Penulis yang Membuatku Selalu Waspada Untuk Melihat Kaca Spion
Hari minggu pagi, di kota solo. Pagi yang
cerah, dengan langit yang indah. Sebuah acara, bedah buku. Yang menyebabkan
kekecewaan karena tak jadi dibedah. Masyarakat belum bijak jika belum bisa melihat
masa lalunya. Ia boleh saja melihat ke depan, melakukan pemilahan dan selektif
dalam sebuah acara. Namun, ada kalanya, dalam filosofi spion, semestinya spion
itu digunakan untuk melihat sesekali. Seseorang yang menjalankan fungsi
kenegaraan, ibarat sebagai pengendara sepeda motor yang mengendarai motornya. Ia tak bisa sekenanya selalu
melihat ke depan. Adakalanya ia butuh untuk melihat di kaca mungil spion yang
berbentuk cermin cembung. Agar seseorang bisa mengetahui sejauh mana ia telah
pergi, telah melewatkan harinya selama ini. Ia bisa mengevaluasi jalan, apakah
keberadaaan kendaraannya itu terlalu tengah atau tidak. Dengan kaca spion yang
mungil, seseorang akan bisa menjadi lebih waspada.
Itu pula yang terjadi pada acara bedah buku
Gerwani yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan mei 2012. Beberapa pihak
menolak acara tersebut dikarenakan adanya kecenderaungan jika bedah buku
tersebut dilaksanakan maka akan terjadi ketimpangan keadaan yang menyababkan
ketidakstabilan moral dan intelektual. Ibarat pepatah, warga negara yang baik
adalah warga negara yang mengenal baik sejarahnya. Seseorang tidak akan bisa
disebut sebagai manusia jika ia tidak menilik dulu ke belakang, dari manakah ia
berasal, dari sejarah apakah ia berawal. Bagaimanakan prosesnya sampai seperti
itu. Manusia yang baik adalah manusia yang menghargai proses. Proses yang
menjadikan hal tersebut menjadi lebih baik. Proses yang selalu berlanjut.
Proses yang tidak melupakan masa lalu tetapi menjadikan masa lalu sebagai tahap
dari sebuah pembelajaran. Ada baiknya kita sejenak melihat proses masa lalu itu
dalam sebuah framen yang ilmiah, melalui diskusi buku contohnya. Bukan dengan
menghakimi dan mnegubur segala peristiwa yang telah erjadi dan menyebabkannya
menjadi hl yang tak patut untuk diperbincangkan. Ada kalany akita butuh membuka
kenangnan kita melalui sebuah bingkai yang sudah tertata rapi. Bukan untuk
mengingatnya melainkan untuk sejenak mengannag, dan tentungya dengan harapan
agar di masa depan menjadi lebih baik dari sekarang.
Penulis itulah yang membuatku selalu wapada
melihat kaca spion. Bukan untuk menjadikan kaca spion sebagai pajangan semata,
akan tetapi sebagai tamparan keras, bahwa kita bukan satu-satunya pemilik masa
lalu. sedih, senang, mengharukan, nestapa. Toh itu telah terjadi di masa lalu.
pembelajaran,. dan diambil yang positif, dibuang yang negatif. Penulis ini
mengajari kita keberterimaan terhadap hidup. Bahwa sesekali, hidup itu perlu
menengok pada spion. Tidak untuk dijadikan sebagai momok yang mengahntui. Hanya
dipandang sekilas saja, jika sudah benar, maka menghadaplah ke depan. Bukan
melulu mengaca dan membetulkan poni di spion.. Berkenalanlah dengannya, maka ia
akan membuatmu berpikir untuk menengok kaca spion sesekali.
Comments
Post a Comment