KETIKA BIDAN MENGENAL KURIKULUM GENDER (Essai HPEQ di Bali, 2011)

(Guys, ini dari folder lama yang belum sempat aku upload.... selamat menyimak...)
Penelitian-penelitian di seluruh dunia menunjukkan bahwa kesehatan wanita dan kesempatan yang mereka miliki dalam kehidupan, secara langsung berkaitan dengan kekuatan ekonomi suatu negara dan tingkat pendidikan yang diperoleh anak-anak mereka  (Laura Bush).
Ketika kita mendidik seorang wanita, kita mendidik sebuah keluarga. Di banyak tempat, wanita memiliki kendala-kendala social dan budaya bagi kemajuan mereka, termasuk diskriminasi, keharusan untuk menyeimbangkan kehidupan keluarga atau keinginan untuk bekerja di luar rumah. Di samping itu, wanita juga merupakan target eksploitasi seksual, perdagangan manusia, dan kekerasan dalam rumah tangga. Salah satunya disebabkan karena kurangnya sumber daya pelayanan kesehatan yang memadai bagi wanita. Dalam konteks inilah, pendidikan popular termasuk pendidikan feminis menjadi penting dimasukkan dalam sekolah kesehatan terutama kebidanan, agar menjadi alat untuk mempercepat terjadinya transformasi social politik dalam masyarakat.
Dalam konteks masyarakat dunia yang masih didominasi oleh ideology patriarkhi, pendidikan feminis yang bertujuan membangun kesadaran kritis dan aksi-aksi transformative perempuan. Pola pendidikan feminis membantu perempuan untuk dapat mendefinisi dan merekonstruksi pola hubungan kekuasaan laki-laki dan perempuan yang selama ini timpang menjadi lebih adil, dan ini akan menjadi pondasi utama bagi perempuan untuk mewujudkan hak-hak asasinya. Ada tiga fungsi yang diemban pendidikan feminis, yaitu : 1) membangun kesadaran kritis perempuan, 2) mendorong aksi-aksi transformative perempuan dan 3) memperluas dialog-dialog konstruktif untuk perdamaian. Tujuan ini secara jelas menggambarkan proses pembelajaran kritis yang terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
                Dalam pendidikan feminis berbasis gender, perempuan mempunyai pengalaman yang khas dan spesifik sebagai kelompok yang dinomorduakan dan disubordinasi dalam masyarakat. Salah satu aspek pendidikan feminis adalah bagaimana memberikan pelayanan kepada perempuan, tidak menganggapnya sebagai objek tetapi sebagai manusia, ada unsur sosialnya. Dari sini perempuan kemudian diajak untuk melihat dirinya sendiri sebagai pembuat sejarah, bukan hanya sebagai objek pasif semata.
                Dengan mengetahui mengenai pendidikan feminis berbasis gender, para bidan akan bisa lebih punya empati, simpati  serta tidak diskriminatif. Kebanyakan, masalah kesehatan reproduksi bukan hanya disebabkan oleh masalah klinis akan tetapi juga disebabkan oleh masalah-masalah isu social. Contoh sederhana, Angka Kematian Ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca melahirkan, ditambah juga alasan karena keterlambatan pengambilan keputusan yang tepat dan cepat yang tidak dilakukan. Di dalam keluarga, karena yang mengambil keputusan adalah Bapak, maka Ibu yang ingin pergi ke fasilitas yang lebih memadai, harus ijin dulu kepada pengambil keputusan yaitu Bapak.
                 Apalagi, layanan pertama bidan adalah hamil atau  ibu baru, dengan penerima lain dalam lingkaran pelebaran sekelilingnya. Kebidanan memberikan contoh rapi kelangsungan jasa sebagaimana dimaksud sebelumnya. Bidan berpartisipasi dalam perawatan klien periode antenatal, perinatal dan postnatal menyeluruh, meliputi specterum dalam program berkesinambungan dan sevices kesehatan mendukung. Beberapa topik yang relevan khusus untuk kebidanan juga relevan dalam arti luas dari masyarakat -topics seperti kesehatan prakonsepsi, gizi antenatal dan keterampilan pengasuhan
. Dengan pendidikan bidan yang berbasis gender, maka mengakibatkan meningkatnya pelayanan kesehatan pada wanita, yang nantinya akan berimbas pada masyarakat dan mewujudkan kesejahteraan dunia.


Niken. dapat dihubungi di 085740888008

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712