Sapto dan Laut yang Ia Peluk (Sepotong ESSAI untuk CERPEN "KABAR DARI LAUT" karya Dina Ahsanta Puri)
(http://lembahkelelawarsastra.blogspot.com/) Sapto,
dalam pandangan saya adalah nelayan buruh.Ditinjau dari sudut pandang
penguasaan dan peralatan untuk menangkap ikan, iamenempati struktur ke
dalam kategori yang hanya menyumbangkan jasa tenaganya untukmenangkap
ikan dengan memperoleh hak-hak yang terbatas. Dalam masyarakatpertanian,
nelayan buruh identik dengan buruh tani. Secara kuantitatif,
jumlahnelayan buruh lebih besar dibandingkan dengan nelayan pemilik.
Nelayan pemilikmemiliki dan menguasai alat-alat produksi ataupun alat
tangkap, termasukperahu, jaring, dan perlengkapan yang lain.
Pekerjaan Sapto yang tinggal pesisir, menjadikan lautsebagai mata pencaharian tetap, menjadikannya menjadi pribadi unik. Di laut, iatidak mencari ikan. Ia mencari mayat. Mayat yang dicari Sapto adalah mayat yangdalam istilah Wikipedia mengalami rigor mortis atau kaku mayat, yang merupakansalah satu tanda fisik kematian. Rigor Mortis dapat dikenali dari adanya kekakuanyang terjadi secara bertahap sesuai dengan lamanya waktu pasca kematian hingga24 jam setelahnya. Kaku mayat sendiri muncul setelah 2 jam pasca kematian. Mayat terapung umumnya membengkak dikarenakan prosesmetabolisme tubuh sudah tidak bekerja lagi. Tubuhyang membengkak secara fisika bertambah volumenya. Ada kemungkinan gas-gaspembusukan terbentuk dalam tubuh terperangkap dalam tubuh mayat. dengan asumsimassa tubuh tidak berubah. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana seorangSapto dengan instingnya membaca arah angin dan gelombang laut untuk mengenaliadanya mayat yang sedang mengapung di laut. Pastilah Sapto akan keluarmenemui laut. Duduk sejenak di hamparan pasir yang tak tersentuh oleh ombak.Mencoba membaca isyarat laut sebelum berlayar ke tengahnya.
Orang Laut, seperti jugaSapto, dalam buku Hikayat Abdullah, karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi,adalah seperti ini, “Orang laut biasa tidak berbaju, baik laki-laki maupunperempuannya, hanya sehelai kain yang tiada berwarna yang dipakainya. Kering basahtubuhnya dan busuk baunya pun tidak dapat dikira. Tiadalah mereka tahu membuatrumah di darat, seumur hidupnya dalam perahu, beranak cucu, sampai kawin danmati di perahu.”. Dedikasi Sapto pada laut, mungkin sudah berbeda sepertimasa sekarang ini. Tentu ia sekarang memakai baju, membuat rumah, dan tidak seumur hidup dalamperahu sebab ia memiliki Dirun yang harus ia rawat, hasil pernikahannya denganJumairoh..
Pantai kidulsebagai setting cerpen ini, mengingatkan saya kepada Legenda Hang Tuah. DalamLegenda Hang Tuah digambarkan bahwa berlayar di laut layaknya menggadaikannyawa. Nelayan ketika akan melaut, pergi dilepas beramai-ramai oleh sanakkeluarga dan ketika pulang dikelilingi kembali oleh sanak keluarga. Apabilamereka pulang selamat maka mereka akan dikelilingi sanak keluarga dalam keadaansuka cita, namun jika mereka kembali tinggal nama, keluarga yang berkumpul akanmembacakan doa kematian. Kebiasaan seperti itu, masih lamat-lamat dapatditemukan dalam cerpen ini, meskipun Sapto berlayar bukan untuk mencari ikan. “Warga secara beriringan mengantar kepergian Saptountuk mencari Karyo. Mereka sangat mengharapkan Sapto menemukannya. Entah masihhidup maupun sudah mati. Mereka juga membantu mendorong perahu Karyomenuju ke tengah laut.”
