Di Tengah Temaram Lampu Gedung Juang Pati
Malam ini, tanggal 18 November 2017 diadakan acara yang bertajuk Dewan Kesenian Pati Dinamika Gerak dan Bunyi. Saya baru saja menghabiskan satu porsi bebek kriwil di pojokan gedung ketika sekumpulan anak anak berpakaian kuning tampil. Mereka bermahkotakan daun warna hijau. Dari kejauhan, mereka yang masih kecil memainkan alat musik dan bernyanyi.
Sego tewel enake, ketiban dhingklik aduh make...
Banyak anak anak seumuran mereka yang menyaksikan di samping kiri dan kanan saya. Mereka melihat pertunjukan dengan khidmat, dan sesekali bergurau dengan teman di sebelah mereka. Ada satu pengunjung disamping kiri saya yang menirukan lagu yang di bawakan oleh sekumpulan anak ini. Ia seumuran saya -mungkin- menyanyikan lagu yang sama yang dibawakan oleh sekumpulan anak di panggung. Selain dia, tak ada yang menirukan. Saya sendiri, tahu lagu tersebut. Lagu tersebut mengingatkan saya jaman dahulu kala ketika memakan nasi tewel begitu sedapnya. Tak ada lauk lain selain nasi itu dengan ikan bandeng goreng, dan lagu lagu yang dinyanyikan anak anak tersebut mengingatkan betapa dahulu begitu mahalnya untuk membeli makanan fast food, hamburger, ataupun pizza, tak pernah ada keinginan untuk membelinya, bahkan mengangankannya. Maka dari itu, nasi tewel adalah sebuah kesederhanaan dan kerja nyata bentuk penghematan atas kesadaran ekonomi yang hampir paceklik di masa itu. Nasi tewel yang digambarkan di lagu tersebut, mengingatkan lagi bagaimana anak anak zaman old meracik sendiri mahkota mereka dengan daun nangka. Persis seperti apa yang dipakai oleh anak anak yang ada di panggung. Mahkota dari nangka, yang sekaligus dirangkai dengan bambu, atau biasa disebut biting, sekarang dirangkai dengan staples. Zaman old tidak mengenal budaya Kpop, budaya koplo, ataupun budaya harajuku. Budaya itu jaih di luar apa yang dulu anak anak seusia saya tidak pernah membayangkan untuk digapai. Namun sekarang, begitu mudahnya mendapatkan akses melihat, menyukai dan mengikuti budaya lain, membuat zaman now menjadi lebih gempita. Pengadopsiannya pun begitu rapid, massive dan terkondisikan karena mendatangkan pemasukan. Mahkota nangka sudah jarang sekali dibuat oleh anak anak zaman now. Anak anak zaman now lebih akrab dengan baby shark, dengan micin dan dengan android. Mereka bergerak mengikuti zaman yang cepat dan tersingsal singsal. Ada pepatah yen ora edan ora keduman. Kegilaan anak anak millenial pada hobinya telah bergeser pada komunitas komunitas adopsi dari luar, yang perlahan kebudayaan pribumi terkikis dan mengalami koma, bahkan bisa jadi sudah punah. Apakah menjadi waras di tengah kegilaan zaman now adalah sebuah keniscayaan?
![]() |
| Suasana Pementasan di Gedung Juang Pati. Copyright by: Niken Kinanti |
Banyak anak anak seumuran mereka yang menyaksikan di samping kiri dan kanan saya. Mereka melihat pertunjukan dengan khidmat, dan sesekali bergurau dengan teman di sebelah mereka. Ada satu pengunjung disamping kiri saya yang menirukan lagu yang di bawakan oleh sekumpulan anak ini. Ia seumuran saya -mungkin- menyanyikan lagu yang sama yang dibawakan oleh sekumpulan anak di panggung. Selain dia, tak ada yang menirukan. Saya sendiri, tahu lagu tersebut. Lagu tersebut mengingatkan saya jaman dahulu kala ketika memakan nasi tewel begitu sedapnya. Tak ada lauk lain selain nasi itu dengan ikan bandeng goreng, dan lagu lagu yang dinyanyikan anak anak tersebut mengingatkan betapa dahulu begitu mahalnya untuk membeli makanan fast food, hamburger, ataupun pizza, tak pernah ada keinginan untuk membelinya, bahkan mengangankannya. Maka dari itu, nasi tewel adalah sebuah kesederhanaan dan kerja nyata bentuk penghematan atas kesadaran ekonomi yang hampir paceklik di masa itu. Nasi tewel yang digambarkan di lagu tersebut, mengingatkan lagi bagaimana anak anak zaman old meracik sendiri mahkota mereka dengan daun nangka. Persis seperti apa yang dipakai oleh anak anak yang ada di panggung. Mahkota dari nangka, yang sekaligus dirangkai dengan bambu, atau biasa disebut biting, sekarang dirangkai dengan staples. Zaman old tidak mengenal budaya Kpop, budaya koplo, ataupun budaya harajuku. Budaya itu jaih di luar apa yang dulu anak anak seusia saya tidak pernah membayangkan untuk digapai. Namun sekarang, begitu mudahnya mendapatkan akses melihat, menyukai dan mengikuti budaya lain, membuat zaman now menjadi lebih gempita. Pengadopsiannya pun begitu rapid, massive dan terkondisikan karena mendatangkan pemasukan. Mahkota nangka sudah jarang sekali dibuat oleh anak anak zaman now. Anak anak zaman now lebih akrab dengan baby shark, dengan micin dan dengan android. Mereka bergerak mengikuti zaman yang cepat dan tersingsal singsal. Ada pepatah yen ora edan ora keduman. Kegilaan anak anak millenial pada hobinya telah bergeser pada komunitas komunitas adopsi dari luar, yang perlahan kebudayaan pribumi terkikis dan mengalami koma, bahkan bisa jadi sudah punah. Apakah menjadi waras di tengah kegilaan zaman now adalah sebuah keniscayaan?

Comments
Post a Comment