita bisa bermukim dalam rumah tanpa jendela
Desember, bulan ini, rupanya angin berubah arah
kemana kaki melangkah pada keputusan yang berat sebelah
kau ingat, angin bukannya bermain-main lalu bersekongkol dengan tanah
orang-orang lupa menyalakan lilinnya
tak ada pintu untuk bisa bertegur sapa
kau aku tak pernah lagi menutup jendela
hanya ada tangis luka, di Banjarnegara
14.55.15.12.14

Perihal Kesunyian di Tugu Ikan Juwana

Kesunyian tak punya nama lain. Selain sepi yang kerap menghantui, kau pulangkan kepada rumah-rumah yang mau menampung senyum pualammu
Desember tak ubahnya musim bernama hujan. Angin yang kencang selalu bersetia mengibarkan sarung para nelayan. Tak ada ikan laut di musim penghujan seperti ini. Ombak besar menghalangi kapal-kapal menuju tujuan
Kau ingin tengkurap saja pada tanah basah. Ada kerinduan tersisa dari kesepianmu yang tak punya nama. Pintu rumahku masih terbuka, menunggumu datang bersama kesetiaan yang kausimpan
19.31.15.12.14

Pintu Makam Saridin

orang-orang menziarahi kembali asal muasal. Kalau sebentar lagi lereng Kendeng digaruk buldoser, seperti tak ada tempat untukmu berlindung. Perbukitan gundul dengan mesin besar mengubur segala macam hal yang uzur
kau bertanya dimana sebenarnya rumah berpintu kayu yang terbuka. Tak kau temukan lagi mata air. Hanya air mata bergantian menjadi air susu bagi bayi yang lapar perutnya
18.36.15.12.14


Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712