Untuk Kekasihku: Mengapa Engkau Selalu Berbohong?




Aku sudah lelah menanyakan padamu: “Mengapa kau berbohong?” Kekasihku, apakah karena kau menganggap bisa hidup langgeng dengan kebohonganmu, lepas dari masalah, mendapat keberuntungan dengan kebohongan? Memang, terkadang dengan berbohong kama masalahmu sedikit tertolong untuk sesaat, sampai masalah selanjutnya tidak bisa kaulepaskan lagi. 

“Kapankah kebohonganmu itu bisa dimengerti?” Aku selalu mempertanyakan hal itu padamu meskipun kau acuh saja padaku akhir-akhir ini. Di dalam kebohongan, perasaan ketakutan dan kekalutan dirimu itulah yang sesungguhnya tertutupi. Bukankan berbohong berarti menutupi hal yang sebenarnya? Untuk sementara waktu memang bisa kaujadikan pegangan batin untuk mendapat ketenangan, akan tetapi tidak untuk masa depanmu. Itu menjadi kebiasaanmu sekarang, dan membentuk karaktermu sendiri secara utuh.
Sering dalam hidup ini kau membohongi dirimu sendiri. Dan tahukah, kekasihku, bahwa banyak hasil yang bisa dilihat dari sikap membohongi dirimu sendiri. Mulai dari yang biasa-biasa saja, sampai yang paling gawat! Ada orang yang berusaha hidup dengan membohongi diri sampai harus menderita macam-macam penyakit karena berbohong. Ada orang-orang yang berbohong dan mengingkari bahwa dirinya sering korupsi. Padahal ia sebenarnya korupsi waktu. Ia tidak tepat waktu. Ada pula wakil rakyat yang berbohong lewat janji  manisnya sebelum pemilihan. Itu juga kebohongan, sayangku. Apakah kau menikmati kebohonganmu padaku? Aku mulai suka menebak bahwa sesungguhnya dalam batinmu banyak rasa bersalah yang kaurasakan.
Kebohongan itu sakit, kekasihku. Itulah yang menimbulkan berbagai keluhan padamu, mulai dari ketegangan saraf yang menyebabkan sakit kepala, sampai kepada pengerasan pembuluh darah yang mengakibatkan penyumbatan, berlanjut menjadi gagal jantung dan stroke, dan penyakit menahun yang lain, seperti kanker. Akan kuberi contoh padamu. Banyak orang terkenal yang berusaha membohongi dirinya di balik ketenaran dan harta, sampai harus menelan obat sampai overdosis untuk bunuh diri. Kalau kau sempat tahu siapa dia, berbaliklah padaku. Jujurlah, itu yang terbaik untukmu.
Masihkan kau mengingat ketika pertama kali berbohong, kekasihku? Hal pertama kaulakukan saat mulai berbohong adalah kau akan memiliki rasa bersalah, gelisah, gemetar, keringat dingin, dan ketakutanmu yang begitu besar jika ketahuan. Dan bila ketahuan berbohong, maka kau akan merasa seperti kena setrum dan membuat badanmu menjadi lemas. Akan tetapi bila sudah terbiasa berbohong, maka selanjutnya kau tidak akan merasa bersalah atau malu atau sakit secara fisik, bahkan bila sudah ketahuan sekalipun.
Aku mulai memikirkan mengenai mythomania. Seorang mythomania tidak sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang berbohong. Ia tidak mampu membedakan antara ‘kenyataan’ yg berasal dari imajinasinya dan kenyataan yang sebenarnya. Aku mulai menemukan gejala itu padamu. Kebohongan-kebohongan yang kaulakukan cenderung ‘di luar‘ kesadaran. Artinya adalah kau tidak tahu/tidak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dengan kebohonganmu, karena yang terpenting bagimu adalah mendapat pengakuan oleh sekelilingmu, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin kau wujudkan demi melarikan dirimu dari kenyataan sebenarnya yang tidak mau kau terima, dengan tanpa rasa menderita.
Ketika kau mendapati orang lain mulai meragukan apa yang kau percaya, kau menjadi sadar telah berbohong. Jadi, semakin orang lain mempercayai kebohonganmu, semakin kau terbantu untuk lepas dari image nyata tentang dirimu yang sulit kau terima itu. Kau selalu pandai menemukan kalimat dan sikap yang tepat dengan tujuan supaya dicintai, demi mencapai tujuanmu.
Tahukah kamu, bahwa pada saat seorang mythomaniac sepertimu telah berhasil menjerat, sedikit demi sedikit kebohonganmu merusak dan mengganggu sistem kepercayaan dan keyakinan orang lain. Ketika aku dan mungkin juga orang lain  mulai sadar akan kebohonganmu, pada awalnya kau akan mengelak, kadang disertai dengan kemarahan, kemudian kau akan memanipulasi lagi dari awal dengan tetap pada kebohongan yang sama. Tetapi jika hal ini mulai kau rasakan berat, maka kau akan ‘mengkoreksi’ kebohonganmu dengan cara berbelit dan berputar-putar dengan cerita yang baru, dengan tanpa meninggalkan kebohongan awal. Semakin aku mempertanyakan kebohonganmu, semakin banyak kebohongan yang kau ciptakan karena pada titik ini, kau sadar telah berbohong, dan seorang mythomaniac yang sadar telah berbohong akan semakin lepas kendali.
Kekasihku, Mythomaniac sendiri sebenarnya adalah korban. Kau adalah  korban dari ketidakbahagiaan dalam hidupmu dan korban dari penderitaan yang terlalu terus menerus. Kau tidak mampu mengekspresikan keaslian dirimu sehingga selalu ingin bersembunyi di balik topeng. Aku hanya punya sedikit pilihan ketika aku mencintaimu. Jalan terbaik adalah menghindar darimu, bagaimanapun caranya. Sebab di masa depan nanti, kau akan pulang dengan kebohongan yang sama kepadaku, berkali-kali.
Pernah aku begitu bersikukuh ingin menolongmu. Aku tidak berusaha mencari alasan yang masuk akal, atau mencoba menemukan jawaban dari tindakan-tindakan kebohonganmu karena itu membuang-buang waktu saja. Pernah aku mencoba sedikit demi sedikit untuk berusaha mengerti mengapa kau berbohong, tapi ternyata hal itu adalah sia-sia saja karena jiwamu merupakan sebuah labirin di mana kau hanya berputar-putar saja disitu tanpa ada jalan keluar.
Hanya ada satu pilihan yang menurutku terbaik untukmu, kekasihku. Yang bisa aku lakukan adalah meyakinkanmu untuk menyembuhkan dirimu sendiri. Setelah itu, semua kembali kepadamu. Hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. Kau harus menyadari permasalahanmu sendiri, mengakuinya dan harus memiliki keingininan yang kuat untuk menyembuhkan dirimu.
Berbohong berarti melawan "bahasa kalbu" sebagai bisikan dari hati nurani. Kekasihku, aku yakin suatu saat kau akan memilih kejujuran, seperti ajaran yang selama ini kudengar dari Ibu Guru,  "Kejujuran yang membuatku terhina, itu lebih aku cintai daripada kebohongan yang membuatku terhormat. Kejujuran akan menyelamatkanku meskipun aku menyembunyikannya, dan kebohongan akan menjerumuskanku, meskipun aku menyembunyikannya". Semoga. Bersihkanlah hatimu. Seputih hatimu waktu dulu. Waktu kau bayi.

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712