Dalam legenda Hang Tuah, disertakan pula beberapa syairpantun yang mengisahkan betapa berlayar di laut penuh dengan bahaya. Matapencahariaan yang berbahaya sebagai nelayan seperti itu, justru menjaditantangan bagi para pelaut. Pantun tersebut biasa disebut Lancang Kuning.Lancang Kuning sendiri, merupakan symbol yang lahir di kalanganmasyarakat pelaut, yang menjadikan mereka gigih dan bersemangat melaut,meskipun dikelilingi gelombang dan badai. Tak tampak dalam ceerpen ini pantun,karena kondisi nelayan yang mengalami keterpurukan membuat mereka sebisamungkin bertahan hidup dengan segala yang bisa mereka kerahkan.
Laut adalah simbol fluktuatif yang nyata. Ia sepertinilai tukar rupiah terhadap dollar. Itu pula yang ingin ditunjukkandalam cerpen ini bahwa ketika ekonomi merangsek dan menekan Sapto dengan keras,ia menggeliat dan mencari mata pencaharian lain seperti teman-teman Sapto yangsudah dulu berpaling pada buruh tani, buruhbangunan, dan pedagang. Kemiskinan banyak menimpa rumah tangga nelayan buruh,membuat para nelayan buruh bergulat dengan adanya kompetisi yang tidak seimbangantara pemilik modal yang mendanai kapal-kapal besar dengan nelayan buruh yangibaratnya hanya memiliki cadik kecil untuk melaut. Hal itu diperparah olehkelangkaan sumber daya sosial ekonomi yang semakin sulit diakses oleh nelayankecil, seperti ketersediaan solar yang bersudsidi khusus untuk nelayan.
Nyonya, dalam cerpen ini,teridentifikasi sebagai seorang wanita yang berpengaruh dengan parfum rosemary,dalam penggambaran perempuan energik, keras,berani dan menyukai petualangan. Apakah ia termasuk ke dalam nelayanpemilik yang memiliki ajudan, ataukah ia merupakan pemilik modal, ataukah iaadalah pemegang kebijakan yang memiliki suami tidak tahu diri yang berselingkuhdengan wanita lain, semuanya mungkin terjadi. Namun satu hal, saya tidak bisamembayangkan mengenai parfum rosemary. Saya rasa, cerpen ini mampumembuat saya merasa merinding ketika menyemprotkan parfum rosemary yangsaya coba di toko parfum. Selamat.
Niken Kinanti, bergiat di bengkel sastra Surakarta (liga kaumbudiman) dan Gandrung Sastra Pati. Dapat dihubungi di 085740888008
Pekerjaan Sapto yang tinggal pesisir, menjadikan lautsebagai mata pencaharian tetap, menjadikannya menjadi pribadi unik. Di laut, iatidak mencari ikan. Ia mencari mayat. Mayat yang dicari Sapto adalah mayat yangdalam istilah Wikipedia mengalami rigor mortis atau kaku mayat, yang merupakansalah satu tanda fisik kematian. Rigor Mortis dapat dikenali dari adanya kekakuanyang terjadi secara bertahap sesuai dengan lamanya waktu pasca kematian hingga24 jam setelahnya. Kaku mayat sendiri muncul setelah 2 jam pasca kematian. Mayat terapung umumnya membengkak dikarenakan prosesmetabolisme tubuh sudah tidak bekerja lagi. Tubuhyang membengkak secara fisika bertambah volumenya. Ada kemungkinan gas-gaspembusukan terbentuk dalam tubuh terperangkap dalam tubuh mayat. dengan asumsimassa tubuh tidak berubah. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana seorangSapto dengan instingnya membaca arah angin dan gelombang laut untuk mengenaliadanya mayat yang sedang mengapung di laut. Pastilah Sapto akan keluarmenemui laut. Duduk sejenak di hamparan pasir yang tak tersentuh oleh ombak.Mencoba membaca isyarat laut sebelum berlayar ke tengahnya.
