Tentang Sepotong Cokelat di Senja Kemarin
Kuserahkan sebuah cokelat pada perempuan cantik itu. Perempuan yang
selalu tersenyum seperti bulan. Dan ia akhir-akhir ini membuatku berdegup
kencang ketika aku memandangnya. Ia mengucapkan terimakasih padaku ketika aku
memberikannya sepotong cokelat, sambil berujar pelan, “Kau mungkin tak pernah
tahu darimana sebuah makanan semacam cokelat itu berasal. Seperti sebuah cokelat
yang sedang kau bawa sekarang. Akan kukisahkan padamu mengenai perjalanan
sepotong cokelat sampai di tanganmu, dimulai dari seorang anak yang dibayar
cuma-cuma. Di zaman yang serba maju ini mungkin kau mengira perbudakan hanyalah
cerita lama yang tidak akan pernah kau temukan lagi. Itu salah besar.
Perbudakan memang pernah ada, tapi sampai sekarang masih tetap ada. Budak-budak
anak bekerja untuk menghasilkan cokelat-cokelat lezat, mewah, dan mahal, tapi
mereka sendiri bahkan belum pernah mencicipi hasil keringat mereka itu.
![]() |
| Ilustrasi Tentang Sepotong Cokelat di Senja Kemarin oleh : Niken Bayu Argaheni |
Anak-anak itu menjadi korban perdagangan manusia. Mereka diwajibkan
bekerja 100 jam seminggu dan akan dihukum fisik jika lamban atau mencoba
melarikan diri. Memilih kakao-kakao yang sudah masak, memetik dan mengupasnya
dengan parang, dan pekerjaan berat lainnya dibebankan ke mereka. Tidak semua
anak diperdagangkan dengan sepengetahuan orang tua mereka. Banyak diantaranya
yang langsung diambil atau diajak oleh pencari anak ketika mereka bertemu di
jalan. Anak-anak tersebut berasal dari negara-negara kecil. Mereka adalah
laki-laki dan perempuan yang berusia 7-15 tahun. Satu anak dibeli setidaknya
seharga 230 Euro oleh pemilik perkebunan. Biaya ini digunakan untuk
pengangkutan dan penggunaan anak tersebut tanpa batas waktu. Mereka bekerja
dengan bekal parang untuk memetik coklat yang sudah matang dan ditemani oleh
satu atau dua orang dewasa untuk membawa hasil petikan. Tidak sedikit anak yang
berusaha melarikan diri dari perkebunan, tapi tidak banyak yang berhasil. Kalau
mereka menolak bekerja atau bekerja dengan lamban, pukulan akan diberikan.”
“Lalu, kau manerima cokelat dariku atau membuangnya?” tanyaku.
“Sebentar. Akan kulanjutkan lagi penjelasanku. Bagaimana cara
mengetahui cokelat-cokelat yang ada di hadapan kita hasil keringat anak-anak
malang itu atau bukan? Entahlah, tidak ada yang pernah tahu karena mencari
sumber kakao sama dengan mustahil. Mereka yang ada di balik perbudakan anak,
mulai dari petani, pedagang grosir, sampai eksportir, menutup rapat fakta ini
dengan segala cara, salah satunya menambah jumlah perantara sampai biji-biji
kakao itu berubah jadi cokelat.”
“Bukankah tiap tahun kesepakatan mengenai penghapusan perbudakan terus
dibuat?” tanyaku lagi.
“Betul, tapi sampai sekarang tidak ada keputusan pasti, apalagi
realisasi penghentian perbudakan. Cokelat yang konon jadi simbol cinta justru
asalnya dari tempat yang sama sekali tidak mengenal belas kasihan.”
Dan kali ini, aku mulai menarik cokelat yang ada di tangannya. “Kau
masih tetap menerimanya atau membuangnya?”
Ia menatapku dengan tatapan emasnya. “Aku akan tetap menerima
cokelatmu, tapi aku akan berusaha melakukan sesuatu untuk menolong anak-anak
itu. Aku bercita-cita menjadi wartawan. Dan aku ingin mengungkapkan fakta ini
dengan gamblang.”

Comments
Post a Comment