Memaknai Kamar Mayat Yang Dihadirkan di Keramaian


Kamar mayat biasanya digunakan untuk penyimpanan mayat manusia untuk menunggu identifikasi, atau pemindahan untuk otopsi atau pelepasan yaitu penguburan, atau kremasi. Sedangkan di zaman sekarang, kamr mayat yang memakia pendingin biasanya digunakan karena menunda dekomposisi. 
Pasukan yang mau melihat Kamar Mayat. Copyright by: Niken Bayu Argaheni

Pada kamar mayat, dibeakan menjadi suhu positif dan suhu negatif. Pada suhu positif, badan disimpan antara 2 – 4 derajat  C, untuk menjaga tubuh sampai beberapa minggu tapi tidak mencegah pembusukan. Untuk suhu negatif, badan disimpan antara -10 - -50 derajat C, dan biasanya digunakan di institut forensik terutama jika badan belum diidentifikasi. Pada suhu ini tubuh benar-benar beku.
Kamar mayat yang kami kunjungi, bukan kamar mayat seperti di rumah sakit-rumah sakit. Tapi kamar mayat buatan yang dihadirkan di sebuah kompleks pertokoan terkenal di kota Solo. Kamar mayat ini konon menampilkan hantu-hantu buatan yang dibuat menjadi nyata. Jadi kalau kalian berkunjung ke kamar mayat, ada perasaan ngeri-ngeri gimana gitu. 
Di zaman modern ini, hal-hal yang berbau gaib seolah diperdagangkan. Dibuat nyata dengan cara divisualisaikan sehingga bisa diterima indera manusia. Yups, taruhlah kamar mayat ini yang merupakan representasi dari hal-hal tak kasat mata. kehadirannya samar-samar dan hanya orang tertentu yang bisa melihat. Tapi kamar mayat ini, dihadirkan secara nyata agar bisa dilihat oleh mata penampakannya, dilihat oleh telinga suaranya dan bisa disentuh dan diraba.
Dunia modern menghadirkan kenyataan dalam bentuk lain, dalam bentuk yang tak pernah diduga oleh orang kebanyakan. Kenyataan itulah yang dimanfaatkan oleh segelintir orang yang meraup keuntungan dari tiket masuk yang di tarif oleh petugas tiket untuk bisa merasakan sensasi. Banyak kita temui hal yang sama di tempat hiburan di tanah air, dimana kamar mayat ada dengan nama yang lain. Tapi memiliki inti yang sama, yaitu menghadirkan hal-hal yang mungkin hanya beberapa orang yang bisa melihat seperti anak indigo, kemudian dihadirkan secara nyata agar orang awam bisa melihatnya.
Apa yang disebut makhluk tak kasat mata, yang hampir tak bisa dirasakan oleh manusia, kini divisualisasikan oleh seseorang sebagai hantu gentayangan, ratapan dan suara dihadirkan secara lebih relevan, lebih menyedihkan, lebih menyakitkan dan lebih rapat dalam rintihan. Itu intinya, kamar mayat yang mungkin tak seseram seperti yang ada di kenyataan, dihadirkan dengan lebih seram dan mengerikan 
Hal ini didukung oleh pengeras suara maupun pencahayaan yang semakin menambah kesan seram dan kesan mistis, sehingga siapapun yang melihat dan mendengarkan akan bergidik takut. Jeritan demi jeritan membahana dan menyayat hati sesiapa yang datang ke ruangan ini. dari lorong ke lorong akan semakin takut dan semakin menambah kengerian untuk melewatinya. 
Hal-hal yang tak kasat mata dihadirkan sebagai representasi bahwa “apa sih yang gak bisa ada di dunia ini?”, atau pertanyaan yang lainnya, “Apa sih yang gak bisa kamu lihat dan kamu rasakan, toh kamu bisa melihat hantu, dengan membayar tiketnya”. Hal-hal yang tak aksat mata dihadirkan dalam keriuhan, di tengah mall, dan di tengah kota. 
Dunia modern sekarang menghadirkan banyak hal instan, pengalaman-pengalaman yang tak seharusnya dengan mudah dilihat dan dirasakan dibuat seolah olah ada dan bisa dijangkau secara cepat. Hantu yang ibaratnya tak terlihat kini dengan mudah diidentifikasi dengan suster ngesot, dengan si manis jembatan ancol, dengan hantu jeruk purut. Suara-suara yang tak biasa dihadirkan pula dengan bantuan pengeras suara yang semakin menambah keriuhan. Bau yang tak biasa ada dihadirkan dengan menyan, minyak melati dan bau bauan lain hingga menambah rasa takut. 
Berpose kekinian di depan kamar mayat. Copyright by: Niken Bayu Argaheni

Dunia modern semakin membawa kita menuju ruang-ruang yang riuh, tanpa sedikit menoleh bahwa dunia tak kasat mata itu bukanlah dunia yang bisa ditertawakan, bukan dunia yang semudah kita membayar tiket lalu kita bisa melihat hantu.  Dunia yang seharusnya ada dalam sunyi, dalam sepi dan tak teraba telah hadir dengan riuh dan tepuk tangan manusia. Dunia yang tak main-main itu, mmebuat kita bertanya lagi, “Apakah wajar pertunjukan seperti itu?”


Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712