Sebuah Surat


Aku adalah sungai, mengalir pelan dari mata air, jauh dari pucuk gunung sana. Perkenalkan, namaku Irrawaddy. Aku membelah daerah sebuah negara. Ya, kalian pasti tahu darimana aku berasal. Tiap hari, seperti inilah kegiatanku, muncul dari sebuah bukit, lalu mengalir pelan dengan gemericik, sesekali melirik sebuah pemukiman di utara Rakhine, yang sampai saat ini banyak orang yang telah mengungsi ke Bangladesh atau Thailand. Aku tak pernah berhenti mengalir dari atas ke pemukiman bawah. Dan kali ini, aku ingin menyampaikan padamu tentang sebuah kertas yang kutemukan pada saat aku melewati pemukiman. Kalian tahu sendiri, orang-orang menyebut negara ini sebagai negara “seribu pagoda”. Ah, itu hanyalah symbol keagungan bangunan. Entah hati mereka, aku tak bisa menebaknya. Aku tak tahu lagi bagaimana cara untuk menyatukan orang-orang disini. Aku selalu melanglang buana ke segala penjuru negara ini tiap kali mata air mengucurkan airnya, memenuhi kebutuhan banyak orang disini. Namun, mereka tak pernah bisa berdamai dengan tetangganya masing-masing.

ilustrasi oleh: Niken Bayu Argaheni

 Ah, padahal mereka sering menggunakan air yang sama, dariku. Mereka memasak dengan air dariku, juga kegiatan lain seperti mencuci piring, mandi dan sebagainya. Namun mereka seperti tak pernah tahu bagaimana untuk mensucikan hati mereka, agar mereka tak saling berkelahi dan saling hantam sendiri. Sering, di delta ini aku berputar-putar pelan, sembari menyaksikan anak-anak yang bermain di sekitarku, yang riang gembira hatinya mencari kebahagiaan, bermain bersama. Betapa bersih pemikiran bocah-bocah itu, yang melewati masa kanak riang. Aku menemukan sebuah cerminan yang bersih dari mereka: anak-anak itu. Anak-anak yang tak mempermasalahkan perbedaan. Ah, orang-orang yang sedang melakukan kekerasan itu seharusnya perlu belajar pada anak-anak itu. Pernahkah mereka saling memahami ketika sebuah musibah berupa topan yang menerjang wilayah delta ini, di suatu Sabtu, sebelum memorakporandakan Yangon dengan banyak korban jiwa? Mestinya tak ada lagi embel-embel tentang apakah keyakinan korban itu merah, putih, kuning hijau ataupun warna lainnya. Mestinya sebuah musibah cukup menyadarkan bahwa mereka semua sama, tak dibedakan dalam bentuk penampakan rupa maupun keyakinan hati…
Mengapa manusia tak pernah belajar untuk memaafkan? Memaafkan seperti airku yang selalu membasuh wajah mereka, yang mereka gunakan untuk segala macam keperluan. Bukankah memaafkan itu indah? Nantinya mereka akan bisa melihat perasaan damai yang bersemayam, yang saling merangkul yang lain. Sekarang, mereka saling berkelahi, sebab beberapa orang  mengaku sebagai pemilik tanah dari orang lainnya, merasa sebagai penjajah atas saudaranya sendiri. Padahal bumi itu sama, bumi itu milik manusia yang bisa merawatnya, bukan milik golongan minoritas atau mayoritas. Bumi itu bebas, seperti juga tanah. Tanah hanyalah tempat berpijak sementara bagi manusia, siapapun dia, darimanapun dia berasal. Ah, kertas ini membuatku semakin membuncah, kertas bergambarkan lima orang yang saling bergandengan tangan. Entah kapan hal itu bisa terwujud disini.


Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712