Tangan Dan Ramalan Masa Depan


Seperti apa manusia tanpa tangan? Manusia dengan segala kodratnya, yang berindra dan melakukan segala tugasnya dengan gerak tubuh –termasuk tangan dan kaki- adalah spesies mamalia yang memfungsikan kemampuan tangan dan kaki, untuk melakukan berbagai macam tugas dan melakukan fungsi etika. Tugas dalam hal ini adalah kemampuan menggerakkan tubuh dan ekstremitas untuk memaksimalkan gerak langksah dan kerja, melakukan berbagai aktivitas seperti menulis, membaca dan berbagai macam aktivitas lainnya. Sedangkan fungsi yang kedua adalah, tangan yang menyokong tubuh untuk melakukan gerak sebagai fungsi etika di masyarakat, yang mana dalam hal ini, sebagian besar kemampuan mengutarakan ekspresi dalam kemasyarakatan, maupun pergaulan sosial sebagai wadah untuk menjembatani kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

Ilustrasi masa depan oleh Niken bayu Argaheni


            Selain kedua fungsi tersebut, tangan juga memiliki fungsi simbolis. Simbolis disini berarti bahwa, tangan tidak hanya sebagai pelaku, akan tetapi ia juga sebagai obyek visualisasi diri maupun visualisasi mode. Visualisasi disini diartikan sebgai, pembentukan terus menerus kegiaytan yang dilakukan oleh tangan, sehingga tangan sendiri menjadi berbentuk tangan yang merepresentasikan pekerjaan seperti apa yang kita kerjakan. Misalkan saja, tangan seorang pandai besi. Mau tidak mau, pekerjaan sebagai pandai besi bisa terlihat oleh tangannya yang kasar –meski tidak semua tangan pandai besi terlihat kasar-. Atau seperti sebuah dongeng mengenai seorang pangeran yang mencari putri bertangan halus, -meski halus dalam hal ini adalah seorang putri yang bertangan cekatan, bisa menyulam dan memasak makanan yang lezat, dan melakukan berbagai tugas rumah tangga dengan baik-.
            Tangan sebagi obyek mode, ada bermacam-macam bentuknya. Simbolisasi itu terlihat pada maraknya salon untuk menghias tangan, dari pedicure dan manicure, yang biasanya diminati oleh kaum hawa. Ritual membersihkan tangan dan merawat kuku-kuku jari –tangan maupun kaki- lalu ditambah lagi dengan program menghias kuku jari dengan berbagai cat kuku maupun menempelinya dengan kuku panjang imitasi dengan berbagai warna, bentuk maupun rupa. Sedangkan contoh lagi yang lainnya adalah, program waxing, yaitu menghilangkan bulu-bulu tangan dan kaki dengan semacam  obat atau ramuan, sehingga bulu-bulu di tangan maupun bisa bersih, atau dengan kata lain, hal ini tidak ada bedanya dengan mencabuti bulu di tangan maupun kaki yang lebih popular di era sekarang ini karena dilakukan oleh professional di bidangnya. Visualisasi lain adalah, tangan yang menyimbolkan suatu kebudayaan tertentu. Seperti tangan pengantin India, yang dihias dengan gambar hingga memenuhi seluruh permukaan punggung tangan. Dan hal itu diikuti budaya lama yang sekarang popular, yaitu mentato tangan.
            Simbolisasi berikutnya adalah mengenai garis tangan. Ritual melihat garis tangan –meramal, red- sudah ada sejak jaman sebelum manusia mengenal tulisan. Meskipun tidak setenar ilmu horoskop, dimana manusia meramal masa depan menggunakan ilu perbintangan dan dulan lahir maupun tarot, yang menggunakan kartu untuk mengetahui masa depan atau jalan hidup seseorang, akan tetapi ilmu melihat tangan tersebut sudah tenar di kalangan masyarakat, yang meramal kejadian dari tekstur garis tangannya, apakah putus-putus ataukah nyambung. Dan dilihat pula lengkungan dari garis tersebut apakah ruwet atau jelas.
            Sebelum manusia mengenal tulisan, manusia-manusia gua yang pada saat itu hidup di jaman megalithicum, mencitrakan eksistensi dirinya lewat cat ataupun pewarna yang digambar di dinding gua. Tanda tersebut abadi sampai kini, dan menjadi titik tolak dari pertanyaan manusia sekarang, karena dari gambar dan cap tangan tersebut diperoleh gambaran maupun keadaan dan symbol yang ditulis, meskipun pada akhirnya manusia sekarang, hanya bisa mendokumentasikan –tidak lebih- karena manusia pada dasarnya tidak bisa menentukan secara pasti, maksud dan tujuan kepenulisan tersebut dan hanya bisa mengira-ngira.
            Bukti-bukti dari masa lalu tersebut, secara implisit bahwa tangan –dalam artian disini telapak tangan- menyimpan simbol yang berpengaruh, melebihi punggung tangan. Karena telapak tangan memiliki garis yang berbeda di tiap manusia, jadi manusia dengan segala rasa keingintahuannya yang begitu besar menduga dan mengira-ngira sendiri mengenai masa depan yang tersimpan dan yang tergenggam, mulai dari jodoh, rejeki maupun maut. Manusia di era sekarang ini meskipun lebih praktis dalam menyikapi ramalan dan sebagainya, akan tetapi ramalan di telapak tangan memiliki keunikan sendiri, karena mau tak mau, pola-pola yang ada di telapak tangan itu beberapa hal ada yang memiliki kesamaan, dari manapun negaranya, rasnya maupun bentuk fisiknya. Yang perlu diingat adalah, apapun ramalannya, jelek maupun baik, manusia harus tetap optimis. Sebab, tangan hanya symbol. Selebihnya terserah manusia bagaimana manusia membalikkan telapak tangan menjadi nasib baik. Semoga.

Comments

Popular posts from this blog

Dikacangin Sama Penerbit Indie

Indonesia Darurat Kekerasan Anak

Mruput Jakarta 712