Tulisan di Tanjung Pinang Pos, 06 Juli 2015

JIKA KUBUAT PUISI

Jika kubuat puisi, maka kata-kata selalu saja menuju teras rumahmu
Tak ada angin yang membuatku berlari meuju jalur yang sesat
Tak perlu kompas yang membidikkanku pada nasib yang kubilang dahsyat
Kemarau seperti menjamahku tiap hari dengan desau-desau
Aku menunggumu seperti menunggu kereta senja
Membawaku pulang ke arah mana saja, tanpa kupinta nama dan tiket transportasinya

Aku bermukim dengan damai meski kutuk selalu saja ramai
Sehari saja saja tak berjumpa, sudah kusumpahi neraka yang menjamah manusia pertama
Sehari saja tak ada kamu, maka rindu bertebaran bak peluru
Hidupku telah gaduh mengeja perjalanan cinta kita
Disana doa-doa bercucuran dengan derasnya
Biarkan aku menjadi sungai yang sementara, yang nisbi yang kelak akan mati
Sepanjang dada ini tak terhitung berapa kilo cinta telah terpatri dengan kata
Rumahku telah menjadi pekuburan kenangan
Tak ada penerjemah yang gagal selain penerjemah kerinduan
Pada kata-kata telah kubuat puisi ini menjadi candu
Membiarkannya terbang menuju pintu manapun mereka suka

15.41.01.06.15




EMPAT YANG ADA PADAMU

#Kopi Pahit
Malam bagiku jelmaan dari kopi dan cangkir kita
Kau tuang asa dalam sebaris cakrawala
Menghadirkan canda dan duka dalam satu kedipan mata

#Perayaan
Ada padamu sebuat kesyukuran
Kita terkunci dalam pesta-pesta di malam panajng
Kau-aku adalah rentetan kenangan
Tercipta elegi, dalam pusara tak bertepi

#Catatan
Kapan kita berhenti berpetualang?
Jika gunung gemunung masih banyak tak bernama
Jika bukit-bukit masih ingin kita lihat eloknya
Hanya sajak yang mampu menghimpun yang terserak
Seperti tulisan tanganmu yang selalu berkecipak

#Kesepian
Tanggal berlalu, hujan membatu
Ada wajah dan petualangan kita yang teringat selalu
Muram cuaca, raibnya cinta
Kisah kita biarlah bertumbuh selayaknya pohon angsana

15.50.01.06.15
HENING

Hening adalah kamu, dengan segala kesuraman di dadamu
Membuncah diam-diam, lekat dalam takdir dan ingatan
Hening kau namai mimpi-mimpi tak selesai
Mimpi-mimpi yang kau pendam tanpa ada kata usai
Adakah sebuah nama berlabuh sia-sia di masa depan?
Sedangkan kita tak lihai mengukur arti kesetiaan

15.52.01.06.15

















PEMAKAMAN DALAM DIAM

Angin tetiba mati di ujung hari
Pemakaman menyisakan tangis tak henti
Mata yang tertutup, batu nisan, dan buku yang tak habis dibaca
Muka pucat di belakang jendela
Adakah kunci loker untuk kesedihan yang tersisa?
Sampah-sampah dari kematian
Dipunguti perlahan oleh lembaran masa

09.07.08.06.15







































Niken Kinanti, perempuan kelahiran tahun 1990 di Kinanti Dukuhseti Pati Pesisir Pantai Utara Jawa, Indonesia. Kegiatan sekarang adalah bergiat di Liga Kaum Budiman dan Gandrung Sastra Margoyoso. Beralamat di Terusan Kopo KM 12,8 Bandung Jawa Barat. Dapat dihubungi di email: kinantiniken@gmail.com
Tulisannya dimuat di Buletin Sastra Pawon Solo, Buletin Keris Semarang, Gandrung Sastra Pati, Majalah Bong-Ang Tuban, Koran INDOPOS Jakarta, koran Media Indonesia Jakarta, Tabloid Duta Selaparang Lombok, Koran Solopos Surakarta, Jurnal Khittah, Suara Merdeka, Jogjareview.net, Radar Surabaya, Sayap Kata, Koran Harian Mata Banua Banjarmasin, Buletin jejak, Inilah Koran Jawa Barat, Koran Harian Sastra Sumbar. Buku antologi puisinya: “Poetry poetry from 226 Indonesian poets: Flows Into The Sink Into The Gutter”, “Dialog Taneyan Lanjang” (Majlis Sastra Madura), “Merawat Ingatan Rahim” (Jejer Wadon & Komnas Perempuan), “Puisi buat Gus Dur: Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel” (Dewan kesenian Kudus), “Negeri Sembilan Matahari” (Sastra Welang Pustaka), “Darah di Bumi Syuhada”, “Sweet Pain of Love”, “Semesta Cinta Untuk Gaza”, “Solo dalam Puisi”, “Karet Gelang”, “Surat Kepada Bumi” (Pementasan Festival Goa dan Air di Kayen, Pati). “Bunga Rampai Puisi Nusantara dan Kreasi Cerita Rakyat Nusantara” (DKKT Tangerang).

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712