TENTANG LELAKI PENYUKA SENJA (Cerpen Niken Kinanti di Buku Sepasang Kembang Mayang)





Ia damai hari ini dan seterusnya. Ia melihat sekeliling, dua orang anak kecil perempuan dan satu anak kecil laki-laki menaiki pohon jambu di lahan kosong yang letaknya dipisahkan oleh jalan di tempat pemakaman umum Bonoloyo. Mereka asyik memanjat di ranting kecil pohon jambu yang rindang. Ketika kejenuhan datang, mereka menuruninya perlahan, dan mendapati beberapa buah jambu yang tak bisa dibawa di kantong mereka, jatuh secara tak sengaja ke tanah yang berunput tak tinggi berwarna agak kekuningan karena panas di musim kemarau.
            Tak jauh dari mereka bermain, pria setengah baya yang memakai pakaian lusuh dan bercorak merah bunga-bunga hitam, tidur dengan pulasnya di pagar pemakaman yang terbuat dari keramik datar dengan bebatuan di bagian horisontalnya. Pria setengah baya itu menikmati tidurnya, ditemani kemboja putih yang menggugurkan diri tanpa risau ke tanah, sebagai tempat peristirahatan terakhir.
            Kamboja ke tiga ratus tiga puluh tiga belum menggugurkan diri. Kamboja itu bersiap-siap untuk jatuh, tapi ditahannya tubuhnya yang belum terlalu rapuh, dari permainan sang angin yang suka mencubiti tubuh rapuhnya. Kamboja tersebut menunggu waktu hingga merasa cukup, kemudian kamboja tersebut terbang dengan perlahan menuju tempat pembaringan. Seperti manusia, makhluk Tuhan lainnya.
            Ia menyaksikan dengan damai, hari ini dan seterusnya dari atas pohon, lebih tepatnya ranting di tingkat tiga yang membuat hidupnya leluasa menyaksikan pemandangan dunia. Motor bersliweran sesekali, mobil ambulance yang tiap hari datang silih berganti tak terbatas pada waktu, dan sesekali air mata yang menetes di pipi oleh para pejalan kaki.
            Ia masih ingat, waktu itu hari selasa di pagi yang hangat, seorang perempuan yang sangat ia kenal mengunjungi sebuah nisan. Perempuan itu memakai hijab berwarna hijau dan rok panjang berwarna hitam. Perempuan itu tak ditemani siapapun di pemakaman Bonoloyo. Ia duduk sebentar, membasuhkan air kendi ke nisan, menaburkan bunga, lalu duduk di sebelah kiri makam tersebut.
            Ia mendekat ke sisi perempuan tadi, mengamati perilaku perempuan yang sangat ia kenal. Perempuan itu menggumam dengan pelan.
            “Gimana mas, rasanya sendirian disitu, dingin tidak?”
            Ia tertawa mendengar perempuan itu meracau tentang dirinya. Ia masih mengingat bagaimana perempuan itu pertama kalinya menemuinya di bulan yang basah. Pakaiannya basah, hijabnya pun basah. Perempuan itu pertama kalinya memanggil sebuah nama,
            “Mas Barok ada?”
            Ia tertawa sekali lagi mengenang hal-hal yang masih bisa ia kenang sebelum waktunya selesai untuk tidak mengingat apapun.
            Perempuan itu pun bermain dengan jemarinya, lalu mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan puisi.
            Selalu ada senja yang membuat aku mengaguminya
            “Maksudnya gimana, mas? Aku tu bingung sama kata-kata ini. Mau tanya sama mas, tapi mas udah gak ada.”
            Ia menyaksikan perempuan itu lalu tersenyum simpul.
            Senja, itu adalah hidupku.
            “Kenapa sih mas seneng banget sama senja? Kok nggak suka sama pagi yang hangat, atau siang yang bersemangat.”
Namun, tak sekedar memandang bintang. 
“Tiap orang juga suka memandang bintang, mas. Mas juga pernah mengajariku menamai bintang-bintang tapi ada satu bintang yang katanya gak boleh dinamai. Aku pun waktu itu menurut saja. Tapi sekarang, aku malah penasaran, mengapa harus ada satu yang tidak boleh dinamai.”
Maka, aku tak kan berhenti apalagi menjahui. Kan kujaga dan kulanjutkan perjalananku untuk menjumpainya kembali.
“Ya mas, aku tahu mas adalah orang yang tidak akan gentar menghadapi apapun. Tapi mengapa secepat ini? Mengapa di usia yang semuda ini?”
Mungkinkah perjalananku malam ini semudah itu?
“Ini mas, yang aku gak habis pikir. Banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Apalagi waktu aku ketemu mas yang terakhir kali, di bulan Desember itu. Mas yang menyapaku pertama kali. Ada yang beda mas, ada yang beda denganmu.”
Perempuan itu tak melanjutkan kata-kata lagi. Perempuan itu menangis terisak, lalu membenamkan wajahnya di telapak tangannya yang halus. Perempuan itu tak menyadari, kalau sepasang tangan dari orang yang diajaknya bicara itu telah menyentuh hijabnya dengan lembut.
***





Biodata:
Niken Kinanti, perempuan kelahiran Pati, tahun 1990. Beralamat di desa Pohijo RT 4 RW 2 Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Menulis puisi, cerpen dan essai. Dapat dihubungi di kinantiniken@gmail.com dan HP 085740888008.





             

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712