Menjadi Kartini Di Era Digital: Bagaimana Seharusnya?

Kartini di era digital. Apa yang ada di benak saya adalah potongan-potongan gambar rancu yang coba saya rangkai kembali. Kartini sosok yang mengingatkan saya kepada kota Jepara dan Rembang. Pada tanggal 21 April 1879, saat itulah Kartini dilahirkan. Dan satu lagi tanggal penting, 17 September 1904. Di usia 25 tahun, ia meninggal. Perkara-perkara ini yang kemudian menjadi rancu. Ia, Kartini yang saya kenal melalui surat-surat yang ia tuliskan kepada sahabat penanya di Belanda, di umur semuda itu dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis, harus meninggal di umur semuda itu. Mengapa harus Kartini? Mengapa bisa terjadi seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian membuat saya tergelitik untuk menyelidiki lebih lanjut ke dalam pokok-pokok permasalahan yang terjadi.
            Kartini meninggal usai melahirkan anak pertamanya yang bernama Raden Mas Soesalit, empat hari setelah Raden Soesalit lahir. Itu artinya ia berada dalam masa nifas. Mengutip dari pernyataan dr Ardijansjah Dara, Kartini meninggal setelah melahirkan karena pre eklampsia. Tekanan darah Kartini naik dan sempat kejang. Bisa dibayangkan pada posisi nifas seperti itu pasien dengan kondisi kejang tekanan darahnya bisa di atas 130/90 mmHg.
Kembali pada meninggalnya Kartini, kita tilik kembali apa itu masa nifas. Masa nifas merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan, agar tidak terjadi masalah pada ibu nifas, karena dikhawatirkan jika tidak dipantau maka akan terjadi sepsis puerperalis. Dalam beberapa literatur juga disebutkan bahwa infeksi merupakan penyebab kematian terbanyak kedua setelah perdarahan. Lebih jauh, asuhan masa nifas sangat diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik bagi ibu maupun bayinya. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa 69% kematian ibu terjadi setelah persalinan.
Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana situasi saat Kartini memasuki masa nifas. Masa nifas dalam waktu setelah 24 jam sampai 1 minggu adalah masa nifas yang disebut sebagai early postpartum. Pada fase ini tenaga kesehatan, terutamanya bidan harus memastikan bahwa involusio uteri dalam keadaan normal, tidak perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam dan ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, dan ibu dapat menyusui dengan baik.
Sejarah meninggalnya Kartini tidak dapat dihapus begitu saja dari mata semua orang. Ada ketimpangan yang terjadi di dalamnya, yaitu absennya tenaga kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan primer terhadap Kartini. Ada hak-hak perempuan yang tidak terjangkau pelayanan medis disitu. Inilah pekerjaan rumah untuk kita semua, agar mulai mawas diri dan waspada, mengenai kasus kematian Ibu di Indonesia. Apalagi Angka Kematian Ibu di Indonesia yang tertinggi di Asia Tenggara. Survei terakhir SDKI menunjukkan bahwa angka kematian ibu meningkat menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah yang sangat miris.
Kartini di era digital. Saya mulai membayangkan Kartini hadir kembali sekarang. Dia, pahlawan yang memberikan kita inspirasi, sekaligus wanti-wanti. Inspirasi karena dengan pemikirannya yang mendunia, dan satu hal lagi yaitu kewaspadaan diri. Kartini hadir kembali disini, sebagai sosok yang sekiranya mendorong para perempuan agar lebih peduli. Era digital yang berkembang seharusnya menjadi ajang untuk menambah pengetahuan, utamanya kesehatan. Lupakan sejenak belanja-belanja, sebab kesehatan itu tiada duanya. Lebih baik tambah pengetahuan mengenai kesehatan sendiri, daripada browsing tak tentu.
Yah, saya selalu berandai-andai. Era digital yang pesat seharusnya bisa menjembatani para perempuan Indonesia mudah mengakses informasi maupun konsultasi kesehatannya. Mau screening, mau papsmear, mau apa saja seharusnya bisa semudah jentikan jari. Dan perempuan, mari buka mata lebar-lebar, sebab era digital bukan hanya untuk pamer foto selfie atau koar-koar sana-sini. Era digital harusnya membawa perubahan untuk perempuan yang melek teknologi, yang peduli terhadap kesehatannya dan keluarganya, dan yang kritis menghadapi perubahan. Mari, jangan sampai pengalaman pahit Kartini terulang kembali. Cegah sedari dini!


OLEH : Niken Kinanti,
Jalan Terusan Kopo Katapang Bandung Jawa Barat
Nomor telepon 085740888008, email kinantiniken@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712