Kemasukan Duri
Jadi ceritanya gini. Bulan puasa di tahun 2019 ini nyatanya bikin euforia tak terhingga. Warung warung makan sepi di siang hari namun menggoda untuk di masuki. Beberapa teman bilang” Apalagi warung Tegal yang tirainya tersibak setengahAntara tutup atau buka.

Puasa kali ini saya menghabiskan banyak waktu di rumah yaitu di Kota Pati. Beginilah adanya menjadi pengangguran sukses. Sukses masuk sebagai ASN di tahun ini tapi juga itu artinya sukses resign dari kampus saya bekerja yaitu di Departemen Layanan Informasi Dan Kesehatan Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Atau nama kerennya DLIKES.
Syudah sejak 1 Maret ini saya menghabiskan waktu untuk nulis baca tidur makan geprek. (Tapi makan gepreknya dikurangi perihal perut sekarangtidak tahan dengan yang pedes pedes). Jadi kalau ini bulan Mei maka sudah sekitar dua bulan resmi menjadi pengacara yaitu pengangguran banyak acara.
Kembali ke cerita mengenai kemasukan duri. (Untung cuman kerongkongannya yang tertusuk duri. Bukan hatinya). Insiden itu terjadi ketika hari ketiga puasa. Karena simbah kakung Peno dari Boyolali pengen makan ikan bakar, jadilah kami sekeluarga termasuk mbah Tuminah berangkat sore sore untuk menuju spot makan enak dan murah di Pati. Lokasinya di sebelah timur pendopo kabupaten Pati. Cuman setelah kami tiba disana ternyata pindah tempat. Tak tahu rimbanya. Kek warung warung lain disekitaran alun alun karena eh karena konon alun alun kita mau direnovasi. (Yeee)
Jadilah kami putuskan untuk makan di tempat yang bisa dijangkau dan itu di Omah Cabe. (Taraaa). Sampai disana sudah sesak para pemburu buka. Kami akhirnya kebagian makan di kursi berpayung yang di dekatnya ada kolam ikan. Gazebo gazebo yang biasanya sepi, di hari itu ramainya luar biasa. Ketika menu di hidangkan, otomatis mulut ini bilang pengen cumi. Tapi sepertinya sekeluarga kompak pengen ikan mujair. Walhasil suara minoritas gak masuk hitungan karena ini musyawarah untuk mufakat.
Baru pertama makan, ada yang mengganjal. (Karena diri sendiri ambigu dan bingung merasakanapakah ini karena sakit radang yang belum sembuh atau ada sesuatu yang menyangkut. Kata hati “ Oke tahan dulu. Makan nasi lagi. Makan tempe. Jangan dikunyah langsung telan bulat. “. Sampai sendok terakhir masih aja ada yang ngganjal. Sampai rumah. Sampai tidur juga. Sampai sahur esoknya. Sampai gak tahan dan akhirnya disuruh mamah pagi pagi buat ke dokter THT. Danakhirnya jawabannya bukan karena duri sodaraaah. Tapi karena amandelnya bengkak dan harus segera dioperasi. 😬
Comments
Post a Comment