Antara Banjir dan Surfing

Haloo.. hallooo Bandung, ibukota periangan... hallo. halo Bandung.. kota kenang kenangan. Masih juga banjir? Mari flashback lagi. Sebagai seorang urbaners dari Jawa yang pindah ke tlatah Sunda, betapa kota yang dingin ini membunuhku. Eh salah, maksudku menghujaniku dengan segala macam kuliner dan kemacetannya. Yah, betapa macet, sodara sodara. Kebayang gak sih, tiap hari Senin sampai Jumat, mahasiswa semester dua seperti saya harus bolak balik dari arah Katapang menuju kampus Eyckmann tercinta. Tau kan Eyckmann siapa? Buka kamus dulu gih. Dengan jarak sekitar 15 kilometer menurut google maps, ternyata butuh waktu sampai sejam lebih. Macet di Sayati lah, macet di leuwi panjang lah.. macet di ijan lah, macet di hatimu lah, hahaha.

Dan kali ini lebih parah, sodara sodara. Selain macet, ada lagi nih the most terrific problem tentang Bandung, maksudnya Kabupaten Bandung yaitu hujan deras yang disertai angin besar yang mengguyur, menyebabkan sejumlah jalan lumpuh. Ah, untuk lebih jelasnya mengenai lokasi mana saja, bisa kok googling di berita berita yang jadi trending topik sekarang.

Kayaknya perlu juga nih menengok masa lalu. Contohnya aja foto dari netizen @dllyrlngg yang  di-upload  dengan gaya nyentrik. Posting-an foto yang tergambarkan adalah seorang pria yang tengah asyik berselancar atau surfing dengan memanfaatkan derasnya arus air. Walhasil, tentunya ramai sekali komentar komentar dari para netizen lainnya dimana foto tersebut memperlihatkan seorang pria berambut panjang, bertelanjang dada, tengah asyiksurfing di aliran air berwarna cokelat. Aih, ngalah ngalahin Dede Suryana aja kang, yang merupakan atlet surfer dari Sukabumi, dan sudah gemar main main sama ombak sejak 7 tahun. Betewe baswe, sodara sodara saat berumur 7 tahun  dulu prestasinya apa yah? Main gundukah?

Betapa riangnya seorang surfer disaat banjir teresbut. Maybe ini tamparan buat pemerintah, yang notabene selalu peduli sama bantuan bantuan dan posko poskonya saat banjir, akan tetapi agak abai dengan lebar sungai di daerah  Kabupaten Bandung ini. Kapan nih ada relokasi? Kapan nih ada pengerukan sungai? Jangan sampai pepatah
Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum oleh bapak M.A.W. Brouwer menjadi sebaliknya, ketika Tuhan sedang menurunkan hujan. Gaswaaat!

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712