Bermimpilah, Maka Kamu Akan Sampai

sumbe foto pribadi di indramayu
“Walaupun banyak hal terlalu ganjil untuk dipercaya, tiada hal yang terlalu ganjil untuk terjadi.” [Thomas Hardy]
Mungkin, pepatah ini terlalu muluk-muluk dan sulit dipercaya. Atau mungkin, ada yang menganggap terlalu mustahil untuk mempercayainya. Tapi tidak demikian dengan orang-orang yang pernah hidup di dunia ini, yang memiliki semangat yang tinggi untuk bisa mewujudkan mimpinya. Orang-orang ini adalah manusia hebat yang mampu mewujudkan mimpinya. Dengan kerja keras, pantang menyerah dan tekun dalam berusaha.
Mewujudkan mimpi itu dimulai dari hal kecil. Seperti kata Haryanto Kandani yang merupakan penulis buku motivasi yang berjudul THE ACHIEVER yang sampai saat ini telah menjadi National Best Seller di Indonesia bahkan menjadi buku wajib beberapa perusahaan atau organisasi serta beberapa kali diliput sebuah koran sebagai Recommended Book. Beliau juga adalah seorang Achievement Motivator, Personal Coach dan Self Improvement Trainer yang berfokus pada peningkatan pencapaian pribadi seseorang dengan menekankan perubahan mindset serta karakter. Ia berujar bahwa jika ingin menjadi orang yang sukses, kuncinya salah satu adalah berikan perhatian pada hal detail.  Perhatian kita pada hal-hal detail akan membawa kita semakin menonjol dalam pekerjaan karena mungkin tidak semua orang akan memperhatikan apa yang seharusnya dibenahi atau ditindaklanjuti.
Untuk bisa ewujudkan mimpi itu dimulai dari sekarang, bukan nanti. Siapa pula yang tak kenal dengan tokoh hebat yang bernama Ludwig Van Beethoven? Mungkin sebagian dari kita sering mendengar lagu-lagunya diputar. Dia adalah komponis musik klasik dari Jerman. Karyanya yang terkenal adalah simfoni kelima dan kesembilan, dan juga lagu piano Fur Elise. Ia dipandang sebagai tokoh penting dalam masa peralihan antara Zaman Klasik dan Zaman Romantik.
Semasa muda, ia adalah pianis yang berbakat, popular diantara orang-orang penting dan kaya di Wina, Austria, tempatnya tinggal. Namun pada tahun 1801, dia mulai mengalami gangguan pendengaran. Gangguan pendengarannya semakin parah dan pada tahun 1817 dia menjadi tuli sepenuhnya (tunarungu). Meski Beethoven tak lagi bisa bermain dalam konser, dia terus mencipta sebagian karya-karyanya yang terbesar. Hal inilah yang patut kita contoh, meskipun berada dalam keterbatasan, Beethoven mampu untuk mewujudkan impiannya dengan kerja keras. Semangatnya yang luar biasa dalam menghadapi kekurangannya itulah yang membuatnya menjadi orang yang luar biasa.
Kisah lainnya berasal dari seorang editor, penulis dan jurnalis kenamaan dari majalan Prancis ELLE. Dia adalah Jean-Dominique Bauby. Pada tahun 1995, dia menderita serangan jantung yang sangat parah dan mengakibatkannya koma selama 20 hari. Setelah bangun dari koma, dia menderita sindrom syaraf yang sangat langka, yaitu bernama Locked Syndrome. Ssindrom ini membuat si penderita lumpuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, namun tetap memiliki pikiran yang sadar. Dalam kasus seperti ini, dia masih bisa mengedipkan matanya.
Jean-Do tetap bisa menulis sebuah buku berjudul Diving Bell and the Butterfly dengan cara mengedipkan matanya ketila penulis yang membantunya menunjuk huruf yang benar. Ia harus mengedit dan mengarang buku tersebut sepenuhnya dalam kepalanya, huruf demi huruf. Ia meninggal dua hari kemudian setelah buku tersebut dirilis. Penderitaan yang ia alami ia abaikan, dan ia berjuang untuk mewujudkan sesuatu yang berharga untuk orang lain, yang bisa dibaca oleh banyak orang.
Setiap orang bisa mewujudkan impiannya, tak peduli seberapa besar keterbatasan yang ada pada dirinya. Tokoh lainnya adalah Stephen Hawking, yang merupakan ahli fisikawan teoritis. Dia adalah professor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge. Dia dikenal dengan sumbangannya pada fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai kosmologi, gravitasi kuantum dan lubang hitam. Salah satu tulisannya yaitu A Brief History of Time menjadi best seller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut.
Meski mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik, karier ilmiahnya terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun. Gejala sklerosis lateral amiotrofik membuatnya kehilangan hampir seluruh kendali neuro muskularnya. Ia tidak dapat makan atau bangun tidur sendiri. Suaranya tidak jelas sehingga hanya bisa dimengerti oleh orang yang sudah mengenalnya dengan baik. Ia tidak menyerah begitu saja, buku-buku dan penampilan publiknya menjadikannya sebagai teoritikus fisika yang termasyur di dunia.
Seberapa jauh kita berusaha, itulah yang menentukan keberhasilan kita di masa depan nantinya. Orang-orang di atas telah membuktikan pada kita semua, bahwa keterbatasan adalah tonggak untuk berusaha lebih keras, dan tidak putus asa untuk menghadapi hidup. Segala kekurangan akan selalu ada jika kita menengok ke belakang. Akan tetapi, kekurangan tidak diciptakan untuk membebani kita. Tapi kekurangan itu diciptakan untuk mendorong kita lebih keras, untuk mencapai puncak tertinggi dari kehidupan kita.


Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712