Keimanan Yang Bertambah

Dalam suatu kali di kehidupan, pasti kalian akan merasakan keimanan yang bertambah. Baik itu mengenai kematian, mengenai kehidupan atau mengenai jodoh dan rejeki. Bab iman yang bertambah, bahkan ada dalilnya. Berikut saya kutip sedikit sesuai dengan yang pernah saya baca.
Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4). Dalil ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah.
Kali ini, meskipun landasannya adalah ayat AlQuran, saya mencoba menuliskan pengalaman yang saya alami mengenai keimanan.
Pertama tama, dimulai dari keimanan mengani jodoh. Di umur saya yang hampir mencapai angka tiga, sebut saja umur saya sekarang 27 tahun, ada kegalauan dan kekhawatiran yang mendalam perihal jodoh yang akan datang, atau bahkan tidak sama sekali. Mengapa hanya ada dua pilihan? Karena hidup hanya ada 2 pilihan, kalaupun ada pilihan yang lain berarti itu adalah soal ujian akhir semester.
Saya tidak menjudge dalam hal ini, tentang beberapa sahabat saya yang sudah menikah dan membina biduk rumah tangga jauh ketika saya masih sekolah SMA, atau bahkan jauh ketika saya masih skolah SMP. Beberapa kondisi menyebabkan mereka menikah dini, dan sampai sekarang beranak pinak dengan baik, lalu ada beberapa yang cerai juga.
Menjalani hidup dalam bingkai pernikahan di usia belia, buat saya adalah suatu keberkahan. Jodoh datang cepat bagi sahabat saya, dan beberapa yang lainnya, seperti saya, mengalami penantian panjang tak kunjung sampai. Seolah olah sangat panjang prosesnya dan dilalui dengan tertatih dan air mata berlinang dalam doa panjang di malam hari.
Pemikiran itu selalu dikuatkan oleh sahabat saya, bahwa menikah bukan perkara yang bahagia saja. Ia selalu menyemangati saya dengan petuah petuah yang baik. Ia, sahabat saya ini, sedang mengalami masa masa menjadi mommy yang bahagia. Dibalik kegiatannya melayani pasien di pusat kesehatan masyarakat, ia menikmati prosesnya sekarang. Kalau saya tanya, bagaimana rasanya hamil? Mual? Ia selalu menjawab agar saya sendiri mencoba. Ia tak pernah berbicara banyak tentang kehamilannya kepada saya, mungkin takut menyakiti. Tapi sejauh yang saya tahu, dia sering memberikan nasehat nasehat yang baik.
Beberapa sahabat yang lain juga memberikan support kepada saya, dengan berbagai bentuk. Dan saya, sebagai kaum jomblo millenial, pun menerima dengan terbuka. Ibarat sedang mengungsi, posko bantuan selalu saya buka dengan bahagia.
Suatu hari, saya memikirkan beberapa penyair dan sastrawan atau seniman yang menikah di ujung atau detik detik kadaluarsanya umur. Saya sebut satu satu dalam hati saja, takut nanti yang empunya membaca tulisan ini dan tertohok. Lalu saya bulatkan tekad, toh mereka menikah disaat yang tepat, gumam saya. Lalu suatu berita digembar gemborkan bahwa salah satu sastrawan dari Makassar, yang menulis tidak ada new york hari ini, menikah. Sontak kabar itu membuat saya terguling guling dan mewek drastis sambil bergumam, akhirnya nikah juga. Kenapa saya kaget? Karena sebagai orang yang tak tahu dekat bagaimana kesehariannya dan hanya membaca biodatanya, saya hanya tahu sekilas bahwa kerja dan menulis yang ia lakukan adalah kerja sunyi, lebih sepi dari komentar komentar yang sering nyinyir di linimasa. Dalam sebuah perpustakaan yang penuh buku, saya membayangkan hidup yang berkalang literasi, menulis dan kerja terpekur dari tiap halaman buku. Saya pernah mengenal orang yang sama, yang menikah ketika ia memenangkan sayembara menulis. Betapa menikah adalah sesederhana itu. Yang mewah berasal dari pemaknaannya. Tapi, orang yang dahulu saya kenal itu, adalah generasi yang jauh diatas saya, ssdangkan penulis yangbbaru menikah ini, adalah penulis yang masuk generasi sastrawan millenial, meski umurnya sudah (tentu) matang.
Keimanan saya akan jodoh bertambah begitu saja. Hal yang saya ragukan menikah, akhirnya menikah juga. Itu membuat saya betul betul shock, dan selalu bertanya dalam hati, " Toh akhirnya ia menemukan pendamping hidupnjuga, yang bahkan ia sudah mengenalnya sepuluh tahun yang lalu dari sekarang, dengan bibit bibit kesukaan yang sama yaitu membaca di perpustakaan sekolah. Betapa syahdunya. Yang saya yakini dan meragukan, telah terang benderang. Kerja menulis, menekuri buku, Tuhan tak pernah salah menunjuk partner hidup disaat yang tepat. Bukankah lebih bijak dipertemukan dengan cara yang baik, tak tergesa, alami dan bahagia? Tuhan telah begitu baik memberikan saya anugerah untuk bersekolah lagi, dalam keluarga yang mendukung saya pagi dan malam. Setidaknya, saya ingin membahagiakan mereka dulu, sebelum saya nantinya melepas masa lajang saya menuju pernikahan yang penuh kejutan dan kebahagiaan. Kebersyukuran ini tak bisa digantikan oleh apapun. Alhamdulillah...

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712