Bab Yang Hilang
Suatu malam yang panas, aku terbangun oleh gerahnya suasana. Saat itu kulihat layar hape dan menunjukkan pukul 01.43 WIB. Gerah sekali, gumamku pelan. Ibu membangunkanku setelah sebelumnya mengetok pintu kamarku.
"Listrik mati, "
Katanya lalu meninggalkanku dan membuka pintu kamarku.
Aku tergagap. Ada perasaan sebal karena dengan kondisi yang panas, aku tak nyaman untuk tidur lagi. Akhirnya kuputuskan untuk menanak nasi di jam genting seperti itu. Dengan pedenya aku mencuci beras dan menghidupkan magic Jar. Tentu saja lampu Magic Jar tidak dapat hidup lampunya, itu artinya tak ada aliran listri. Semakin aku sebal karena perasaan tak nyaman karena panas dan cenunuk karena gelap. Aku memindahkan nasi yang sudah kucuci dari Magic Jar ke panci. Kuhidupkan kompor dan menunggu di depan pintu. Kubuka lebar pintu dapur sambil terpekur melihat handphone yang jelas2 tak ada sinyalnya. Sambil memasak, perasaanku begitu haru. Aku terbangun dengan semacam mimpi yang hampir nyata. Aku merasa ditemani oleh Mbah Dok, nenek perempuanku yang sudah meninggal, yang biasa aku tinggali rumahnya ketika masih kecil. Ia seperti berada di sampingku, tepat di samping kananku dengan memakai kipas kuno, kipas bambu yang dianyam dan di warnai dengan pewarna kesumba. Aku sering ingat sebelum tidur, ia membersihkan kasur atau dipan yang terbuat dari kapuk randu. Lalu menyuruhku naik dulu ke kasur, dan ia melepas udet yang ia pakai, mengolesi dengan minyak PPO di kepalanya lalu mengipasi aku yang berada di sebelah kirinya.
Disaat listrik mati seperti ini, ingatanku juga ikut ngelangut ke masa lalu. Apakabar mbah, baik baik disana. Da maafkan cucumu ini yang belum bisa mengipasimu dan membuatmu bangga.
Comments
Post a Comment