Orang Laut, seperti jugaSapto, dalam buku Hikayat Abdullah, karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi,adalah seperti ini, “Orang laut biasa tidak berbaju, baik laki-laki maupunperempuannya, hanya sehelai kain yang tiada berwarna yang dipakainya. Kering basahtubuhnya dan busuk baunya pun tidak dapat dikira. Tiadalah mereka tahu membuatrumah di darat, seumur hidupnya dalam perahu, beranak cucu, sampai kawin danmati di perahu.”. Dedikasi Sapto pada laut, mungkin sudah berbeda sepertimasa sekarang ini. Tentu ia sekarang memakai baju, membuat rumah, dan tidak seumur hidup dalamperahu sebab ia memiliki Dirun yang harus ia rawat, hasil pernikahannya denganJumairoh..
Pantai kidulsebagai setting cerpen ini, mengingatkan saya kepada Legenda Hang Tuah. DalamLegenda Hang Tuah digambarkan bahwa berlayar di laut layaknya menggadaikannyawa. Nelayan ketika akan melaut, pergi dilepas beramai-ramai oleh sanakkeluarga dan ketika pulang dikelilingi kembali oleh sanak keluarga. Apabilamereka pulang selamat maka mereka akan dikelilingi sanak keluarga dalam keadaansuka cita, namun jika mereka kembali tinggal nama, keluarga yang berkumpul akanmembacakan doa kematian. Kebiasaan seperti itu, masih lamat-lamat dapatditemukan dalam cerpen ini, meskipun Sapto berlayar bukan untuk mencari ikan. “Warga secara beriringan mengantar kepergian Saptountuk mencari Karyo. Mereka sangat mengharapkan Sapto menemukannya. Entah masihhidup maupun sudah mati. Mereka juga membantu mendorong perahu Karyomenuju ke tengah laut.”
Dalam legenda Hang Tuah, disertakan pula beberapa syairpantun yang mengisahkan betapa berlayar di laut penuh dengan bahaya. Matapencahariaan yang berbahaya sebagai nelayan seperti itu, justru menjaditantangan bagi para pelaut. Pantun tersebut biasa disebut Lancang Kuning.Lancang Kuning sendiri, merupakan symbol yang lahir di kalanganmasyarakat pelaut, yang menjadikan mereka gigih dan bersemangat melaut,meskipun dikelilingi gelombang dan badai. Tak tampak dalam ceerpen ini pantun,karena kondisi nelayan yang mengalami keterpurukan membuat mereka sebisamungkin bertahan hidup dengan segala yang bisa mereka kerahkan.
Laut adalah simbol fluktuatif yang nyata. Ia sepertinilai tukar rupiah terhadap dollar. Itu pula yang ingin ditunjukkandalam cerpen ini bahwa ketika ekonomi merangsek dan menekan Sapto dengan keras,ia menggeliat dan mencari mata pencaharian lain seperti teman-teman Sapto yangsudah dulu berpaling pada buruh tani, buruhbangunan, dan pedagang. Kemiskinan banyak menimpa rumah tangga nelayan buruh,membuat para nelayan buruh bergulat dengan adanya kompetisi yang tidak seimbangantara pemilik modal yang mendanai kapal-kapal besar dengan nelayan buruh yangibaratnya hanya memiliki cadik kecil untuk melaut. Hal itu diperparah olehkelangkaan sumber daya sosial ekonomi yang semakin sulit diakses oleh nelayankecil, seperti ketersediaan solar yang bersudsidi khusus untuk nelayan.
Nyonya, dalam cerpen ini,teridentifikasi sebagai seorang wanita yang berpengaruh dengan parfum rosemary,dalam penggambaran perempuan energik, keras,berani dan menyukai petualangan. Apakah ia termasuk ke dalam nelayanpemilik yang memiliki ajudan, ataukah ia merupakan pemilik modal, ataukah iaadalah pemegang kebijakan yang memiliki suami tidak tahu diri yang berselingkuhdengan wanita lain, semuanya mungkin terjadi. Namun satu hal, saya tidak bisamembayangkan mengenai parfum rosemary. Saya rasa, cerpen ini mampumembuat saya merasa merinding ketika menyemprotkan parfum rosemary yangsaya coba di toko parfum. Selamat.
Niken Kinanti, bergiat di bengkel sastra Surakarta (liga kaumbudiman) dan Gandrung Sastra Pati. Dapat dihubungi di 085740888008

Comments
Post a Comment