Plurarisme, antara yang baik dan keterikatan emosional
Plurarisme dipandang sebagai penawar yang
baik antara berbagai budaya yang saling selam antar bangsa. Multikulturarisme
digemborkan beberapa tahun setelah globalisasi berakar dan diberi tendensi
ekonomi.
Malaysia,
yang diklaim sebagai pencuri budaya milik Negara Indonesia, mulai detik ini
telah menacapkan sebuah ketakutan tersendiri pada warga negaranya yang merasa
tak mampu menjaga budayanya. Berbongong-bondong masyarakat memberikan ruang
yang dimulai dari kecil untuk menjaga kelestarian budaya. Ada lomba tari, lomba
apapun yang bisa dipertontonkan agar klaim budaya itu tidak dilakukan
Trauma
mendalam ini tentunya ada yang berdampak baik pada masyarakat, ada yang
berdampak buruk dan ada yang menjelma jadi erasaan acuh tak acuh pada diri
seseorang.
Alhasil,
multikulturalisme tidak akan menjelma jadi suatu yang nyata jika ditilik dari
sikut menyikut kepentingan ekonomi, dengan istilah mencuri kebidayaan Negara
tetangga.
Hal
tersebut membawa dampak traumatis yang tak berkesudahan bagi ketakutan
masyarakat akan arti kehilangan, dan tentang arti rasa nasionalisme dan
keterakaran yang kuat pada budaya. Penutur-penutur pada masa lampau buktinya
ada beberapa yang harus berakhir, beberapa peduli, akan tetapi banyak yang
tidak memperkaran hal ini. Keengganan menjalin komunikasi dengan sang terdakwa,
dalam kasus ini adalah masyarakat di dua Negara ini, yang menajdi tidak akur
dan adanya rasa peperangan meskipun dengan warga Negara yang jelas-jelas tidk
tahu menahu mengapa Negara nya dicap
sebagai pencurui atau dicap sebagai pembatnu.
Plurarisme
akan bisa hadir dengan baik jika diiringi oleh kedewasaan masyarakatnya untuk
mengenali dan mencintai kata “maaf”. Pemaafan dalam artian kebesaran hati untuk
menerima dan tidak mendendam pada Negara tetangga.
Comments
Post a Comment