Bermimpilah, Maka Kamu Akan Sampai
| sumbe foto pribadi di indramayu |
Mungkin, pepatah ini
terlalu muluk-muluk dan sulit dipercaya. Atau mungkin, ada yang menganggap
terlalu mustahil untuk mempercayainya. Tapi tidak demikian dengan orang-orang
yang pernah hidup di dunia ini, yang memiliki semangat yang tinggi untuk bisa
mewujudkan mimpinya. Orang-orang ini adalah manusia hebat yang mampu mewujudkan
mimpinya. Dengan kerja keras, pantang menyerah dan tekun dalam berusaha.
Mewujudkan mimpi
itu dimulai dari hal kecil. Seperti kata Haryanto Kandani yang merupakan
penulis buku motivasi yang berjudul THE ACHIEVER yang sampai saat ini telah
menjadi National Best Seller di Indonesia bahkan menjadi buku wajib beberapa
perusahaan atau organisasi serta beberapa kali diliput sebuah koran sebagai Recommended
Book. Beliau juga adalah seorang Achievement Motivator, Personal Coach
dan Self Improvement Trainer yang berfokus pada peningkatan pencapaian
pribadi seseorang dengan menekankan perubahan mindset serta karakter. Ia
berujar bahwa jika ingin menjadi orang yang sukses, kuncinya salah satu adalah
berikan perhatian pada hal detail.
Perhatian kita pada hal-hal detail akan membawa kita semakin menonjol
dalam pekerjaan karena mungkin tidak semua orang akan memperhatikan apa yang
seharusnya dibenahi atau ditindaklanjuti.
Untuk bisa ewujudkan
mimpi itu dimulai dari sekarang, bukan nanti. Siapa pula yang tak kenal dengan
tokoh hebat yang bernama Ludwig Van Beethoven? Mungkin sebagian dari kita
sering mendengar lagu-lagunya diputar. Dia adalah komponis musik klasik dari
Jerman. Karyanya yang terkenal adalah simfoni kelima dan kesembilan, dan juga
lagu piano Fur Elise. Ia dipandang sebagai tokoh penting dalam masa peralihan
antara Zaman Klasik dan Zaman Romantik.
Semasa muda, ia
adalah pianis yang berbakat, popular diantara orang-orang penting dan kaya di
Wina, Austria, tempatnya tinggal. Namun pada tahun 1801, dia mulai mengalami
gangguan pendengaran. Gangguan pendengarannya semakin parah dan pada tahun 1817
dia menjadi tuli sepenuhnya (tunarungu). Meski Beethoven tak lagi bisa bermain
dalam konser, dia terus mencipta sebagian karya-karyanya yang terbesar. Hal
inilah yang patut kita contoh, meskipun berada dalam keterbatasan, Beethoven
mampu untuk mewujudkan impiannya dengan kerja keras. Semangatnya yang luar
biasa dalam menghadapi kekurangannya itulah yang membuatnya menjadi orang yang
luar biasa.
Kisah lainnya
berasal dari seorang editor, penulis dan jurnalis kenamaan dari majalan Prancis
ELLE. Dia adalah Jean-Dominique Bauby. Pada tahun 1995, dia menderita serangan
jantung yang sangat parah dan mengakibatkannya koma selama 20 hari. Setelah
bangun dari koma, dia menderita sindrom syaraf yang sangat langka, yaitu
bernama Locked Syndrome. Ssindrom ini membuat si penderita lumpuh dari
ujung kepala hingga ujung kaki, namun tetap memiliki pikiran yang sadar. Dalam
kasus seperti ini, dia masih bisa mengedipkan matanya.
Jean-Do tetap bisa
menulis sebuah buku berjudul Diving Bell and the Butterfly dengan cara
mengedipkan matanya ketila penulis yang membantunya menunjuk huruf yang benar.
Ia harus mengedit dan mengarang buku tersebut sepenuhnya dalam kepalanya, huruf
demi huruf. Ia meninggal dua hari kemudian setelah buku tersebut dirilis.
Penderitaan yang ia alami ia abaikan, dan ia berjuang untuk mewujudkan sesuatu
yang berharga untuk orang lain, yang bisa dibaca oleh banyak orang.
Setiap orang bisa
mewujudkan impiannya, tak peduli seberapa besar keterbatasan yang ada pada
dirinya. Tokoh lainnya adalah Stephen Hawking, yang merupakan ahli fisikawan
teoritis. Dia adalah professor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas
Cambridge. Dia dikenal dengan sumbangannya pada fisika kuantum, terutama karena
teori-teorinya mengenai kosmologi, gravitasi kuantum dan lubang hitam. Salah
satu tulisannya yaitu A Brief History of Time menjadi best seller
di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.
Meski mengalami
tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik, karier ilmiahnya
terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun. Gejala sklerosis lateral
amiotrofik membuatnya kehilangan hampir seluruh kendali neuro muskularnya. Ia
tidak dapat makan atau bangun tidur sendiri. Suaranya tidak jelas sehingga
hanya bisa dimengerti oleh orang yang sudah mengenalnya dengan baik. Ia tidak
menyerah begitu saja, buku-buku dan penampilan publiknya menjadikannya sebagai teoritikus
fisika yang termasyur di dunia.
Seberapa jauh kita
berusaha, itulah yang menentukan keberhasilan kita di masa depan nantinya.
Orang-orang di atas telah membuktikan pada kita semua, bahwa keterbatasan
adalah tonggak untuk berusaha lebih keras, dan tidak putus asa untuk menghadapi
hidup. Segala kekurangan akan selalu ada jika kita menengok ke belakang. Akan
tetapi, kekurangan tidak diciptakan untuk membebani kita. Tapi kekurangan itu
diciptakan untuk mendorong kita lebih keras, untuk mencapai puncak tertinggi
dari kehidupan kita.
Comments
Post a Comment