Malam Sadis Bersama Cerita Mistis


Malam itu tak seperti malam sebelumnya karena ada pekerjaan rumah yang harus kuselesaikan di rumah Riyan. Terpaksa aku mengerjakannya sampai larut malam. Setelah selesai, segera aku pamitan pada keluarga Riyan. Padahal waktu sudah menunjukkan larut malam. Dengan menaiki sepeda, kukayuh pelan menelusuri jalan setapak yang rusak ini. Ban sepedaku menghantam bebatuan jalanan, karena jalan kecil inilah jalan satu-satunya agar aku sampai rumah. Jarak yang kutempuh cukup jauh, sekitar sepuluh menit. Saat itu kebetulan hari bulan mati, jadi suasana gelap gulita.Karena jalan ini memang gelap karena tak ada lampu yang menyinari sekitarnya, terpaksa kukayuh sepedaku pelan karena takut menabrak orang. 

ilustrasi cerita gambar oleh: Niken Bayu Argaheni

Kuingat lagi bahwa ini adalah malam Jum’at kliwon, tak ada teman ngobrol sepanjang perjalananku. Kuingat-ingat lagi hal-hal lain yang menyenangkan dan yang mengasyikkan, akan tetapi pikiranku selalu saja mengarah pada misteri ataupun mitos yang beredar ketika aku menelusuri jalan ini. Orang-orang di sekitarku menyebut jalan ini sebagai jalan Kebangkitan. Konon katanya, dahulu ada seorang gadis muda yang bunuh diri di sini menggunakan tali, sehingga arwahnya menjadi gentayangan. Itulah kenapa jalan ini disebut jalan Kebangkitan, sebab seolah-olah gadis muda itu bangkit kembali ke dunia manusia. Kata orang-orang, gadis muda itu sering dilihat orang dengan memakai pakaian putih dan menyeret kakinya jika berjalan di sekitar pohon besar di depanku itu. Ah, aku berusaha menjauhkan pikiran burukku dan berpikiran baik.
“Sssss…”
Kudengar bunyi yang tidak asing lagi dari bawah sepeda. Ternyata sepedaku bannya bocor. Sial sekali malam ini, terpaksa aku harus menuntun sepedaku sampai kutemukan tambal ban terdekat.
Aku berjalan lagi dengan gontai dan memasang telinga maupun mata agar selalu waspada. Agak jauh terdengar suara kresek-kresek dan nafas ngos-ngos. Aku sempat terdiam sejenak karena debar jantung sudah tidak karuan seperti gunung mau meletus. Setelah agak lama terdiam suara itupun tetap tidak menghilang dan kupaksakan diri untuk melanjutkan langkah kaki.
“Kresek-kresek…”
Suara itu semakin keras terdengar dan sorot sinar sebesar kelereng pun terlihat didepanku. Pikiranku menyeruak mengingat kembali cerita dari tetanggaku tentang hantu di daerah ini. Aku menduga, dia pasti ada di balik pohon besar itu dan sedang berjalan menyeret kakinya.
“Sreeet…” Aku terkejut dan langsung berlari sekuat-kuatnya sambil membawa sepeda.
Lalu apa yang terjadi? Aku malah  jatuh babak belur terantuk batu. Dan suara teriakan anjingpun membelah sepinya malam. Ternyata yang kudengar, lihat dan tabrak adalah anjing yang sedang asik mencari makanan di tengah kegelapan jalan yang kulewati.
Maka anjing itupun berteriak sejadi-jadinya… “Kaing, kaing, kaing…”
Selanjutnya sepi…  hanya aku yang merintih menahan sakit karena kedua kaki dan daguku babak belur.

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712