Greenpeace, Belajarlah Dari K.H. Anwar Zahid
Saya baru saja membuka web Greenpeace yang
berjudul stop the haze, let's work
together and protect Indonesia's forests and peatlands. Program yang
digadang gadang bisa menyelesaikan permasalahan hutan, asap dan lingkungan
tentunya menjadi titik tumpu perjuangan akan nasib kelestarian lingkungan di
Indonesia.
Pemerintah disalahkan dalam membuat regulasi
karena dirasa timpang terhadap gundulnya hutan, parahnya kabut asap dan
penjagaan personil yang kurang dalam menjaga hutan Indonesia. Semua pihak
merasa perlu membuat rumusan dan kebijakan yang bagus. Demo demo tidak pernah
berhenti selama tahun 2015. Gerakan kecil-kecilan mendukung penghijauan
digaung-gaungkan selama kurun waktu tersebut hingga sekarang.
Ekspektasi semua orang sungguh luar biasa. Banyak
yang membuat meme menarik untuk menyindir kabut asap. Banyak yang mencerca
kejadian tersebut, dan selebihnya, yang menerima dampak langsung dari kabut
asap, berharap agar permasalahan itu segera selesai.
Permasalahan pelik itu tak jarang membuat
beberapa pihak seolah mengalami jalan buntu. Mau dibawa kemana hutan Indonesia
kalau kebakaran dimana mana? Pertanyaan itu miris sekali ditanyakan sekarang.
Yang lebih parah lagi, apa yang akan kita wariskan pada cucu kita nantinya?
Asapkah? Hutan gundul? Kekeringan?
Duta lingkungan hidup dibentuk dimana mana.
Dengan tujuan mengkampanyekan stop perusakan hutan, menjaga kelestarian hutan
dan mengupayakan reboisasi dimana mana. Saya seolah olah dihadapkan pada
keadaan dimana para duta lingkungan ini seperti tak terjangkau. Beberapa
terlibat ketika ada acara yang benar benar terorganisir dalam sebuah forum,
selebihnya gerak geriknya tak terlalu dapat ditelusur masyarakat.
Duta yang seharusnya mengkampanyekan secara
maksimal program program peduli lingkungan, belum bisa menyasar masyarakat sari
semua lapisan. Tapi saya sepertinya merupakan sekumpulan orang yang apatis
melihat fenomena perayaan duta sebagai branding produk semata.Jauh diluar haha hihi pegiat lingkungan, siapa
sangka dari guyonan seorang kiayi bernama K.H. Aanwar Zahid yang diupload di youtube tanggal 5 Juni 2014, memaparkan
keterkaitan antara persepsi akulturasi budaya dikaitkan dengan agama yang salah
kaprah pada masyarakat Jawa.
Kiayi yang terkenal dengan guyonannya yang merakyat itu menyebutkan poin penting bahwa ada yang salah dari pembacaan kalimat ya hayyu ya qoyyum yang dimaknai sebagai yo kayumu yo kayuku, makane alase entek, begitulah, kayumu ya kayuku, makanya hutannya habis. Sakiki nyolong kayu moh ijen, yang artinya sekarang mencuri kayu tidak mau satu satu, tapi berjamaah. Makanya sampai ada niat nawaitu nyolong kayu makmuman lillahi ta ala. Lah bagaimana pejabat yang atas memberikan contoh, rakyatnya kalau tidak ikut maka tidak dapat.
Kiayi yang terkenal dengan guyonannya yang merakyat itu menyebutkan poin penting bahwa ada yang salah dari pembacaan kalimat ya hayyu ya qoyyum yang dimaknai sebagai yo kayumu yo kayuku, makane alase entek, begitulah, kayumu ya kayuku, makanya hutannya habis. Sakiki nyolong kayu moh ijen, yang artinya sekarang mencuri kayu tidak mau satu satu, tapi berjamaah. Makanya sampai ada niat nawaitu nyolong kayu makmuman lillahi ta ala. Lah bagaimana pejabat yang atas memberikan contoh, rakyatnya kalau tidak ikut maka tidak dapat.
Maka greenpeace, belajarlah dari K.H. Anwar Zahid
dengan metode metodenya yang centil namun menohok banyak jamaah. Revitalisasi
kampanye tak hanya dilakukan dari forum forum resmi, adakalanya forum tak resmi
seperti pengajian dan kumpul kumpul warga justru jauh lebih efektif, agar
jangan sampai waktu mendatang terucap lagi slogan yo kayumu yo kayuku. Saya dukung K.H Anwar Zahid sebagai duta
Greenpeace. Salam ngaji!
Comments
Post a Comment