Sastra Perempuan Yang (Masih) Terjajah
![]() |
| (Foto dokumen pribadi) |
Keterjajahan
perempuan dalam dunia sastra menjadi dilema hingga sekarang. Isu-isu mengenai
gender dan seksualitas merambah pengalaman dan wacana potkolonial.
Bangsa-bangsa terjajah sering digambarkan sebagai pihak lain yang pasif dan
berjenis kelamin perempuan di hadapan kekuasaan imperialisme Eropa. Penjajahan
dalam hal ini menimbulkan dimensi kompleks hubungan seksual antara si penjajah
dengan si terjajah, perjuangan mencari identitas, gambaran ambivalen dari perempuan
modern yang kebarat-baratan dalam tampilan sastra dan budaya, serta pengagungan
postkolonial atas bangsa sebagai perempuan/Ibu dalam ikon tradisi budaya.
Di tengah pemikiran
yang masih beraneka ragam tentang gender, ras dan kolonialitas, ada satu perspektif
yang jarang dibicarakan orang, yaitu pandangan perempuan yang terjajah. Secara
otomatis, ada satu citra diri bahwa kawula negara kolonial yang menjajah adalah
lelaki. Hal itu menimbulkan suatu perspektif dalam karya sastra bahwa terjadi
subordinasi bangsa-bangsa terjajah kepada kekuasaan yang menjajah diibaratkan
sebagai orang kulit putih yang menjajah, sedangkan perempuan pribumi yang
berkulit hitam yang terjajah tidak diperlihatkan dari segala sudut. Telaah
sastra pada jaman kolonial oleh para kritisi karya sastra klasik yang
mengeksplorasi kondisi kolonial melaporkan bahwa adanya kebutaan gender yang
mencolok terjadi pada masa itu. Hal itu juga terlihat dalam diskusi-diskusi
sekitar isu perbaikan perempuan, dimana para perempuan itu sendiri rupanya hilang
dari wacana tentang diri mereka.
Perempuan tidak
menemukan tempatnya yang seimbang dalam karya sastra jaman kolonial. Karya
sastra dari perempuan yang masih langka tersebut mencerminkan kondisi kolonial/postkolonial
dalam kesusasteraan yang dikekang dengan legitimasi pemerintah. Hal itu
dibuktikan dengan tulisan para perempuan yang secara sempit terfokus pada cinta
dan kehidupan rumah tangga, pencitraan rumah tangga yang tenteram. Ada ancaman
yang berarti bagi lelaki ketika perempuan membahas tentang ambivalensi budaya,
hibriditas, dan pencarian jati diri. Eksplorasi ekspresi sastra itu berdampak
secara tidak langsung terhadap interaksi kolonial khususnya di bidang hubungan
gender. Reaksi terhadap pengalaman demikian memberikan warna khusus kepada pengertian
yang multi dimensi dan terus berlanjut mengenai sifat perempuan dan peranan
sosial yang diisukan bagi perempuan itu sendiri. Hal itu semakin mengancam
hierarki gender yang belum mapan, dan mengekang pencitraan perempuan dalam
membentuk tulisan perempuan.
Fiksi dalam karya
sastra yang telah ditulis oleh perempuan telah mendokumentasikan gambaran
perempuan yang terkendali dan terkungkung, yang dominan terjadi dalam
bentuk-bentuk budaya Indonesia modern, suatu gambaran yang memuji tokoh-tokoh
perempuan yang pemalu, halus perilakunya dan tergantung pada lelaki dalam
pemenuhan kebutuhannya. Sastra kolonial secara khusu mengecam dengan keras
bentuk-bentuk perempuan yang menonjol dalam perilaku seksual, yang
termanipulasi dan terpolitik dalam wadah-wadah pergerakan. Stereotip ini
terletak pada ideologi gender dan kebijakan-kebijakan sosial yang sempit dalam
perumusannya, salah satunya ketika jaman Orde Baru yang otoriter dan patriarckal.
Dengan memunculkan
anggapan bahwa organisasi perempuan Gerwani yang berada di bawah pengaruh
Komunis sebagai organisasi setan, dan dengan menciptakan gambaran-gambaran yang
mengerikan seolah-olah organisasi ini menganjurkan perempuan untuk berhubungan
seksual, berperilaku bejat dalam politik dan kehidupan sosial, rezim militer
Soeharto berhasil berkuasa pertengahan tahun 1960an sebagai pemulih ketertiban
sosial yang mengembalikan perempuan Indonesia pada peranannya yang lugu dan
alamiah sebagai istri dan ibu yang apolitik. Keadaan politik kolonial secara
tidak langsung menanamkan persepsi dalam benak perempuan, sehingga penulis
perempuan dengan sengaja menjauhkan tokoh-tokoh perempuannya dari gambaran
menjijikkan perempuan barat yang berani
dan cabul, mengesampingkan pengalaman romantik yang melibatkan perempuan secara
parsial.
Fiksi awal
berbahasa Melayu popular akhir abad sembilanbelas menunjukkan permulaan
pengekangan perempuan. Dalam teks-teks berbahasa Melayu popular akhir abad sembilan
belas, tokoh ras yang berlainan serta hubungan yang akrab diantara mereka
banyak ditampilkan khususnya tokoh nyai, yang dicap sebagai gundik pribumi
orang Eropa. Menonjolnya tokoh nyai dengan sendirinya membatasi karakterisasi
tindakan sosial perempuan pribumi. Pramoedya Ananta Toer melukiskan nyai
Ontosoroh yang perkasa dan luar biasa dalam kuartet novel Bumi Manusia.
Kekuatan Ontosoroh, walaupun mengagumkan, dianggap tidak wajar, tidak cocok
untuk perempuan, dan memperkuat persepsi tentang kekurangannya sebagai Ibu.
Untuk perempuan pribumi, tokoh seorang nyai terlalu pekat sehingga muncul
stigma bahwa perempuan baik-baik tidak bisa mendapat kebebasan seksual, politik
dan rasial seperti itu. Dengan berkembangnya kesadaran dalam situasi kolonial
mengenai perbedaan rasial dan ketidaksamaan kekuasaan, maka tubuh perempuan
yang secara seksual dimiliki oleh pihak lain, menjadi situs pelanggaran
identitas kelompok dan bangsa. Perempuan dipandang melanggar perbatasan vital
apabila kawin di luar keabsahannya sebagai perempuan, sedangkan seorang lelaki
yang melakukan hal yang sama, dipandang tidak mengundang celaan seperti
itu.
Kemerdekaan dari
penjajahan telah membawa pula kepedulian yang besar untuk membangun stigma
perempuan. Gambaran perempuan modern menduduki tempat menonjol dalam isu
modernitas, kemajuan dan identitas moral. Seperti juga di bekas negara kolonial
lain, pendidikan dan kebebasan sosial mencontoh pada model kemasyarakatan
Eropa. Perempuan yang berependidikan diperlukan sebagai istri dan pendamping
lelaki modern, juga sebagai pendidik untuk anak-anak yang akan membentuk bangsa
yang baru. Namun ada satu yang mengganjal disini, kesetaraan gender yang terus
digaungkan selama ini dalam kesusastraan, masihkah dapat meredam perempuan
dalam memaknai kebebasannya yang baru dan asing? Kita lihat saja nanti.

Comments
Post a Comment